Ekonomi
Presiden Jokowi didampingi Menlu dan Mensesneg menerima Menlu Thailand Don Pramudwinai, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/3) siang. (Ist)

JAKARTA- Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno menerima kunjungan kehormatan dari Menlu Thailand Don Pramudwinai, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/3) siang.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Menlu Retno Marsudi mengemukakan, dalam pertemuan itu dibahas beberapa isu, di antaranya mengenai masalah bilateral, dimana tahun depan hubungan RI dan Thailand akan berusia 70 tahun.

Dalam kesempatan ini, Presiden Jokowi secara khusus juga menyampaikan isu terkait dengan harga karet dunia. “Karena Thailand, Indonesia, dan Malaysia kalau di gabung menjadi satu maka kita akan menjadi produsen karet yang paling besar di dunia,” ungkap Menlu.

Dengan semakin menurunnya harga karet dunia, Presiden Jokowi menyampaikan, bahwa tidak ada pilihan lain bagi ketiga negara tersebut untuk memperkuat kerja sama agar harga karet tidak terus turun.

“Tadi Menteri Luar Negeri thailand menyampaikan komitmennya mengenai kerja sama dalam konteks mencegah semakin menurunnya harga karet dunia,” kata Menlu.

Isu Bilateral

Di luar isu bilateral dan harga karet dunia, menurut Menlu, Presiden Jokowi juga menyampaikan dua hal dalam pertemuan dengan Menlu Thailand itu, pertama terkait dengan isu Rakhine State, yang kedua adalah kerja sama atau konsep kerja sama Indo Pasifik.

“Mengenai masalah Rakhine State, Presiden menyampaikan sekali lagi bahwa pentingnya keterlibatan ASEAN untuk membantu Myanmar di dalam mempersiapkan repatriasi yang sukarela, damai, dan bermartabat,” ungkap Menlu.

Menlu menjelaskan, hari ini adalah hari terakhir misi dari preliminary meet assessment team dari The ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) dan ASEAN Secretariat.

Jadi, lanjut Menlu, ASEAN sudah men-deploy preliminary team dari tanggal 4 Maret sampai 13 Maret. Hari ini, Menlu mengaku mendapatkan laporan dari lapangan sedang proses di-briefing di Myanmar dan setelah itu mereka akan kembali, salah satu anggota dan tim tersebut adalah dari Indonesia.

Setelah tim preliminary kembali, maka akan disusul dengan tim komprehensif yang akan tinggal di Myanmar lebih lama lagi. Menlu menegaskan, ini merupakan follow up dari keputusan ASEAN Summit di Singapura pada November tahun lalu.

“Indonesia yang menyampaikan inisiatif seperti ini, ditanggapi secara positif oleh negara ASEAN lain dan Myanmar juga membuka pintunya untuk ASEAN, jadi mudah-mudahan deployment untuk komprehensif meet assessment team akan dapat segera dilakukan,” ujar Menlu.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, mengenai masalah kerja sama Indo Pasifik, Menlu Retno Marsudi menyampaikan bahwa ini merupakan inisiatif dari Indonesia, tetapi inisiatif Indonesia yang disampaikan kepada ASEAN, sehingga akan menjadi inisiatif dari ASEAN, dan Thailand menunjukkan dukungan luar biasa terhadap pengembangan konsep ASEAN ini. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment

Security code
Refresh