Ekonomi
Bank Indonesia. (Ist)

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan digitalisasi menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi agar bangkit dari dampak pandemi COVID-19 sehingga mendorong industri perlu mengubah model bisnis termasuk cara berperilaku masyarakat dalam bertransaksi.

“Dengan adopsi teknologi, maka pertumbuhan bisa lebih tinggi,” kata Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (3/9).

Menurut dia, pandemi COVID-19 memiliki sisi lain yang malah mempercepat pemanfaatan transaksi digital sehingga kondisi itu diharapkan menjadi peluang bagi industri khususnya perbankan.

Indonesia, lanjut dia, memiliki modal besar dalam mendukung digitalisasi di antaranya jumlah penduduk yang besar mencapai 269 juta dengan pengguna telepon seluler mencapai 338 juta.

Selain itu, ia menyebut Indonesia memiliki pengguna internet terbesar keempat di dunia mencapai 175 juta dan bonus demografi yakni penduduk usia produktif yang lebih besar.

Kemudian, ada 63 juta pelaku UMKM yang masih banyak belum memanfaatkan transaksi dan bisnis secara digital karena baru sekitar 9,4 juta pelaku atau sekitar 14,8 persen berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, BI mencatat volume transaksi perdagangan daring atau e-commerce pada triwulan kedua 2020 naik menjadi 383,5 juta dibandingkan triwulan pertama 2020 mencapai 275,8 juta.

Sedangkan untuk nominal transaksi e-commerce menurun dari Rp58,5 triliun menjadi Rp55,9 triliun.

Untuk uang elektronik non-bank, volume transaksi pada triwulan kedua 2020 menurun menjadi 659,3 juta dari 782,6 juta pada triwulan pertama 2020.

Sedangkan nominal transaksi uang elektronik mencapai Rp42,3 triliun atau naik dibandingkan triwulan kedua 2020 yang mencapai Rp37,2 triliun.

Sementara itu, untuk transaksi digital perbankan nominalnya mencapai Rp6.143 triliun pada triwulan kedua 2020 atau turun dari triwulan pertama mencapai Rp6.699 triliun.

Untuk volumenya meningkat dari 1.070 juta transaksi menjadi 1.137 juta transaksi.

“Ini mencerminkan perilaku manusia beradaptasi ke digital,” katanya. (Enrico N. Abdielli)

Add comment

Security code
Refresh