Pendidikan

Seminar pengenalan Pendidikan Jarak Jauh dengan tema “Revitalisasi Perguruan Tinggi Dalam Era Digital dan MEA”, Kamis (11/1), berlokasi di kantor Kopertis Wilayah III HarukaEDU bekerja sama dengan Kopertis Wilayah III mengundang wakil dari Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta (Ist)

JAKARTA- Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi pada semua sektor kehidupan, maka semakin mudah pula kehidupan manusia. Salah satu sektor yang dipermudah dengan semakin berkembangnya teknologi adalah pendidikan. Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)  dengan E-learning juga merupakan jalan untuk merevitalisasi perguruan tinggi. HarukaEDU berharap dapat membantu PTS-PTS untuk menyelenggarakan kuliah dengan metode Blended Learning. Hal ini disampaikan oleh Gerald Ariff selaku co-founder HarukaEDU kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (22/1)

“Untuk meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saat ini bisa dengan menggunakan metode E-Learning atau disebut juga Pendidikan Jarak Jauh (PJJ),” ujarnya.

Ia menjelaskan, E-Learning atau Pendidikan Jarak Jauh sendiri adalah sebuah sistem pendidikan yang menggunakan teknologi informasi dan biasanya dilakukan secara jarak jauh.

“Saat ini, belum banyak universitas di Indonesia yang sudah mendapatkan izin dari Menristekdikti untuk menggelar prodi PJJ,” jelasnya.

Dr. Gerald Ariff, B.Eng (Hons).,MSc selaku co-founder HarukaEDU (Ist)

Untuk meningkatkan awareness para pendidik di Universitas terhadap kelebihan-kelebihan PJJ, pada hari Kamis 11 Januari 2018 kemarin, berlokasi di kantor Kopertis Wilayah III HarukaEDU bekerja sama dengan Kopertis Wilayah III mengundang wakil dari Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta untuk menghadiri seminar pengenalan Pendidikan Jarak Jauh dengan tema “Revitalisasi Perguruan Tinggi Dalam Era Digital dan MEA”.

Dihadiri oleh 110 peserta wakil dari 52 PTS di Jakarta, seminar ini menghadirkan pembicara-pembicara yang sudah berpengalaman dengan PJJ, Dr Illah Saillah, MS (coordinator Kopertis Wilayah III), Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls (Staf Ahli Bidang Akademik Menristekdikti) dan Dr. Gerald Ariff, B.Eng(Hons)., MSc (Chief Partnership Officer HarukaEDU) yang menyampaikan pengalaman dan pengetahuan masing-masing mengenai regulasi dan tata cara untuk membuka kelas PJJ.

Dr. Illah membuka seminar ini dengan memberi pengarahan mengenai Implementasi Standar Pendidikan Tinggi di Era Digital dan MEA. Sedangkan kebijakan PJJ dan E-Learning yang berbasis teknologi dibahas lebih mendalam oleh Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls dari sisi peraturan Menristekdikti. Pada sesi terakhir, Dr. Gerald Ariff, B.Eng(Hons), MSc membagikan poin penting dari PJJ dan memperkenalkan HarukaEDU yang siap membantu universitas dalam menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh melalui produk portal PINTARIA.COM.

Seminar pengenalan Pendidikan Jarak Jauh dengan tema “Revitalisasi Perguruan Tinggi Dalam Era Digital dan MEA”, Kamis (11/1), berlokasi di kantor Kopertis Wilayah III HarukaEDU bekerja sama dengan Kopertis Wilayah III mengundang wakil dari Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta (Ist)

Setelah seminar, sesi selanjutnya adalah sesi tanya jawab tentang PJJ dan bagaimana cara menyelenggarakannya. Semua pertanyaan-pertanyaan seputar PJJ, mulai dari cara pembuatan materi, proses belajar mengajar hingga ujian yang menentukan nilai untuk mahasiswanya dibahas secara tuntas pada sesi ini.

Tidak sampai situ saja, HarukaEDU menghadirkan testimoni dari mahasiswa kuliah metode Blended Learning yang saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Manajemen di universitas partner, UMJ dan juga testimoni dari partner yang sudah mendapatkan izin PJJ, LSPR Jakarta.

“Dengan adanya testimoni-testimoni tersebut, diharapkan PTS yang berkeinginan untuk menyelenggarakan kuliah dengan metode Blended Learning dapat lebih memahami syarat dan apa saja yang dibutuhkan,” demikian Gerald.

Ia menegaskan,  HarukaEDU juga memberikan kesempatan untuk para peserta seminar yang ingin mencoba mengoperasikan sistem LMS (Learning Management System) kami agar mendapat bayangan seperti apa kuliah metode Blended Learning tersebut. Melalui seminar ini, HarukaEDU berharap dapat membantu PTS-PTS untuk menyelenggarakan kuliah dengan metode Blended Learning. (Wisnu/Web Warouw)

 

Presiden Jokowi saat memberikan Orasi Ilmiah pada Upacara Dies Natalis ke-60 (1957-207) Unpad, di Grha Sanusi Hardjadinata, Bandung Jawa Barat, Senin (11/9) siang (Ist)

BANDUNG- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, negara-negara sekarang ini  bisa mengendalikan medianya tapi tidak bisa mengendalikan media sosial. Media mainstream bisa dikendalikan, tapi media sosial, tidak bisa. Kalau dia punya platform sendiri, iya mungkin bisa, tapi hampir semua negara tidak bisa mengendalikan ini.

“Semua menanyakan kepada saya. Yang deket-deket saja, Singapura, Malaysia, yang agak jauh, Iran, Presiden Ghani menyampaikan kepada saya. Saya juga kaget media sosial begitu sangat terbukanya dan semua nyampaikan secara terbuka apa adanya di media sosial,” ungkap Presiden Jokowi saat memberikan Orasi Ilmiah pada Upacara Dies Natalis ke-60 (1957-207) Universitas Padjadjaran (Unpad), di Grha Sanusi Hardjadinata,  Bandung Jawa Barat, Senin (11/9) siang.

Di kita juga sama. Menurut Presiden, yang jelek-jelek yang harus diantisipasi yang berkaitan dengan fitnah, mencela, menjelekkan, menyalahkan,  berita bohong. Inilah, tutur Presiden, yang harus dihentikan. Sehingga kita pakai media sosial itu untuk hal-hal positif. “Inilah yang harus kita arahkan,” ujarnya.

Kepala Negara mengemukakan, satu dua hari lalu dirinya dikomplainmengenai artis Raisa. “Pak Presiden ini satu lagi aset Indonesia lepas ke tangan asing, karena ternyata suaminya orang Australia,” ungkapnya.

Itu belum dijawab, menurut Presiden, sudah muncul lagi. “Pak ini satu lagi Pak aset Indonesia lari ke tangan asing. Siapa lagi ini? Itu Pak, Claudia Cyntia Bella dinikahi orang Malaysia,” kata Presiden seraya menambahkan, hal-hal seperti ini dulu tidak pernah disampaikan langsung ke Presiden. Tapi sekarang, bisa disampaikan langsung ke pemerintah.

“Inilah keterbukaan yang kita hadapi dan kita semuanya harus siap,” ujar Presiden Jokowi.

Harus Antisipasi

Presiden Jokowi menekankan, agar Universitas mengantisipasi keterbukaan yang disampaikan melalui media sosial (medsos). Caranya, dengan menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk bersaturang, dan bersaing dalam kompetisi.

Presiden lantas menceritakannya pengalamannya bertemu dengan mantan Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, yang terpaksa lengser karena kalah dalam referendum soal Brexit (British Exit) dari Uni Eropa.

Menurut Presiden, saat referendum soal Brexit itu, Pemerintahan PM Cameron kalah, ternyata karena media sosial mempengaruhi. Demikian juga saat Pemilihan Presiden di Amerika Serikat, dimana semua medsos katakan Hillary unggul atas Trump, namun akhirnya juga berubah.

“Inilah yang mestinya Unpad memiliki fakultas medsos, jurusannya meme. Kenapa tidak? Animasi, kenapa tidak? Ke depan itu nanti yang akan kita hadapi,” tutur Presiden seraya menambahkan, sebagai agen perubahan Universitas harusnya mengantisipasi perubahan-perubahan itu.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, tampak hadir dalam Dies Natalis ke-60 Universitas Padjadjaran, di antaranya Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menkominfo Rudiantara, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Rektor Universitas Padjadjaran Try Hanggono Ahmad, Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar, dan civitas akademika Universitas Padjajaran Bandung. (Martinus Ursia) 

 

Presiden Jokowi menyalami Rektor Unpad Try Hanggono Ahmad, saat menghadiri Dies Natalis Universitas Padjajaran ke-60, di Bandung, Jabar, Senin (11/9) siang. (Ist)

BANDUNG- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, yang paling siap menghadapi perubahan global yang sangat cepat adalah perguruan tinggi atau universitas. Karena itu, Presiden berharap perguruan tinggi di tanah air, termasuk Universitas Padjajaran ikut mengantisipasi hal-hal berkaitan dengan perubahan-perubahan yang sangat cepat itu.

“Sekarang karena perubahan-perubahan itu, mall dan toko sudah 30 persen tutup, karena pembeliannya dengann online.  Artinya berapa tenaga kerja yang menganggur? Karena pesan online datang, tidak perlu pergi ke toko, lebih murah,  cepat,” kata Presiden Jokowi saat memberikan orasi ilmiah pada Upacara  Dies Natalis ke-60 (1957-207) Universitas Padjadjaran, di Grha Sanusi Hardjadinata,  Bandung Jawa Barat, Senin (11/9) siang.

Apa antisiapasi yg harus disiapkan? Menurut Presiden, kita harus berani berubah. Ia menyindir, bertahun-tahun, universitas-universitas kita fakultasnya, juga tidak berubah. Fakultas ekonomi jurusannya pasti manajemen, pembangunan, akuntansi.

Padahal yang diperlukan sekarang, menurut Presiden, mestinya kita berani mengubah fakultas ekonomi jadi misalnya fakultas atau jurusan logistik manajemen, retail menajemen, toko online atau online store. Karena memang dunia sudah berubah.

“Ini yang harus kita antisipasi. Kalau tidak, kalah kita kompetisi dengan negara-negara lain,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden mempertanyakan, hal-hal yang berkaitan dengan social media sekarang ini,  kenapa tidak ada fakultasnya? Karena ini menurutnya akan mempengaruhi nantinya yang berkaitan dengan sosial politik.  Karena interaksi individu dengan individu, orang dengan orang sekarang maunya lewat sosial media.

Sebentar lagi, 5-10 tahun mendatang, lanjut Presiden, yang namanya generasi Y, generasi milenial itulah nanti yang akan men-drive perubahan itu. Mereka yang akan menentukan pasar, mereka yang akan memengaruhi politik, mempengaruhi  ekonomi.

“Semua negara sudah membicarakan itu. Kita juga harus menyiapkan menuju ke arah itu,” tutur Presiden.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Dies Natalis ke-60 Universitas Padjadjaran itu dihadiri antara lain  Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menkominfo Rudiantara, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Rektor Universitas Padjadjaran Try Hanggono Ahmad, dan Wakil Gubernur Jawa Barat Dedy Mizwar. (Martinus Ursia)