Ekonomi
Pakar Energi, Dr. Kurtubi. (Ist)
JAKARTA-  Anjloknya harga minyak dunia yang sangat tajam karena supply jauh lebih besar dari demand. Supply tinggi karena meningkatnya produksi minyak Amerika yang progresif dan sangat tinggi akibat keberhasilan 'teknologi oil-shale'. Hal ini disampaikan oleh pakar energi, Dr Kurtubi, alumnus Colorado School of Mines dan Institut Francaise du Petrole kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (11/3).
 
"Produksi minyak Amerika pada tahun 2016 sebesar 8.5 juta bph. Pada tahun 2020 sebesar 13 juta. Kenaikannya 4.5 juta bph," katanya.
 
Namun menurutnya, kemunculan secara tiba-tiba fenonena virus Corona sejak Januari 2020 menyebabkan banyak pabrik yang tutup sementara dan banyak penerbangan, transportasi, industri wisata tiba-tiba anjlok. Sehingga otomatis demand minyak dunia terseret anjlok. 
 
"Sadar akan dampaknya terhadap harga minyak dunia,  OPEC sebagaimana biasanya, berusaha untuk mengurangi produksi dan juga  meminta Rusia bersama OPEC menurunkan produksi. Tapi ditolak oleh Russia. Mungkin dengan kalkusi agar 'oil-shalenya' Amerika terpukul," jelasnya. 
 
Menurut Kurtubi, selama ini 'oil shale' memperoleh manfaat dari harga minyak dunia yang relatif tinggi sehingga produksi dari 'oil shale' melonjak sekitar 7 juta bph dalam waktu beberapa tahun. 
 
"Karena dikawal oleh OPEC dan Rusia sehingga harga crude oil tetap terjaga pada level yang relatif mahal, sebelum turun dari sekitar $60/b menjadi sekitar $30/b saat ini," jelasnya. 
 
Dampak bagi Indonesia menurut Kurtubi, penurunan harga yang tajam akan mengurangi beban import migas yang selama ini membebani neraca pembayaran. 
 
"Kalau penurunan harga ini cukup lama, maka penurunan harga BBM dalam negeri bisa turun yang dapat mendorong kenaikan daya beli masyarakat ditengah ancaman resesi  ekonomi dunia," katanya. 
 
Ia mengatakan hal ini juga akan berpengaruh pada program biodiesel B30, B50 dan B100. Karena harga solar dari minyak bumi menjadi lebih murah dari harga FAME - campuran biosolar yang berasal dari minyak sawit. 
 
"Tapi disisi penerimasn migas di APBN juga akan menurun. Penurunan harga minyak dunia juga akan berpengaruh pada investasi migas ditengah rendah dan terus merosotnya produksi minyak mentah dan BBM nasional," jelasnya. 
 
Kata kuncinya menurut Kurtubi, adalah seberapa jauh dan seberapa dalam penurunan harga minyak dunia ini akan terjadi yang secara pasti akan ikut mendorong terjadinya resesi ekonomi dunia tidak terkecuali Indonesia. 
 
"Untuk menghindari Indonesia  terjerumus kedalam resesi ekonomi, dari sisi industri migas nasional, diperlukan langkah cepat untuk menyederhanakan tata kelola migas nasional dan tidak melanggar konstitusi sehingga ada kepastian hukum agar investasi migas kembali bangkit," tegasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh