Ekonomi
Dr. Kurtubi, Pakar Energi. (Ist)

JAKARTA- Saat ini  Thorcon dari Amerika Serikat sudah siap investasi sekitar Rp14 Trilyun/$1 milyar untuk membangun PLTN berbasis Thorium type MSR (Molten Salt Reactor) mirip type SMR (Small Modular Reactor) berbasis Uranium PLTN Gen III +. PLTNU ini dibuat  oleh Rosatom dalam bentuk Floating Nuclear Power Plant (NPP).  Demikian pakar energi, Dr. Kurtubi di Jakarta, Jumat (28/8).

“Karena  belum ada negara yang mengoperasikan secara komersial  PLTN Thorium, maka Thorcon di Indonesia harus didahului dengan membangun Prototype yang juga 100% biaya dari mereka dan membutuhkan Pengawasan dari Bapeten,” jelasnya.

Ia menjelaskan BATAN adalah Lembaga Penelitian untuk PLTN Non komersial denga 100% dibiayai APBN. Namun BATAN terbentur Undang-Undang untuk membangun PLTN Komersial.

“Sehingga UU Ketenaganukliran saat ini sedang direvisi untuk disederhanakan agar pihak swasta juga diijinkan membangun PLTN di tanah air sebagai IPP (Independent Power Producer) yang menjual listriknya ke PLN, seperti yang sudah berjalan selama ini,” katanya.

Menurut Kurtubi, sekarang ada investor yang siap investasi dengan 100% dana sendiri bukan dari APBN.

“Kita ketahui bahwa defisit APBN sudah terjadi bertahun-tahun sejak sebelum pandemi. Mestinya proses investasi ini dipermudah tapi dengan disertai pengawasan yang ketat dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir  (Bapeten),” katanya.

Bapeten menurutnya adalah lembaga  yang berhak mengeluarkan lisensi/memutuskan apakah PLTN Thorium dengan prototype yang dibangun menenuhi syarat/ketentuan safety standard dan lainnya, sesuai Standard IAEA, untuk dilanjutkan dengan membangun PLTN Thorium Skala Ekonomi.

“Justru PLTN Thorium Indonesia bisa diarahkan untuk lahirnya industri nuklir yang menjadikan Indonesia sebagai produsen  PLTN Thorium. Bukan sebagai Pembeli. Inovasi ini yang mestinya kita dorong, katanya.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Kurtubi mengingatkan meski di Amerika Serikat PLTN Thorium sekitar tahun 1950-an sudah dibangun dan sempat  dioperasikan sekitar 3 tahun, tapi oleh Amerika Serikat tidak melanjutkan karena pengayaan bahan baku PLTN Thorium tidak bisa dilanjutkan untuk membuat bom atom.

“Thorcon atas kerjasama dengan Pemda akan membuat Prototype PLTN Thorium di Bangka sebelum dibangun PLTN Thorium skala komersial,” ujarnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh