Ekonomi
Salah satu gerai Apple di China. (Ist)

JAKARTA - Apple telah membuka kembali 42 tokonya di China, setelah lebih dari sebulan tutup karena kekhawatiran akan wabah virus corona, Reuters melaporkan, Jumat (13/3).

Situs web Apple di China mencantumkan waktu buka untuk semua toko, yang bervariasi mulai pukul 10:00 hingga 11:00 waktu setempat. Situs web tersebut sebelumnya mencantumkan pengumuman yang menyebutkan bahwa tidak semua toko buka.

China membatasi perjalanan dan meminta warganya untuk menghindari tempat-tempat umum pada akhir Januari, tepat sebelum Tahun Baru Imlek. Pembatasan-pembatasan itu sebagian besar tetap diberlakukan sepanjang Februari.

Data pemerintah, Senin (9/3), menunjukkan bahwa Apple menjual kurang dari setengah juta iPhone di China pada bulan Februari, mengurangi separuh permintaan untuk ponsel pintar itu.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, secara total, Apple menjual 6,34 juta perangkat pada Februari di China, turun 54,7 persen dari 14 juta pada bulan yang sama tahun lalu, data dari China Academy of Information and Communications Technology (CAICT).

Apple mengumumkan penutupan toko-tokonya pada awal Februari di tengah meningkatnya kekhawatiran atas pandemi tersebut. Sementara, CEO Apple, Tim Cook, dalam suratnya kepada investor bulan itu mengatakan bahwa mereka tidak akan memenuhi pedoman pendapatan untuk kuartal saat ini karena lemahnya permintaan, demikian Reuters.

Wall Street Jatuh, Dow Anjlok 10%

 

Dilain pihak dilaporkan saham-saham Wall Street memperpanjang kerugian pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah pembatasan perjalanan baru oleh Amerika Serikat terhadap Eropa untuk mengekang penyebaran virus corona menakuti investor dan mengguncang pasar dunia.

Larangan perjalanan Presiden Donald Trump Eropa, yang diumumkan Rabu (11/3) malam, mengirim ketiga indeks saham utama AS menukik, dengan S&P 500 dan Nasdaq mengonfirmasikan bear market pertama mereka sejak krisis keuangan.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 2.352,60 poin atau 9,99 persen, menjadi ditutup pada 21.200,62. Indeks 30-saham unggulan mengalami kerugian satu hari terburuk sejak "Black Monday" pada 1987, ketika jatuh lebih dari 22 persen.

Indeks S&P 500 jatuh 260,74 poin atau 9,51 persen, menjadi berakhir pada 2.480,64 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 750,25 poin atau 9,43 persen, menjadi ditutup pada 7.201,80 poin, Xinhua melaporkan.

Indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq telah kehilangan lebih dari seperempat dari nilainya sejak mencapai rekor penutupan tertinggi hanya 16 sesi yang lalu, ketika negara-negara di seluruh dunia bergulat dengan bagaimana cara mengatasi virus corona yang bergerak cepat dan dampak ekonominya.

Bear market dikonfirmasi ketika indeks tenggelam 20 persen atau lebih di bawah penutupan tertinggi terbaru.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah secara signifikan, dengan sektor energi jatuh 12,3 persen, mewakili kelompok berkinerja terburuk.

S&P 500 turun tujuh persen tak lama setelah bel pembukaan Kamis (12/3), memicu pemutus sirkuit utama yang menghentikan perdagangan selama 15 menit. Itu adalah 15 menit kedua perdagangan di Wall Street terhenti minggu ini.

Kekhawatiran bahwa berlanjutnya penyebaran virus akan memperlambat pertumbuhan ekonomi mencengkeram investor.

Federal Reserve meluncurkan langkah-langkah dramatis untuk mengurangi tekanan pasar dari virus. Federal Reserve Bank of New York mengatakan dalam sebuah pernyataan Kamis (12/3) sore bahwa pihaknya menawarkan 500 miliar dolar AS dalam operasi repo tiga bulan.

Fed juga akan menawarkan 500 miliar dolar AS tambahan dalam repo satu bulan serta 500 miliar dolar AS dalam pinjaman repo tiga bulan pada Jumat. Pasar mendapat jeda singkat setelah pengumuman tetapi dengan cepat diperdagangkan kembali ke posisi terendah sesi mereka karena investor menunggu langkah-langkah yang lebih agresif untuk meningkatkan ekonomi di tengah pandemi.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Rabu (11/3) malam bahwa negara tersebut akan menangguhkan semua perjalanan dari negara-negara Eropa kecuali Inggris selama 30 hari dalam upaya untuk memerangi wabah virus corona yang sedang berlangsung.

Pada hari yang sama, presiden juga mengatakan akan mengarahkan Departemen Keuangan untuk "menunda pembayaran pajak, tanpa bunga atau penalti, untuk individu dan bisnis tertentu yang terkena dampak negatif," di luar batas waktu pengajuan 15 April, dalam upaya menyediakan lebih banyak likuiditas bagi perekonomian.

"Saat ini, virus tetap tidak terkendali di Eropa dan Amerika Serikat, dan, meskipun kami telah melihat beberapa langkah-langkah stimulus dari pembuat kebijakan, tidak jelas apakah itu akan terbukti cukup komprehensif untuk mengurangi kerusakan ekonomi yang timbul dari tindakan penahanan virus corona," kata analis di UBS dalam sebuah catatan Kamis (12/3) seperti dikutip Xinhua. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh