Ekonomi
Penangkapan ikan tradisional di laut oleh nelayan. (Ist)

JAKARTA- Untuk meningkatkan keberhasilan Menteri Kelautan dan Perikanan mengurangi pencurian ikan oleh nelayan asing di wilayah Indonesia, yang telah meningkatkan produksi sumber daya laut, Indonesia segera harus mengembangkan industri perikanan. Hal ini disampaikan Dr. Kurtubi, anggota DPR-RI dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) kepada Bergelora.com di Jakata, Jumat (20/9)

“Karena hampir semua pabrik dan industri bekerja 24 jam, maka yang kita harus segera bangun untuk melengkapi pembangkit yangyg sudah ada adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN),” ujarnya.

Industri berbasis perikanan ini bisa  menjadi  pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Baru. Pabrik dan industri ini membutuhkan listrik dari PLTN yang  stabil 24 jam,  bersih dari CO2 NOx SOx dan debu.

“Produksi ikan yang terus meningkat secara significant, seperti udang, kerang, mutiara dan lainnya membutuhkan PLTN untuk berkembang menjadi industri perikanan,” ujarnya.

Dengan adanya PLTN, Kurtubi memastikan sektor kelautan dan perikanan bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi, tidak hanya berputar-putar di angka sekitar lima koma, dibutuhkan dukungan kuat dari sektor energi.

“Ketersediaan  listrik yang cukup, handal, bersih dan dengan biaya listrik yang kompetitif pasti akan mempercepat pertumbuhan industri perikanan yang terintegrasi dari hulu penangkapan ikan oleh nelayan, hingga hilir yang memanfaatkan produksi sisi hulu.

Indonesia dengan demikian menurutnya dapat segera membangun industri tepung ikan, pengalengan ikan, packaging/pengawetan kuliner siap saji berbahan baku ikan dengan teknologi nuklir bukan dengan bahan kimia pengawet.

Kurtubi mengingatkan bahwa, PLTN semestinya segera menjadi bagian dari sistim kelistrikan nasional. Saat ini jumlah seluruh pembangkit PLN dan IPP baru hanya sekitar 65 GW.

“Maka kalau kita bercita-cita ditahun 2045 Indonesia sudah menjadi negara industri maju, maka kita harus segera membangun pembangkit listrik baru sekitar 240 GW,” ujarnya.

Jika 10% dari tambahan kebutuhan ini dipenuhi oleh PLTN, maka kita harus bangun sekitar 12 GW.  Selebihnya tetap diisi dan dibangun pembangkit dari batubara karena kita punya batubara share batubara dalam Energy Mix yang harus kita kurangi dari saat ini yang mencapai sekitar 60%. 

“Bangsa besar ini akan terjebak menjadi bangsa klas menengah seterusnya (middle income trap), jika pertumbuhan ekonomi tidak bisa ditingkatkan. Untuk itu industrialisasi menjadi suatu keharusan. Selain Industri terintegrasi berbasis perikanan. Kita juga harus bangun industri berbasus pertambangan, pertanisn, peternakan, periwisata dan lainnya,” papar alumnus Colorado School of Mines dan Institut Francaise du Petrole ini. (ZKA Warouw)

Add comment

Security code
Refresh