Ekonomi
PLTN di Jepang. (Ist)

JAKARTA- Sumber energi bersih adalah Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang harus di dorong kedepan. Yang termasuk energi baru adalah energi Hidrogen, energi nuklir dan lainnya. Energi terbarukan adalah energi dari matahari, angin, hidro, panas bumi, biomas dan lainnya.

Demikian penjelasan Dr. Kurtubi anggota DPR-RI dari Wina Austria kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (23/9), karena ketakutan dan keterbelakangan masyarakat atas tehnologi energi nuklir.

Kurtubi menjelaskan, jenis energi surya dan angin dibutuhkan meski bersifat intermiten, tidak stabil. Butuh batere untuk menyimpan setroom karena energi surya hanya bisa dihasilkan siang hari. Energi dari angin lenyap bila anginnya hilang, sehingga butuh batere untuk menyimpan stroom disaat ada angin.

“Sementara Energi nuklir dari Pusat Listrik Tenaga Nuklis (PLTN) pasti stabil 24 jam kagak butuh batere untu menyimpan energi yang dihasilkan,” jelasnya.

Kurtubi menekankan, energi nuklir yang dihasilkan oleh PLTN adalah kebutuhan mendesak yang harus segera di realisasikan. Apalagi mengharapkan penurunan emisi CO2 sebagai penyebab kenaikan suhu bumi tanpa menggunakan  PLTB, akan sangat sulit tercapai,--jika tidak mau mau dikatakan mustahil.

“Pasca musibah PLTN Chernobyl dan Fukushima, teknologi PLTN saat ini sudah sangat maju berkembang menjadi sangat aman dengan biaya yang sangat kompetitif,” ujarnya.

Ia mengingatkan, sebagai negara besar dengan wilayah yang sangat luas dan  sudah meratifikasi Perjanjian Paris, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sepenuhnya (100%)  pada energi terbarukan saja seperti air, matahari, angin,  biomas dan lainnya.

Golongan energi terbarukan ini memang harus terus dikembangkan karena jauh lebih bersih dengan emisi CO2 jauh lebih kecil dari batubara. Tapi secara alamiah tidak bisa menghasilkan listrik yang stabil dan handal 24 jam sehari dan 365 hari dalam setahun guna menopang industrialisasi.

“Matahari tidak bisa bersinar dimalam hari dan sinarnya terhambat disiang hari jika ada awan dan hujan. Di Indonesia nyaris tidak ada lokasi yang memiliki angin bisa bertiup 24 jam sehari dan 365 hari dalam setahun,” jelasnya.

Indonesia adalah negara tropis dengan musim panas dan kemarau yang seringkali berkepanjangan. Ia memastikan, listrik yang dihasilkan oleh PLTAir akan selalu anjlok dimusim kemarau karena debit air sungai yang menurun bahkan dibeberapa daerah air sungainya bahkan mengering. Tapi PLTA tetap harus dimanfaatkan.

Ia menegaskan, Indonesia membutuhkan PLTN karena memiliki bahan dasar berupa Uranium dan Thorium karena Indonesia juga harus berkontribusi untuk menurunkan kenaikan suhu bumi. Saat ini kaum millenial diseluruh dunia menyoroti masalah pemanasan global yang ancaman tenggelamnya beberapa kota dunia akibat naiknya air laut dan turunnya daratan.

“Yang terpenting adalah kita membutuhkan PLTN juga sekaligus untuk mendukung percepatan industrialisasi agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dan mempercepat negara kita menjadi negara maju,” tegas Kurtubi.

Kurtubi melaporkan, berbeda dengan Indonesia, Austria negara yang terletak di Eropa Tengah dengan penduduk sekitar 8 juta orang memiliki sistim transmisi dan distribusi yang menyatu dengan Eropa Barat.

“Sehingga negeri kecil ini bisa dengan mudah membeli listrik dari negara-negara sekitar yang berasal dari batubara atau nuklir,” jelasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh