Ekonomi
BUdidaya ikan Kobia di Lampung. (Ist)

JAKARTA- Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berhasil memproduksi ikan kobia dari benih hingga pembesaran di Keramba Jaring Apung, sehingga siap untuk menjadi produsen ikan kobia global.

"Produktivitasnya akan terus kami dorong. Karena kami meyakini, ikan kobia ini bisa menjadi komoditas unggulan di masa depan," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam rilis di Jakarta, Jumat (1/8).

Menurut Slamet, keberhasilan KKP dalam membudidayakan ikan kobia bukanlah waktu sebentar, karena hal itu telah dimulai pemeliharaannya sejak 2006, di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

BBPBL Lampung, menurut dia, untuk saat ini satu-satunya UPT dari Ditjen Perikanan Budidaya yang berhasil memproduksi ikan kobia.

"Ini capaian yang luar biasa setelah perjalanan panjang, akhirnya kami mampu membudidayakan ikan kobia. Dengan begitu, Indonesia siap menjadi produsen ikan kobia," kata Slamet.

Ia memaparkan, ikan kobia ini merupakan komoditas andalan masa depan perikanan Indonesia karena mempunyai pertumbuhan cepat, singkat, dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan ikan laut lain.

Selain itu, ujar dia, tekstur daging kompak dan enak, sehingga pasti banyak diminati.

"Ikan kobia mempunyai keunggulan yang menonjol yakni tidak bau amis, daging putih dan rendah kadar histamin. Histamin sendiri merupakan senyawa turunan asam amino yang terdapat pada daging ikan dan seringkali dapat memicu alergi atau keracunan," katanya.

Melihat potensi yang dimiliki kobia, KKP saat ini terus memberikan sosialisasi terhadap pembudidaya, juga melakukan pembinaan teknis, pengawasan, dan membantu dalam hal pemasaran hasil.

Di samping itu juga, Slamet mengatakan pihaknya memberikan bantuan benih kepada para pembudidaya agar produksi ikan kobia bisa terus meningkat.

"Kami saat ini fokus mendorong dan meningkatkan produksi dari ikan kobia. Kami terus memberikan sosialisasi kepada seluruh pembudidaya di seluruh Indonesia," katanya.

Sukses Panen di Desa Duren

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sukses  panen perdana ikan king Kobia (salah satu unggulan baru komoditas perikanan budidaya) di Desa Duren, Kabupaten Pesawaran, yang merupakan salah satu kampung kobia di Indonesia.

"Panen raya king kobia di desa Duren menandakan keseriusan KKP untuk menggarap komoditas ini sebagai unggulan baru yang berpotensi memberikan kontribusi nilai ekonomi," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (1/8).

Panen pada 19 Februari yang juga turut dihadiri Bupati Pesawaran tersebut dilakukan di lahan milik kelompok Cemerlang Jaya bahari dan Cahaya Makmur Jaya dengan perkiraan hasil panen tahap pertama mencapai 374 kg dari kapasitas produksi total kedua kelompok yang mencapai 33 ton per siklus.

Sebagaimana diketahui, masing-masing kelompok mengelola lahan seluas 0,5 hektare atau sebanyak 110 lubang KJA. Kegiatan panen tersebut juga sebagai ajang untuk menarik animo masyarakat untuk mulai menekuni usaha budidaya kobia.

Menurut Slamet, keunggulan king kobia seperti pertumbuhan yang cepat dan kandungan nutrisi daging yang tinggi, memicu preferensi masyarakat untuk mengusahakan budidaya king kobia ini.

Slamet menyakini berbagai keunggulan tersebut akan membuka peluang pasar yang lebih luas khususnya untuk orientasi ekspor. Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini permintaan untuk kebutuhan pasar dalam negeri belum terpenuhi, dan masih terbatas untuk konsumsi kategori premium.

Oleh karena itu, lanjutnya, hal ini menjadi peluang tersendiri bagi masyarakat untuk mendorong budidaya king kobia sebagai altermatif usaha baru.

"Pasar king kobia ini sangat terbuka lebar. Untuk dalam negeri saja, kategori produk olahan premium demand nya belum terpenuhi. Baru ada satu perusahan yakni Sillyfish yang fokus pada pemasaran produk king kobia ini dengan suplai sekitar 20 ton per bulan," ungkapnya.

Slamet menambahkan untuk memperkenalkan komoditas king kobia ini ke masyarakat, dirinya akan meminta Ditjen Penguatan Daya Saing Produk KKP membangun pasar khusus untuk produk King Kobia.

Apalagi, ia mengingatkan bahwa pemerintah menargetkan hingga tahun 2024 tingkat konsumsi ikan dapat mencapai 73 kg per kapita per tahun.

"Saya kira jalan yang paling memungkinkan untuk memenuhi suplainya yakni dari budidaya dan king kobia akan kita genjot untuk menopang kebutuhan tersebut," ucapnya. (Enrico N. Abdielli)

Add comment

Security code
Refresh