Pendidikan
Mendikbud Nadiem Makarim. (Ist)

JAKARTA- Pada kurun 90an ada trend yang memikat perhatian orangtua dan anak-anak dalam memilih sekolah menengah atas (SMA). SMA/SMU waktu itu gencar membangun keterampilan mengoperasikan komputer dengan menawarkan program olah kata WordStar, serupa MS Words sekarang, sebagai pengganti mesin ketik dan Excel sebagai alat penghitung canggih pengganti kalkulator.

Bukan oleh peran substitusinya program itu layak disebut canggih, tetapi karena semua data yang ditulis mulai bisa disimpan dalam disket atau flash disk yang sangat praktis dan fungsional. Bayangkan sebelumnya, semua data adalah dokumen cetak. Makin banyak dokumen yang disimpan, makin besar pula ruangan yang dibutuhkan untuk menyimpan semua dokumen yang ada.

Meski internet waktu itu sudah ditemukan sebagai pengembangan lanjut dari komputer, tetapi sebagai alat yang lazim digunakan masyarakat masih belum populer di Indonesia. Selain masih sangat mahal, juga rigid. Tetapi, sebagai pintu masuk menguasai internet, penguasaan komputer sangat penting artinya.

Trend pemikat kedua adalah keterampilan bercakap Bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi dunia. Semua informasi baik ilmu pengetahuan maupun teknologi (iptek) disajikan hampir seluruhnya dalam bahasa Inggris. Dengan asumsi sumber-sumber temuan dan pengembangan iptek berasal dari Barat yang hampir semua berbahasa Inggris, menguasai Bahasa Inggris adalah jendela dunia untuk menguasai iptek.

Menguasai keduanya, yakni komputer dan bercakap Bahasa Inggris, memiliki peluang cukup besar diterima di perusahaan dengan cukup terhormat. Terhormat artinya bergaji besar. Karena itu, pada kurun itu banyak sekolah sibuk membangun brand melalui dua program itu agar memiliki diferensiasi sekolah unggul.

Tetapi, setelah semua informasi, iptek dan segala aplikasi tersedia di ruang virtual publik dan bisa diunduh secara bebas oleh siswa kapan pun, kini keduanya tidak lagi menjadi variabel diferensiasi. Bahkan anak-anak hari ini tanpa belajar komputer dan bahasa Inggris secara khusus sudah bisa menguasai, karena banyaknya sumber open source plus pergaulan sosmed yang memungkinkan mereka mahir dengan sendirinya.

Bidang komputer lalu berkembang ke disain grafis, jaringan, IT, dan segala macam derivasinya. Ia tidak cukup berdiri sendiri sebagai faktor diferensiasi, melainkan berkolaborasi dengan bidang-bidang lain. Bahasa Inggris juga demikian, ia tak dipelajari hanya sebatas grammer dan conversation juga sebagai pengetahuan sastra dan teknik bahkan berkembang ke bahasa lain antara lain Mandarin.

Tetapi, pada prakteknya pengembangan spesifik itu baru tersedia di perguruan tinggi dan tidak dikembangkan di SMA/SMU. Sekolah menengah atas, karena masih disibukkan "lomba" menguasai mata pelajaran inti UN (ujian nasional), membuat tak cukup waktu mengembangkan kedua bidang itu secara spesifik, apalagi mengembangkan bidang-bidang lain.

Kembali akhirnya SMA/SMU menjadi sekolah sangat umum dan tak menyediakan cukup pengembangan bagi yang memiliki bakat dan minat khusus. Apakah siswa yang memiliki bakat dan minat khusus sebaiknya memilih SMK? Problemnya tidak semua SMK menyediakan bidang khusus sesuai diversifikasi minat yang dimiliki siswa. Terbukti di ruang publik hari ini spesifikasi bidang yang digeluti siswa diperoleh justru bukan dari tempat ia sekolah, melainkan hasil interaksi dengan kelompok minat dan dari berbagai sumber virtual open source yang mereka serap.

Lalu apa faktor pembeda unggul (differentiative advantage) SMA/SMU yang bisa ditawarkan kepada publik dalam situasi seperti ini? Sambil menyiapkan momentum UN yang akan dihapus mulai tahun 2021, sekolah setidaknya bisa melakukan dua hal.

Pertama, SMA/SMU selayaknya mulai memiliki visi ke pengembangan bakat dan minat (BM) siswa. Sekolah harus memiliki kecakapan alat dan fasilitas pengembangan BM bahkan sejak pertama kali siswa masuk sekolah. Semacam pemetaan potensial BM siswa. Dengan tetap memerhatikan jurusan yang ada, siswa bisa mengembangkan diri dan kalau perlu tak terlalu disibukkan dengan target mata pelajaran yang tak mereka minati. Matematika, misalnya, jika siswa tak menyukainya dan tak terlalu berhubungan dengan minatnya, ia cukup dipelajari sebagai berhitung. Demikian sebaliknya.

Kata kuncinya membangun suasana kegemaran mengembangkan BM di sekolah dengan menyusun program dan atau performa dalam skala semester, mendorong mereka melalui event apresiasi karya, baik individu maupun kelompok, dan membangun kelompok minat di sekolahnya.

Demikian peran guru, ia bukan lagi sumber utama pengetahuan dan kebenaran sebagaimana paradigma lama, melainkan sebagai pendamping dan fasilitator. Dalam minat, tidak ada lagi guru sebagai selamanya guru. Seperti sebaliknya, tidak ada murid sebagai selamanya murid. Guru dan murid bisa saling berbagi peran dan posisi.

Kedua, kemerdekaan belajar dan berekspresi. Makin merdeka suasana belajar dan bermain-main yang diciptakan di sekolah, makin luas kemerdekaan anak untuk mengekspresikan apa yang paling mereka minati. Sekolah berubah menjadi tempat siswa berkarya dengan suasana serba gembira tanpa tekanan, karena merdekanya mereka dalam belajar dan berekspresi.

Kedua langkah itu ke depan akan menjadi trend paling diminati oleh orangtua dan siswa. Mereka tak suka dengan situasi rutinitas yang menjemukan dan berhenti menguasai suatu bidang hanya sebagai hafalan, melainkan yang bisa dikonversi menjadi skill dan profesi sesuai minat dan hobi yang mereka gemari.

Sebelum mengambil keputusan ini, Anda boleh saja melakukan survei kecil-kecilan kepada orangtua dan siswa atau calon siswa (kelas 3 SMP) tentang sekolah apa yang paling mereka harapkan. Kata kuncinya, jangan sampai Anda terlambat menangkap tanda-tanda jaman yang sedang bergerak sangat cepat. Selamat mencoba dan memasuki diferensiasi baru. (Hasan Aoni)

Add comment

Security code
Refresh