Ekonomi
Pendiri dan bos perusahaan mobil listrik Tesla, Elon Musk. (Ist)
JAKARTA- Pendiri dan bos perusahaan mobil listrik Tesla, Elon Musk, mengklaim bahwa suntikan vaksin COVID-19 kedua lebih berbahaya dibanding suntikan yang pertama. Hal itu dia sampaikan dalam akun media sosial Twitter miliknya.
 
Pernyataan dimulai ketika Musk menanggapi cuitan Ashlee Vance, seorang penulis bisnis dari Amerika Serikat. Vance menulis bahwa orang tuanya yang kini sudah lanjut usia menolak menerima vaksin COVID-19 karena berbagai alasan yang mereka lihat di Facebook.
 
“Pastinya bijaksana bagi orang tua atau yang mengalami gangguan kekebalan untuk disuntik vaksin. Beberapa perdebatan tentang suntikan kedua. Cukup banyak reaksi negatif terhadap itu," tulis Musk menanggapi cuitan Vance.
 
Sebaliknya, para ahli kesehatan telah memastikan bahwa suntikan vaksin corona kedua aman dan efek samping kana hilang dalam beberapa hari pascavaksinasi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menjelaskan, berdasarkan penelitiannya, reaksi alergi terhadap suntikan pertama dan kedua Pfizer dan Moderna sangat jarang terjadi di AS, di mana hanya ada sekitar 4,5 reaksi per satu juta dosis atau 0,00045 persen.
 
Selain itu, studi vaksin corona Pfizer juga menunjukkan tidak ada masalah besar ihwal keamanannya. Adapun sebagian besar efek samping yang sering dialami penerima vaksin Pfizer dosis kedua meliputi, sakit kepala, demam, dan kelelahan. Sementara berdasarkan penelitian Food and Drug Administration (FDA), 31 persen orang berusia antara 18 hingga 55 tahun mengalami demam usia menerima dosis kedua vaksin Pfizer.
 
Untuk vaksin Moderna, 17 persen pada kelompok usia yang sama melaporkan mengalami demam setelah disuntik dosis kedua. Efek samping biasanya lebih dirasakan oleh para peserta muda, dan berlangsung rata-rata satu hingga dua hari, sebagaimana dilaporkan Business Insider.
 
Cuitan Musk muncul setelah media AS The Washington Post melaporkan ada sekitar 400 dari 10.000 orang pekerja di pabrik Tesla di California dinyatakan positif COVID-19 dari Mei hingga Desember 2020. Pada saat itu Musk diketahui membuka pabriknya di tengah penyebaran pandemi corona kendati ada perintah dari pemerintah untuk menghentikan semua kegiatan perkantoran.
 
Kepada Bergelora.com dilaporkan, dalam beberapa kesempatan, Musk dituding telah menyepelekan risiko penularan virus corona yang telah menewaskan lebih dari 500.000 orang Amerika. Pada Maret lalu, Musk yang juga merupakan pendiri SpaceX membuat cuitan dengan mengatakan bahwa ‘kepanikan virus corona itu bodoh’ dan memperkirakan AS bakal melaporkan nol kasus baru pada April. (Web Warouw)
 

Add comment

Security code
Refresh