Ekonomi

Gambar pendiri RRC, Mao Tse Tung dalam mata uang China, Yuan (Ist)‏Gambar pendiri RRC, Mao Tse Tung dalam mata uang China, Yuan (Ist)‏JAKARTA- Ekonomi China tengah berada di bawah tekanan utang raksasa, nilainya mencapai 28,2 Triliun dolar AS, atau sekitar Rp 366 ribu triliun atau sekitar 100 kali utang luar negeri Indonesia. Utang China telah meningkat dengan sangat pesat sejak tahun 2007.  Demikian Salamuddin Daeng dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (18/5).

 

“Besarnya peningkatan mencapai 20,8 Triliun Dolar. Krisis yang melanda ekonomi Eropa dan AS menyebabkan pasar keuangan berpindah menyerbu ekonomi China, seiring pembukaan sektor keuangan negara tersebut,” jelasnya.

Menurutnya China menguasai dua pertiga dari peningkatan utang global dalam rentang waktu tahun 2007 – 2014 sebesar 57 triliun dolar.  Sekarang utang ekonomi China telah mencapai 286 % GDP negara tersebut. Utang china tampaknya akan mengalami peningkatan dimasa yang akan datang. Utang China telah jauh melampaui utang ekonomi Amerika Serikat (AS). Saat ini utang AS senilai 18 triliun dolar.

“Seberapa bahaya kondisi ekonomi China ? sebagian besar utang berkaitan dengan sektor property, sekitar 40 % -45 % dari total utang. Dengan dana utang, perusahaan di negara tersebut membangun property ugal-ugalan yang menyebabkan terjadinya gelembung property. Kota-kota baru dengan gedung-gedung megah, infrastuktur mewah. Apa yang terjadi ? kota kota baru terancam menjadi kota hantu, gedung gedung megah berubah menjadi sarang burung wallet,” katanya.

Ia menjelaskan, meski suku bunga sudah diturunkan dan harga property juga merosot, namun tetap tidak laku sebagaimana ekspektasi pengembang. Akibatnya ekonomi China sedang menuju kejatuhan.

“Pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 7 % pada kwartal I 2015. Tahun depan diperkirakan hanya akan tumbuh 6 % dan tahun-tahun berikutnya hanya akan mencapai paling tinggi 4 %,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kondisi ekonomi China merupakan alaram bagi ekonomi global.

“Karena jika utang raksasa China jatuh maka puing-puing bangunan utang akan menimpa kawasan Asia tanpa ampun ! Krisis 2008 yang melanda ekonomi AS akan kembali terulang di China dalam skala yang lebih besar,” tegasnya.

Bisnis Online

Saat ini industri China telah meluas tidak hanya manufaktur, tetapi juga ke inovasi dan desain. Desain industri telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir berkat dukungan pemerintah. Sejumlah besar perusahaan kecil dan menengah mulai bertumbuh dibawah bimbingan pemerintah.

"Melalui reformasi, khususnya reformasi industri dan bisnis, ada muncul banyak perusahaan baru. Kita tidak hanya mengandalkan perusahaan besar, tetapi juga memberikan perhatian pada usaha kecil berbasiskan rakyat," kata Miao Wei, Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi kepada Xinhua di Bejing, Rabu (13/5) lalu

Diperkirakan bahwa lebih dari 3,6 juta perusahaan baru telah didaftarkan sejak Maret tahun lalu dan banyak perusahaan-perusahaan yang bisnis jasa produksi.

"Setiap perusahaan baru memiliki ide-ide kreatif. Jika mereka dilindungi dan didukung negara maka akan aktif  berkembang tanpa batas dalam ekonomi China,"

Sementara itu, dengan menggunakan penyebaran Internet, desain industri sekarang dapat ditemukan di mana-mana.

"Suatu perusahaan menghasilkan sejumlah besar produk yang diangkut dan ritel ke daerah lain. Di masa depan, dengan penggunaan internet, semua orang bisa menjadi seorang desainer, dan dapat membeli semua bahan dan menjadi bagian online, untuk menghasilkan produk pribadi," kata Miao Wei.

Menggeser Amerika

Pada akhir tahun 2014, Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan China resmi menyandang status perekonomian terbesar di dunia, menggeser Amerika Serikat. Data itu dilansir oleh Dana Moneter Internasional (IMF) beberapa waktu lalu. Ekonom Chris Giles juga sudah mengingatkan April 2014 lalu, bahwa potensi AS tersalip oleh rivalnya itu sudah terlihat sejak awal 2014.

Intinya, IMF mengukur Produk Domestik Bruto dan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) sesuai konteks masing-masing negara.

Dari hitung-hitungan lembaga keuangan internasional ini, akhir tahun 2014 China menguasai 16,4 persen daya beli dunia dengan PDB senilai USD 17,6 triliun.

Sementara Amerika yang selama nyaris seabad terakhir menguasai perekonomian dunia, harus rela turun tahta dengan penguasaan PPP 16,2 persen dari PDB sebesar USD 17,4 triliun. (Web Warouw/Xinhua)

Add comment

Security code
Refresh