Editorial

Paus Fransiscus saat menerima cinderamata dari Presiden Bolivia Evo Morales. Cinderamata itu berupa salib-palu-arit, (Ist)Paus Fransiscus saat menerima cinderamata dari Presiden Bolivia Evo Morales. Cinderamata itu berupa salib-palu-arit, (Ist)Petang itu ada obrolan di warung dengan sambil nongkrong ngopi-ngopi dengan Idaman Andarmosoko, seorang kawan baru. Bermula dari obrolan tentang Bank yang bisa meminta maaf soal saldo anda tidak mencukupi untuk transaksi ini sampai provider telpon meminta maaf soal sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk panggilan ini.

Walaupun baru kenal beberapa bulan, Idaman bukan orang asing dikalangan aktivis gerakan dan LSM. Namanya sudah terdengar dari kawan-kawan aktivis dari Yogyakarta sampai Jakarta sebagai orang yang suka membantu kawan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai “jiwa yang terkurung dalam raga ganteng” dan bekerja sebagai tehnisi IT.

Percakapan lalu mengalir begitu saja namun berkesan. Seperti biasa, Idaman akan menjelaskan dengan detil, luas dan lengkap data referensi. Diberbagai media memang sedang ramai perdebatan soal wacana “maaf”. Kata yang enak didengar dan diucap dibulan Ramadhan, namun susah diejawantahkan.

Pada tahun 1980-1990-an,--demikian Idaman memulai menjelaskan,--- adalah bertepatan dengan 500 tahun datangnya Colombus ke benua Amerika. Dalam suasana itulah, pada tahun 1985 di Cusco, Peru, suku-suku Indian Amerika selatan secara resmi mengembalikan injil kepada  Paus Johannes Paulus II. 

Pengembalian Injil itu disertai dengan pernyataan:

"Kami kaum Suku Indian dari Andes dan Amerika, telah memutuskan untuk mengembalikan Injil ini kepada anda, karena selama 500 tahun terakhir kitab injil ini tidak memberi kami kasih, kedamaian maupun keadilan. Kami mohon ambillah injil ini dan kembalikan kepada kaum yang menindas kami, hati dan pikiran merekalah yang lebih membutuhkan ajaran kitab ini."

Harian The Telegraph 7 Februari 1985 menggambarkan peristiwa ini dengan Judul Pope Asked to Take Back the Bible.

Sejarah penderitaan Kaum Suku Indian sudah diketahui luas oleh masyarakat internasional dan terekam dalam berbagai penulisan sejarah. Semua mengakui bangsa Eropa datang ke Amerika menundukkan Suku Indian dengan membantai bahkan melakukan genosida sambil menyebarkan ajaran Injil. Edward L. Cleary and Timotht J Steigenga, dalam Resurgent Voices in Latin America: Indigenous Peoples, Political mobilization, and religious change, (Rutgers University Press, New Jersey, 2004) menyebutkan,--- setelah lebih dari 500 tahun marjinalisasi, 40 Juta orang Indian baru memperoleh pengakuan politik dan hak-hak sipil.

Beberapa tahun kemudian The New York Times melaporkan pada bulan Juli 2015, Paus yang lain, yaitu Paus Fransiscus datang ke perwakilan suku Indian di Amerika Latin. Kali ini, di Chiapas, Bolivia Paus meminta Maaf atas semua penderitaan suku Indian setelah kedatangan bangsa Eropa pada tahun 1492.

“Saya rasa akan betapa berharganya bila kita memeriksa hati nurani kita masing-masing dan belajar untuk mengatakan ‘maafkan saya,’” kata Paus Fransiscus daerah basis gerilyawan Zapatista yang memperjuangkan hak-hak suku Indian itu.

Gereja Katholik Roma telah menjadi  contoh dari perkembangan peradaban. Mungkin di masanya, Paus Johannes Paulus II masih kaget mendengar pandangan orang Indian terhadap masuknya agama Kristen di Amerika. Walaupun Mungkin ia memahami tapi ia belum siap menanggapi kata-kata kepala suku Indian pada tahun 1985.

Namun, setelah melewati tigapuluh tahun,  Paus yang baru, Paus Fransiscus datang memperingati masuknya Colombus dengan meminta maaf pada bangsa Indian. Gereja Khatolik yang memimpin perobahan beradaban dunia setelah kehancuran Kekaisaran Romawi, butuh waktu 523 tahun untuk mampu minta maaf pada bangsa Indian. 

Sebelumnya, pada tahun 2000, The Guadian melaporkan, Paus Johannes Paulus II atas nama Gereja Katholik juga sudah meminta maaf atas 2.000 tahun kekerasan dan dosa yang dilakukan Gereja Katholik kepada berbagai sekte bidah, kaum Yahudi, umat Islam, pengikut kristen protestan, kaum perempuan dan kaum Gipsy.

"Kami memaafkan dan kami meminta maaf. Kami meminta maaf atas perpecahan diantara orang-orang Kristen. Kami meminta maaf untuk semua kekerasan dalam pelayanan kami. Kami minta maaf atas ketidakpercayaan dan permusuhan terhadap pengikut agama lain,” demikian Paus Johannes Paulus II.

Entah mengapa, Idaman menolak mengomentari makna dan praktek maaf di Indonesia. (Web Warouw)

 

 

Add comment


Security code
Refresh