Ekonomi
Pakar Energi, Dr. Kurtubi. (Ist)

JAKARTA- Meski Bung Karno sebagai Presiden Pertama RI sejak tahun 1950-an telah mencita-citakan agar bangsa Indonesia bisa memanfaatkan tenaga atom/nuklir  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun hingga saat ini, belum dipikirkan bagaimana mengelola bahan baku energi  nuklir yang berupa Uranium dan Thorium yang banyak terdapat ditanah air.  Hal ini disampaikan oleh pakar energi, Dr Kurtubi,  alumnus Cooorado School of Mines dan Institut Francaise du Petrole dan pimpinan HIMNI (Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia) kepada Bergelora.com, Sabtu (25/4).

“Hingga kini Negara belum  membentuk BUMN yang menangani SDA bahan baku energi atom/nuklir yang berupa Uranium dan Thorium,” ujarnya.   

Ketua Bidang Mineral dan Energi DPP Partai Nasdem ini mengingatkan, menurut  Pasal 33 UUD 45,  Sumber Daya Alam di perut bumi termasuk Uranium dan Thorium dikuasai oleh negara dan dipakai untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Sejauh ini baru Thorium yang sudah ditangani sebagai produk ikutan  oleh BUMN PT Timah, namun belum bisa memberi manfaat bagi negara  karena Thorium belum dimanfaatkan sebagai bahan baku PLTN,” ujarnya.  

Ia mengatakan, mestinya PT TIMAH dan  atau negara lewat undang-undang bisa membentuk BUMN Bahan Bakar PLTN yang kegiatannya adalah melakukan explorasi, exploitasi, menjual Uranium dan Thorium, bisa dilanjutkan dengan  mengolah Uranium dan Thorium  menjadi produk yang bermanfaat bagi sebesar-sebesarnya kemaknuran rakyat.

“Termasuk diolah menjadi listrik dengan membangun PLTN,” ujarnya.

Menurutnya, dalam melakukan kegiatan bisnis dari hulu sampai ke hilir, BUMN ini bisa bekerjasama dengan Investor swasta dan asing dalam pola hubungan B to B.  Pemerintah dalam hal ini Bapeten dan Batan sebagai Pemegang Kebijakan dan Regulator, tidak boleh berbisnis.

“Sehingga negara sebaiknya  segera nembentuk  BUMN Uranium  dan Thorium agar sumber daya alam ini bisa dikelola sesuai konstitusi dan mendukung terbangunnya PLTN di tanah air,” tegasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh