Ekonomi
Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (26/10). (Ist)

SURABAYA- Kementerian Perindustrian telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan agar dapat menurunkan tarif bea masuk umum (Most Favoured Nation treatment) untuk intan kasar dan intan yang telah diasah menjadi nol persen (0%). Upaya ini guna memacu daya saing dan produktivitas industri perhiasan dalam memperoleh bahan baku tersebut.

“Kami juga melakukan inisiasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar produk perhiasan dari Indonesia tidak terkena bea masuk (BM) di negara tujuan ekspor, seperti Dubai yang saat ini masih menerapkan tarif BM untuk produk perhiasan dari Indonesia sebesar lima persen,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (26/10).

Gati berharap, kebijakan yang diusulkan tersebut dapat didukung olehseluruh pemangku kepentingan melalui berbagai kegiatan kreatif dan produktif sehingga dapatmenghasilkan produk perhiasan yang bernilai tambah tinggi. “Perhiasan menjadi salah satu produk non-migas unggulan Indonesia yang memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Kemenperin mencatat, nilai ekspor produk perhiasan pada tahun 2016 mencapai USD6,37 miliar atau mengalami peningkatan 13,65 persen dibandingkan tahun 2015 sebesar USD5,49 miliar. “Capaian ini menjadi kabar yang menggembirakan dari industri perhiasan di Indonesia. Namun, kami ingin kinerja ekspor perhiasan ini bisa ditingkatkan lagi sehingga target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan sekitar 5,2 persen pada tahun ini dapat tercapai,” tuturnya.

Menurut Gati, selama ini Kemenperin telah melakukan berbagai upaya terobosan untuk mendorong pertumbuhan industri perhiasan sebagai salah satu sektor penghasil devisa ekspor yang besar. Misalnya, melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan seminar mengenai komoditas batu mulia dan perhiasan di Indonesia.

Selain itu, dilaksanakan pula bimbingan teknis dan pendampingan desain, khususnya terkait peningkatan kemampuan SDM termasuk untuk peningkatan mutu dan pemanfaatan teknologi. “Kami juga telah memfasilitasi bantuan mesin dan peralatan serta penyusunan buku mengenai batu mulia di Indonesia,” ungkapnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, industri perhiasan dalam negeri telah mampu bersaing di pasar internasional dengan desain dan produknya yang berkualitas unggul. “Industri perhiasan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sektor ini akan kami terus pacu pengembangannya karena padat karya berorientasi ekspor dan mempunyai daya saing yang kuat,” paparnya.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, berdasarkan data tahun 2015, jumlah unit industri perhiasan dan aksesoris di dalam negeri mencapai36.636 perusahaan dengan nilai produksi sebesar Rp10,45 triliun. Sektor ini menyerap tenaga kerja sebanyak43.348 orang dan menghasilkan devisa melalui ekspor sebesar USD3,31 miliar.

Oleh karena itu, Airlangga menyampaikan, pihaknya telah memfasilitasi penguatan kerja sama antara industri perhiasan dalam negeri dengan perusahaan jam tangan asal Swiss. Langkah sinergi bilateral ini diharapkan dapat berdampak positif bagi pengembangan IKM di dalam negeri. Pasalnya, industri perhiasan didominasi oleh sektor IKM yang tersebar di berbagai sentra pengrajin di Indonesia.

Promosi lewat pameran

Pada kesempatan tersebut, Dirjen IKM Gati Wibawaningsih mengungkapkan, salah satu langkah tepat untuk menjadikan produk perhiasan Indonesia semakin dikenal oleh seluruh masyarakat dunia, yaitu memfasilitasi dengan kegiatan promosi baik melalui pameran di dalam maupun luar negeri sekaligus dapat menguatkan branding nasional di tingkat global.

Salah satu contohnya, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin ikut serta memeriahkan Surabaya Jewellery Fair 2017. Pameran yang digelar oleh Asosiasi Perhiasan Emas dan Permata Indonesia (APEPI) ini telah diselenggarakan sejak 22 tahun lalu, dengan diikuti para peserta dari mancanegara. “Kami terus berpartisipasi mengikuti pameran ini sebagai ajang promosi IKM lokal dalam memperkenalkan produk perhiasan terbaiknya kepada masyarakat luas,” terangnya.

Pada pameran Surabaya Jewellery Fair tahun ini, Ditjen IKM memfasilitasi 29 stan perhiasan yang terdiri dari perhiasan emas, perak, mutiara dan aksesoris perhiasan lainnya. Perhiasan perak berasal dari Bali dan Yogyakarta. Juga terdapat batu mulia yang berasal dari Aceh, Banjarmasin, Pacitan, Banten, Jakarta, dan Sukabumi. Untuk aksesoris perhiasan berasal dari daerah Solo, Semarang, dan Yogyakarta.

Melalui pameran ini, Gati berharap, para IKM perhiasan dapat saling bersinergi sehingga tercipta dampak positif, baik bagi pelaku industri perhiasan maupun masyarakat secara umum sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. “Tak hanya itu, kami ingin juga para IKM perhiasan untuk selalu meningkatkan kualitas produknya dengan inovasi, perkaya kreatifitas dan desain, agar dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional,” sebutnya.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, prospek bisnis industri perhiasan di Indonesia masih cukup menjanjikan. Selain mulai membaiknya kondisi perekonomian nasional tahun ini, potensi pengembangan sektor ini juga didukung dengan populasi penduduk yang besar, pertumbuhan kelas menengah, dan faktor kultur masyarakat Tanah Air.

“Untuk jumlah industri perhiasan di Provinsi Jawa Timur, saat ini sebanyak 26 industri berskala besardan menengah, serta sekitar 1.854 industri berskala kecil yang tersebar di berbagai sentra industriseperti Surabaya, Gresik, Lamongan, Pasuruan, Lumajang dan Pacitan,” papar Airlangga. Jumlah tenagakerja yang terserap mencapai 17.600 orang, yang berdampak pada meningkatnya ekonomi nasionalserta mengurangi kemiskinan.

Menperin menambahkan, industri perhiasan merupakan salah satu sektor andalan bagi Jawa Timur. Hal ini terlihat dari kontribusi nilai ekspor produk perhiasan yang mencapai USD 3,44 miliar atau sebesar 19,17 persen dari total ekspor non-migas di Jawa Timur. “Atau 64,42 persen dari total ekspor produk perhiasan nasional senilai USD 5,34 miliar,” ungkapnya.

Negara tujuan ekspor produk perhiasan terbesar dari Jawa Timur pada tahun 2016 adalah Swiss, Jepang, Singapura dan Hongkong.

“Namun, negara pesaing utama ekspor produk perhiasan Jawa Timur di pasar internasional datang dari Belgia, Israel, Inggris dan India untuk perhiasan batuan permata dan negara Italia, Tiongkok, Swiss dan Thailand untuk produk perhiasan logam mulia,” tutur Airlangga. (Ardiansyah Mahari)

 

Add comment


Security code
Refresh