Ekonomi
Mantan Menteri Perminyakan dimasa Orde Baru, Subroto. (Ist)t

JAKARTA- Sang begawan migas yang juga guru besar ilmu ekonomi Universitas Indonesia, Prof Dr Soebroto, buka suara soal kondisi energi dan migas RI saat ini.

Menurutnya, Indonesia sedang di tahap transisi menuju energi baru dan terbarukan dan meninggalkan bahan bakar fosil. Ini sesuai dengan kesepakatan global di mana pada 2030 bahan bakar berbasis fosil semestinya tak digunakan lagi, tetapi kenyataannya porsi energi baru masih di kisaran 9-12%.

Artinya, kata dia, energi masih dipenuhi oleh bahan bakar fossil. Ia sekaligus menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo soal kejayaan minyak yang sudah padam. Menurutnya, memang tidak bisa ditampik jika dilihat dari sisi produksi yang terus menurun. Namun kebutuhan yang masih besar harus tetap dicari solusinya.

"Kita sekarang ini harus realistis, cadangan ada, potensi ada. Tapi dibandingkan negara-negara lain dianggap kita tuh kurang berikan insentif. Dalam transisi period, tetap fossil fuel minyak utamanya dan gas masih besar, masih perlu banyak sekali insentif untuk tingkatkan akselerasi produksi," kata Subroto saat dijumpai di gelaran Konvensi IPA ke 43, Rabu (4/9).

Kepada Bergelora.com dilaporkan, menurutnya, untuk meningkatkannya perlu modal yang besar, sementara untuk memancing investor perlu iklim yang kondusif. "Insentif untuk eksplorasi, peraturan kita berubah-ubah, masih terlalu banyak hambatan perizinan. Banyak birokrasi, itu memang secara nyata kita harus akui."

Tapi, bagaimanapun, struktur pemerintahan juga perlu diperhatikan tak cuma pusat tapi juga sampai daerah yang berperan besar. "Ini perlu ada leadership yang kuat di dalam ESDM, sekarang ini masalahnya minyak itu membutuhkan sekali banyak kerja sama dengan Kementerian Keuangan, KLHK, dan sebagainya. Jadi harus ada seorang pimpinan yang mampu merangkul stakeholders," kata dia.

Ia juga memberi catatan tentang bagaimana industri migas dipandang selama ini, yakni cuma sebagai sumber pendapatan negara.

"Sekarang perlu dipahami, minyak bukan lagi sumber devisa tapi sumber pemberdayaan pembangunan. Jadi harus ada switch of mentak, dan jangan harapkan pendapatan dari minyak saja," ujarnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh