Ekonomi
Pakar Energi, Dr. Kurtubi. (Ist)
JAKARTA-  Rencana pemerintah memindahkan GRR Bontang mendapatkan dukungan dari pakar energi Dr. Kurtubi. Salah satu pilihahan lokasi yang patut dipertimbangkan adalah dipindahkan ke NTB.
 
"Saya sejak lama di Komisi VII DPRRI, sudah menyarankan agar lokasi rencana pembangunan kilang GRR Bontang dipindahkan karena Crude intake kilang ini 100% crude import, bukan dari crude Kalimantan Timur, demikian Dr. Kurtubi kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (6/3).
 
Mantan anggota DPR RI ini saat itu sudah mengusulkan agar dipindah ke Lombok karena membutuhkan dermaga pelabuhan yang lautnya dalam. 
 
"Kedalaman pantai di Lombok memenuhi syarat untuk disinggahi kapal tanki minyak yang besar (VLCC). Sedangkan laut dipantai Bontang dangkal," katanya. 
 
Menurutnya Pemda NTB dan Lombok Utara sudah nenyiapkan lahan yang menyatu dengan pengembangan Global Hub Kayangan. BBM yang dihasilkan oleh kilang ini diperuntukkan untuk memenuhi demand di Indonesia Timur dan ekspor.  
 
"Ibukota pindah ke Kaltim. Dana akan mengalir ke Kaltim sekitar Rp500 triliun. Mosok kilang GRR juga dibangunnya di Kaltim. Ini tidak fair dan tidak mengurangi kesenjangan antar daerah," katanya.
 
Ia mengingatkan di Kalimantan Timur sudah ada kilang BBM, kilang LNG, kilang petrokimia pupuk yang semua rawan api. 
 
"Kalau ditambah lagi dengan kilang GRR, ini tidak strategik dari segi keamanan jangka panjang. Gampang diserang musuh," katanya.
 
Menurut Kurtubi, di seluruh dunia tedapat banyak kilang yang dibangun di daerah "ring of fire", aman-aman saja. Karena kilang didisain untuk tahan gempa.  Kilang terbesar di Indonesia ada di Cilacap, pantai Selatan Jawa yang juga merupakan wilayah "rawan gempa". Faktanya aman-aman saja. 
 
Demikian juga menurutnya dengan "ancaman" kendaraan listrik yang akan mengurangi atau menggeser pemakaian BBM. Betul, kendaraan listrik akan mengurangi Pemakaian BBM, tapi untuk menghapus pemakaian BBM masih butuh waktu panjang, paling cepat sekitar 30 tahun, termasuk di sektor angkutan laut dan udara. 
 
Selain produk petrokimia yang dapat dihasilkan oleh kilang, akan terus dibutuhkan oleh industri dan masyarakat dunia. Sehingga pembangunan kilang GRR secara ekonomi masih feasible. 
 
"Tentu harus ditopang oleh efisiensi biaya pembangunan kilang termasuk infrastruktur pelabuhan dan infrastruktur atau biaya distribusi produk kilang ke pasar Indonesia Timur dan ekspor," katanya. (Web Warouw)
 

Add comment

Security code
Refresh