Ekonomi
Pakar Energi, Dr Kurtubi. (Ist)

JAKARTA- Sebagai prasyarat industrialisasi, Indonesia perlu konsentrasi untuk membangun infrastruktur transportasi jalan, jembatan, pelabuhan, MRT, LRT, kereta api cepat dan infrastruktur energi yaitu pembangkit listrik termasuk PLTN. Walaupun setiap 5 tahun sekali ada pergantian pemerintah pusat dan daerah lewat pilpres dan pilkada. Hal ini ditegaskan oleh pakar energi, Dr. Kurtubi kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (15/11).

Dr. Kurtubi mencontohkan pada infrastruktur transportasi dan energi yang menjadi penopang utama dari industrialisasi di China.

“Kini China tumbuh menjadi negara super power baru yang menyaingi Amerika Serikat, baik dari sisi ekonomi dalam besaran GDP (Gross Domestic Bruto)  maupun dari sisi militer dengan jumlah tentara dan persenjataan. Kemajuan ini mereka capai dalam waktu yang relatif singkat,” jelasnya.     

Berbeda dengan Indonesia, Dr. Kurtubi menggambarkan bagaimana ekonomi dan politik berlangsung di China yang mempercepat kemajuan pesat industri di China dan bisa meninggalkan negara-negara lain yang sebelumnya sudah maju lebih dahulu.

“Sebagian besar rakyatnya, waktunya habis dipakai untuk kerja produktif. Karena negaranya dipimpin oleh satu partai,  rakyatnya tidak disibukkan  oleh kegiatan politik rutin untuk merebut kekuasaan baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah,” jelasnya.            

Dr. Kurtubi meyakini, China dapat dipastikan akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi dan GDP terbesar di dunia.

“Padahal pada tahun 1970-1980-an ekonomi Indonesia relatif lebih baik karena adanya rejeki minyak ‘Oil Boom’. Saat itu produksi minyak mencapai puncaknya pada level sekitar 1.7 juta bph dan harga minyak dunia yang relatif tinggi,” jelasnya.

Namun sejak tahun 1980-an ekonomi China dibanjiri oleh Investasi asing dan industri tumbuh tinggi karena ditopang oleh pembangunan infrastruktur transportasi dan energi.

“Mereka mampu membuat sendiri kereta api cepat karena ‘dipaksa’ oleh keadaan wilayah daratannya sangat luas.  Mereja juga ‘dipaksa’ untuk membangun sendiri pembangkit-pembangkit listriknya, termasuk teknologi PLTN, karena kebutuhan listriknya yang terus meningkat pesat akibat Industrialisasi dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya,” jelasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh