Ekonomi
Pakar Energi, Dr Kurtubi. (Ist)

JAKARTA- Pemerintah diminta segara menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai dampak pandemi global Corona yang semakin meluas. Harga crude dunia sudah turun dari sekitar $60/barel  ke level sangat rendah, sekitar AS$20/barel.  Hal ini disampaikan Pakar Energi, Dr Kurtubi kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (20/3).

 “Saya perkirakan harga crude yang relatif murah ini akan berlangsung cukup lama, sampai supply crude bisa dikurangi  oleh OPEC  dan Russia sekitar 3 juta bpd dan atau demand for  petroleum based fuel (BBM) kembali pulih dan naik,” ujar mantan anggota DPR-RI Fraksi Nasdem Periode 2014 - 2019.  

Agar daya beli masyarakat bisa meningkat, di tengah mulai terjadinya resesi dunia, sebaiknya harga BBM bisa diturunkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Dampak penurunan harga BBM akan cukup signifikan  mengingat hampir semua rumah tangga memiliki kendaraan bermotor. Ini  untuk berjaga-jaga agar pertumbuhan ekonomi tidak terlalu merosot ditengah terjadinya krisis ekononi dunia,” katanya.

Kurtubi mengingatkan, peran konsumsi rumah tangga dalam pembentukan GDP cukup signifikan.

“Cara gampang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, antara lain dengan menjaga daya beli masyarakat,” kata alumnus Colorado School of Mines, Amerika Serikat dan Ecole Nationale Superieure du Peterole et des Moteurs – IFP, Perancis juga Universitas Indonesia ini.

Efek gulir pandemi corona telah menekan harga minyak mentah dunia hingga ke rentang US$ 20 per barel. Di tengah kondisi ini, pemerintah pun sedang menimbang untuk melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sementara itu, kebijakan bauran bahan bakar solar dengan minyak kelapa sawit 30% atau B30 yang terpengaruh penurunan harga minyak global turut menjadi perhatian bagi PT Pertamina (Persero).

Asal tahu saja, saat ini harga minyak global baik jenis West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent sama-sama berada di bawah level US$ 30 per barel. Penurunan harga minyak juga berimbas pada koreksi harga crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit yang menjadi bahan baku biosolar.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan, meski terjadi penurunan harga minyak global, hal ini tidak mempengaruhi kelangsungan implementasi B30 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina.

Sebagai badan usaha yang diberi amanat menyalurkan bahan bakar B30, Pertamina tetap berkomitmen mengikuti arahan pemerintah untuk mengejar target program tersebut. "Saat ini Pertamina masih mengacu pada kebijakan yang ditetapkan pemerintah dengan alokasi sebesar 9,59 juta kiloliter," ujarnya hari ini Jumat (20/3).

Fajriyah menilai, program B30 merupakan bentuk konkret Indonesia dalam melakukan transisi menuju energi yang ramah lingkungan. Selain itu, B30 juga bisa mendorong penurunan defisit neraca dagang Indonesia yang notabene sangat dipengaruhi oleh neraca migas.

Di sisi lain, Pertamina juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan di tengah penurunan harga minyak global. Perusahaan ini masih terus memantau kondisi harga minyak dunia sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan kebijakan, baik harga Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun produksi atau penyediaan BBM itu sendiri.

Pertamina juga tidak akan buru-buru mengambil sikap terkait kebijakan impor minyak mentah, meski posisi harga minyak global sekarang bisa menjadi alasan untuk melakukan pembelian dari luar negeri.

"Pertamina tetap mengukur kapasitas yang ada serta faktor lainnya seperti nilai tukar rupiah yang saat ini sedang melemah," ungkap dia. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh