Ekonomi
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo saat membuka acara gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Rabu (27/9). (Ist)

PARIGI MOUTONG - Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan dengan persaingan global Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Maka jangan sampai masyarakat Indonesia hanya menjadi konsumen bukan justru sebaliknya menjadi produsen. Hal tersebut diungkapkan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo saat membuka acara gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Rabu (27/9).

"Penyelenggaraan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ini menjadi strategi penting karena menjadi tempat bagi inventor, kreator dan inovator teknologi untuk dapat mempromosikan dan memasyarakatkan hasil temuannya," ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam gelar TTG tersebut masyarakat luas dapat melihat secara langsung jenis-jenis teknologi tepat guna serta hasil produk yang dibutuhkan oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau home industry desa maupun kelurahan, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi sehingga mampu berdaya saing. Kemudian menurutnya, tantangan selanjutnya bagi pelaku usaha adalah bagaimana merubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif.

"TTG tidaklah selalu harus peralatan mesin, tetapi dapat juga berupa teknologi proses atau produk yang dapat menghasilkan nilai tambah dari aspek ekonomi dan aspek lingkungan," terangnya.

Menteri Eko mengatakan, Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup melimpah. Namun belum mampu dikelola secara optimal, ramah lingkungan dan berkelanjutan oleh masyarakat terutama masyarakat yang berada di perdesaan. Salah satu faktor penyebab adalah kurangnya keterampilan masyarakat dalam mengelola potensi sumberdaya  melalui sentuhan teknologi tepat guna.

"Oleh karenanya, momen Gelar Teknologi Tepat Guna yang diselenggarakan kali ini menjadi penting dan hendaknya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Gelar TTG ini juga dapat dijadikan sebagai ajang untuk saling tukar menukar informasi terkait dengan TTG bagi peningkatan  usaha ekonomi masyarakat," ujarnya.

Untuk diketahui, gelar teknologi tepat guna nasional XIX di Sulawesi Tengah digelar di dua lokasi yakni Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong, tanggal 25-30 September 2017. Dirjen Pembangunan dan Pengembangan Masyarakat Desa (PPMD), Taufik Madjid mengatakan, kegiatan ini merupakan even tahunan yang baru dua tahun dilaksanakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Sebelumnya, kegiatan gelar TTG diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri.

"Hasil yang diharapkan dengan gelar teknologi tepat guna ini, akan terjalinnya koordinasi dan komunikasi baik pemerintah pusat maupun daerah untuk pengembangan teknologi tepat guna," ujarnya.

Di sisi lain, Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola mengakui, pemanfaatan teknologi tepat guna di Sulawesi Tengah oleh masyarakat masih tergolong minim, baik untuk kegiatan sosial maupun ekonomi. Hal tersebut berdampak pada rendahnya kualitas produk yang dihasilkan masyarakat.

"Teknologi tepat guna belum memberikan pengaruh signifikan terhadap desa karena masih kurangnya informasi kepada masyarakat," ujarnya.

 

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Longki berharap dengan terbentuknya  Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh informasi terkait pemanfaatan teknologi tepat guna. (Andreas Nur)

Add comment


Security code
Refresh