Ekonomi
Dr. Kurtubi, Pakar Energi. (Ist)

JAKARTA- Pertumbuhan ekonomi China yang selalu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Bahkan ekonomi China pernah tumbuh  dengan tingkat pertumbuhan double-digit diatas 10%.  Untuk bisa mengejar kecepatan pertumbuhan ekonomi China, saatnya bangsa besar ini untuk GO NUCLEAR untuk mendukung Industrialisasi di tanah air. Hal ini ditegaskan oleh Dr Kurtubi, pakar energi kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (3/10).

“Ini artinya, cita-cita dan rencana pembangunan PLTNuklir harus segera dibangun, menjadi bagian dari Sistem Kelistrikan Nasional. Selain listrik kita bersumber dari energi fosil dan energi terbarukan seperi energi surya, angin, hidro, panas bumi, biomas, dan lainnya,” ujarnya.

Alumnus Colorado School of Mines dan Institut Francaise du Petrole ini mengingatkan, China secara terencana nyaris pasti akan menjadi Negara Industri Maju, menyamai Amerika Serikat sebagai lambang negara industri maju yang makmur.

“Kita di Indonesia akan semakin tertinggal jauh. Padahal sekitar tahun 1950 – 1970-an, tingkat kemakmuran dan ekonomi China dan Indonesia relatif pada level yang sama,” ujarnya.

Tidak ada pilihan, anggota DPRRI Periode 2014-2019 dari Fraksi Nasdem ini menegaskan kedepan mestinya tata kelola SDA diarahkan agar pengelolaan SDA bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dengan memberikan payung hukum.

“Untuk mendorong lahirnya Industri Berbasis Tambang yang mengintegrasikan sektor hulu dan industri hilir yang ditopang oleh supply listrik yang bersih dan dengan base load yang kuat stabil 24 jam,” ujarnya.

Menurut Kurtubi, gap kesenjangan antara Indonesia dan China semakin menjolok ini terjadi karena Indonesia belum pernah bisa sepenuhnya konsentrasi untuk kompak secara bersama-sama, Pemerintah dan rakyat membangun ekonomi dengan pertumbuhan yang tinggi.

“Bangsa kita juga ‘senang’ untuk nenghabiskan  waktu berdebat mempertentangkan segala hal termasuk hal-hal yang sudah final. Di bidang sumber daya alam, tata kelolanya masih belum sepenuhnya baik dan tepat secara ekonomi dan belum sepenuhnya benar dan sesuai dengan konstitusi,” ujarnya.

Reaktor Nuklir di China. (Ist)

20 PLTN Tiongkok

Sementara itu akhir tahun ini China akan membangun 20 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk menerangi pulau buatan di Laut China Selatan yang menjadi sengketa antara China dan negara lain. Untuk membangun reaktor nuklir mengambang, China rela menggelontorkan uang sampai 14 miliar yuan atau lebih dari RP 29,6 triliun.

20 PLTN itu akan memberi aliran listrik ke pulau-pulau buatan, khususnya kepulauan Paracel dan Spratly yang menjadi sasaran klaim wilayah teritorial oleh China, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Taiwan.

Liu Zhengguo, kepala China Shipbuilding Industry Corp yang bertugas merancang dan membangun anjungan berkata, PLTN yang mereka buat akan menjadi tren yang berkembang.

Namun mereka berencana mengembangkannya sebagai alternatif yang lebih murah untuk mentransimisikan daya dari daratan China. Biaya pembangkit diesel di laut adalah 2 yuan per kilowatt atau setara Rp 4.237, sementara biaya pembangkit nuklir bisa  0,9 yuan atau setara Rp 1.906.

Selain menjadi penyalur energi, PLTN China juga berfungsi untuk mempercepat eksploitasi minyak, gas alam, dan mineral mudah terbakar yang ditemukan di dasar laut.

China telah membangun reaktor mini untuk menggerakkan kapal selam sejak 1970-an. Dan dengan pengembangan kapal induk bertenaga nuklir pertama, pemanfaatan teknologi untuk membangun PLTN di laut adalah langkah yang semestinya tidak mengejutkan. Bila pembangunan berjalan sesuai rencana, reaktor nuklir pertama yang mengambang di lautan Asia akan berfungsi penuh pada 2021.

Energi Terbarukan

Dilaporkan juga, sepanjang tahun 2018, kapasitas energi terbarukan di China naik 12%. Naiknya kapasitas ini lantaran China meluncurkan proyek-proyek energi baru. China secara agresif mempromosikan energi terbarukan sebagai bagian dari revolusi energi untuk mengurangi ketergantungan pada batubara.

Total kapasitas terpasang, termasuk sumber energi hidro dan biomassa, matahari dan angin, naik menjadi 728 gigawatt pada akhir 2018. Porsi sumber energi terbarukan menjadi 38,3% naik 1,7% dari tahun sebelumnya.

Kapasitas tenaga angin China berkontribusi sebesar 20,59 gigawatt. Selain itu China juga telah menyelesaikan proyek pembangunan PLTA berkapasitas 8,54 gigawatt. Total energi tenaga air China akhir tahun lalu mencapai 352 gigawatt.

Belakangan China mengubah strategi konstruksi energi terbarukan untuk memastikan pembangkit listrik yang lebih bersih. China juga mengurangi penggunaan bahan bakar batubara untuk mengurangi emisi dan dampak buruk bagi lingkungan.

Li Chuangjun, wakil kepala bagian energi terbarukan National Energy Administration (NEA) menyebut dengan meningkatnya energi terbarukan, limbah di sektor tenaga angin turun menjadi 7% di tahun lalu.

Program revolusi energi China juga melibatkan pemasangan teknologi kontrol emisi baru untuk pembangkit listrik tenaga batubara. Sekitar 810 gigawatt, setara 80% energi China menggunakan teknologi rendah emisi. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh