Editorial

JAKARTA- Sabtu (5/7) Siang itu, Mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD), Petrus Harjanto (43 tahun), terbaring di kamar 204, di sebuah klinik Hemodialisasi, Jakarta Selatan.  Jadwal cuci darahnya sudah 2 kali seminggu setiap hari rabu dan sabtu.

Darah merah mengalir keluar dan masuk lewat selang yang tertancap di leher kanannya. Siang itu Petrus ditemani Aan Rusdianto, salah satu  korban tim mawar, Kopassus dua orang kader perempuan PRD yang tidak mau disebut namanya,

“Baru kali ini ada kawan yang menemaniku cuci darah he he he,” mantan pemimpin penyanyi koor Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Ambarawa ini berucap pelan.

Ginjal mantan pimpinan  Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Semarang ini berfungsi tinggal 12 persen. Selain itu sejak muda dirinya sudah mengidap darah tinggi dan diabetes (kencing manis).

Di masa Orde Baru, Petrus Haryanto bersama beberapa mahasiswa di Universitas Diponogoro mempelopori pembangunan gerakan mahasiswa yang terkonsolidasi dalam organisasi Solidaritas Mahasiswa Semarang (SMS).

Seperti di kota-kota lain, kebangkitan mahasiswa di Semarang tidak terlepas dari gerakan turun ke rakyat. Tugas mahasiswa adalah membela kaum tani yang tanahnya di rampas dan membela kaum buruh yang ditindas oleh perusahaan yang rakus.

 

Deklarasi PRD

Pada 22 Juli 1996, PRD di deklarasikan sebagai partai dengan susunan pimpinan, Budiman Sujatmiko sebagai Ketua umum, Petrus sebagai Sekretaris Jenderal, Jakobus Eko Kurniawan Ketua Departemen Organisasi, I Gusti Anom Swastika sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda, Fransisca Ria Susanti memimpin Departemen Internasional dan Amber sebagai Bendahara.

Tidak semua undangan berani menghadiri Deklarasi Manifesto Politik PRD di kantor YLBHI siang itu. Beberapa tokoh nasional yang berani hadir diantaranya adalah Pramudya Ananta Toer, Mulyana W. Kusuma, Sri Bintang Pamungkas dan HJ Princen terlihat ditengah ratusan kader PRD. Maklum, PRD menuntut Penghapusan 5 Paket Undang-undang Politik dan Penghapusan Dwi Fungsi ABRI. Ketua Umum, Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jaker) WJ Thukul, sempat membacakan puisi-puisi perlawanannya.

Bersama Wilson, sejarawan muda dari Universitas Indonesia, Petrus memimpin aksi bersama antara PRD dan Fretelin (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente-Front Revolusioner Pembebasan Timor-timur) menerobos beberapa kedutaan besar asing di ibukota untuk menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Timor-timur (sekarang Timor Leste-red).  Aksi di kedutaan Inggris, Belanda, Perancis dan Rusia inilah yang menasionalkan perjuangan rakyat Timor-timur dan membangkitkan solidaritas internasional.

 

27 Juli 1996

Perlawanan terhadap pemerintahan Orde Baru memuncak dalam pengumpulan massa aksi di markas Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang berujung pada penyerbuan aparat TNI di Jalan Diponogoro pada 27 Juli 1996. Soeharto menuding PRD sebagai kebangkitan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) generasi ke IV. Pengejaran pada pimpinan-pimpinan PRD berujung penangkapan Budiman, Petrus Haryanto.

“Pemburuan kader PRD, penangkapan Pengurus Pusat PRD, dan Persidangan yang akan berlangsung adalah sebuah "senam politik" yang akan menguji kita.

Bila senam politik bisa kita lalui, maka PRD akan tampil lebih segar, lebih luwes dan lebih berotot, dengan stamina yang lebih kokoh, dengan kuda-kuda yang tidak gampang goyah" demikian surat Budiman Sudjatmiko, untuk para kader dari dalam penjara bulan Desember 1996.

Rejim Orde Baru lewat pengadilan 12 Desember mengggelar persidangan terhadap 14 kader PRD yaitu 11 orang di Jakarta dan 3 Orang di Surabaya. Mereka adalah Budiman Sudjatmiko (Ketua Umum), Petrus Haryanto (Sekretaris Jenderal),  I.G. Anom Swastika (Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda), Jakobus Eko Kurniawan (Ketua Departemen Organisasi), Dita Indah Sari (Ketua Umum Pusat Perjuangan Buruh Indonesia), Ignatius Pranowo (Sekjend. Pusat Perjuangan Buruh Indonesia)

Wilson (Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda Pusat Perjuangan Buruh Indonesia dan Ketua Solidaritas Perjuangan Rakyat Indonesia Untuk Maubere),

Garda Sembiring (Ketua SMID Cabang Jabotabek), Suroso (Sekretaris SMID Cabang Jabotabek), Ken Budha Kusumandharu (Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda SMID Cabang Jabotabek), Viktor da Costa (anggota SMID Cabang Jabotabek), Ignatius Putut Ariantoko (anggota SMID Cabang Purwokerto), Muhammad Sholeh (Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda SMID Cabang Surabaya), Coen Husein Pontoh (Ketua Departemen Pendidikan dan Propaganda Serikat Tani Nasional).

 

Subversif

Empat Belas kader PRD oleh rejim Orde Baru dikenakan tuduhan subversi lewat UU Subversi No. 11/PNPS/1963. Mereka dituntut dengan dakwaan berlapis. Pertama, dakwaan primer yaitu tentang memutarbalikkan, merongrong atau menyelewengkan Pancasila. Kedua, dakwaan subsider yaitu tentang menggulingkan, merusak atau merongrong kekuasaan negara. Ketiga, dakwaan lebih subsider yaitu tentang menyebarluaskan permusuhan, perpecahan, pertentangan, kekacauan, keguncangan atau kegelisahan di kalangan penduduk. Keempat, dakwaan lebih subsider lagi tentang permusuhan, kebencian atau penghianatan terhadap pemerintah.

Pimpinan PRD Bawah Tanah, Mirah Mahardika dalam rilisnya 12 Desember 1996 menjelaskan bahwa lewat undang-undang subversi, kader-kader yanf ditangkap diancam dengan pidana mati atau penjara seumur hidup, atau penjara selama-lamanya 20 tahun untuk dakwaan pertama sampai ketiga, serta ancaman maksimal 7 tahun untuk dakwaan keempat.

“Rejim Orde Baru menggunakan pasal-pasal subversi untuk memukul dan menghukum kekuatan pro demokrasi yang menuntut perubahan,” tegasnya saat itu.

 

Berdisiplin Kuat

Kembali ke Petrus Haryanto yang masih terbaring sakit. Bagi kawan-kawannya, Petrus dikenal sebagai organisator yang disiplin dan tegas. Karena Petrus yakin hanya dengan organisasi yang berdisiplin kuat, maka kediktaktoran bisa dikalahkan.

“Tubuhku mungkin sudah lemah. Tapi aku ingin bisa sembuh dan bangkit dan berjuang lagi. Karena kaum reformis sudah menyimpang terlalu jauh dan harus diluruskan. Caranya ya rakyat yang harus berkuasa. Bukan mereka para elit politik berwatak khianat,” tegasnya kepada Bergelora.com

Namun Petrus ingin pulang kampung dulu. Ia ingin mengunjungi ibunya yang juga sedang terbaring sakit di jaga adiknya di Ambarawa.

“Keluargaku mengira aku sudah lemah. Aku mau pulang dulu, supaya mereka tidak kuatir,” jelasnya.

Cuci darah masih tersisa 30 menit lagi. Kamipun pamit pulang dan janji akan datang lagi hari rabu depan.

Add comment


Security code
Refresh