Ekonomi
Pakar Energi. Dr. Kurtubi. (Ist)

JAKARTA- Importasi migas yang efisien adalah dengan membeli langsung dari produsen dan jangan lagi lewat trader di Singapura atau Thailan. Hal ini ditegaskan lagi oleh pakar energi Dr. Kurtubi kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (8/11)

“Sebagai negara yg sangat bergantung pada minyak mentah (crude oil), BBM dan LPG import, saya sudah lama menyampaikan saran solusi untuk menghilangkan mafia migas dalam hal ini importasi atau pengadaan migas impor dari luar negeri,” tegasnya.

Ia mengatakan importasi atau pembelian migas dari luar negeri haruslah dilakukan dengan memberli migas (crude oil dan product kilang termasuk LPG), langsung dari produsen penghasil migas. Yakni, perusahaan migas yang punya lapangan minyak atau punya refinery. 

“Jangan pembelian melalui trader/perantara seperti yang selama ini dilakukan. Sebab kebutuhan migas dalam negeri dapat dihitung secara akurat hingga beberapa tahun kedepan, sehingga pembelian migas dengan jumlah dan jenis klasifikasi tertentu yang kita butuhkan, langsung beli dari produsen, bisa dilakukan dengan long term contract,” jelasnya.

Selama ini menurut Kurtubi, banyak dipersepsikan bahwa seolah-olah membeli migas tidak bisa langsung dari produsen. Persepsi ini bertentangan dengan prinsip Perdagangan International dibawah WTO yang menjunjung tinggi prinsip efisiensi.

“Indonesia lewat Pertamina mestinya bisa melakukan kontak bisnis langsung dengan seluruh perusahaan penghasil migas di dunia baik yang tergabung dakam OPEC maupun yang non-OPEC seperti Russia, Amerika Serikat dan lainnya. Melakukan importasi bukan lewat Trader,” tegasnya.

Untuk itu menurutnya, direksi dan komisaris Pertamina harus kompak untuk menempuh kebijakan importasi migas yang paling efisien dan menguntungkan negara.

“Pertamina bisa memanfaatkan posisi Indonesia sebagai mantan anggota OPEC misalnya, untuk dapat membeli migas langsung dari BUMN migas negara-negara OPEC. Bukan dari BUMN migas dari negara-negara yang bukan negara penghasil migas seperti dari BUMN Thailand misalnya,” ujarnya.

Bila perlu  menurut Kurtubi, Pertamina bisa  meminta bantuan Mentri Perdagangan untuk dibawa ke WTO apabila Pertamina dihambat untuk membeli migas langsung dari produsen dan digiring dan diharuskan  lewat Trader. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh