Ekonomi
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara bertajuk "Menyongsong Satu Abad Pendidikan Vokasi Industri untuk Mewujudkan Pendidikan Sistem Ganda di Lingkungan Kementerian Perindustrian" di Jakarta, Rabu (27/12). (Ist)

JAKARTA- Kementerian Perindustrian semakin meningkatkan kompetensi para guru dan dosen yang mengajar di seluruh unit pendidikan binaannya dan balai diklat industri agar mampu menghadapi era ekonomi digital termasuk Industry 4.0. Untuk itu diperlukan peta jalan dan sistem pengajaran yang terpadu sehingga bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.

“Kami dorong supaya mereka menyiapkan kurikulum untuk keperluan industri nasional di era digital,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara bertajuk "Menyongsong Satu Abad Pendidikan Vokasi Industri untuk Mewujudkan Pendidikan Sistem Ganda di Lingkungan Kementerian Perindustrian" di Jakarta, Rabu (27/12).

Pada kesempatan tersebut, Menperin memberikan pengarahan kepada 750 tenaga pengajar di bawah naungan Kemenperin, yang terdiri dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Politeknik, dan Akademi Komunitas. Saat ini, Kemenperin memiliki sembilan SMK kejuruan, sembilan politeknik dan satu akademi komunitas yang telah menjadi rujukan bagi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

“Dalam pengembangan kurikulum ini, perlu mencakup tiga mata kuliah yang wajib diterapkan, yaitu Bahasa Inggris, Statistika untuk analisis data dan Koding. Waktunya cukup satu semester,” ujar Airlangga. Selain itu, menurutnya, dunia pendidikan di Indonesia harus berubah dengan menggunakan metode problem based learning dan evidence based learning.

“Sehingga siswa langsung belajar menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam dunia industri,” imbuhnya. Untuk itu, Airlangga meminta agar seluruh unit pendidikan di lingkungan Kemenperin lebih berperan aktif dalam mendukung program pendidikan dan pelatihan vokasi yang sedang dikembangkan oleh pemerintah.

“Dengan SDM yang terampil, produktivitas industri dalam negeri akan bersaing di kancah global. Sebab, daya saing suatu negara ditentukan juga dengan kemajuan industrinya. Kemudian, kemajuan industri akan berimbas pada ketersediaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat,” paparnya.

Program strategis

Lebih lanjut, Menperin menyampaikan, diperlukan berbagai program strategis untuk memastikan bahwa industri di Indonesia semakin banyak menyerap tenaga kerja lokal. Salah satunya melalui peluncuran program vokasi link and match antara SMK dengan industri yang sejalan dengan Inpres Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia.

Sepanjang tahun ini, telah dilakukan empat kali peluncuran program vokasi tersebut, meliputi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Jawa Barat serta wilayah Sumatera Bagian Utara.  Hasilnya, melibatkan 415 industri dan 1.245 SMK dengan jumlah sebanyak 2.177 perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani kedua belah pihak.

Sebagai tindak lanjutnya, telah dilakukan pula penyelarasan 35 program studi bidang industri yang akan diimpelementasikan di SMK. Kemenperin pun memiliki target penyediaan minimal satu juta tenaga kerja industri tersertifikasi yang akan dipenuhi selama tiga tahun pada 2017-2019.

Di samping itu, Kepada Bergelora.com dilaporkan, untuk mendukung pendidikan vokasi, Kemenperin memberikan bantuan peralatan praktikum minimum senilai Rp35 miliar untuk 74 SMK. Kemudian, pada tahun 2018, telah dialokasikan peningkatan kompetensi guru bidang produktif melalui pelatihan dan magang yang bekerjasama dengan ITE Singapura, Formosa Training Center Taiwan, serta industri dan lembaga pelatihan teknis sebanyak 1.900 orang, termasuk juga fasilitasi silver expert sebanyak 50 orang.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Mujiyono menyampaikan kualitas SDM merupakan jawaban dari tantangan global di era digitalisasi saat ini. “Untuk mengurangi jumlah pengangguran dan mendorong perekonomian nasional, SDM kita harus terus dilatih sehingga dapat langsung terserap di industri,” tuturnya.

Mujiyono menambahkan, terdapat tiga tahapan pendidikan vokasi, yakni pertama sekolah konvensional yang mengajarkan semua kompetensi yang berada di dalam jurusan tersebut. Kedua, sekolah yang kurikulumnya link and match dengan kebutuhan industri. Ketiga, sekolah yang menerapkan dual system, yakni porsi belajar di sekolah dan industri seimbang.

"Pendidikan adalah inkubator. Saat ini, sekolah vokasi dan politeknik di bawah naungan Kemenperin telah link and match dengan industri. Pada tahun depan akan menuju ke arah dual system," ujarnya. Sistem yang mengkombinasikan antara teori di sekolah dan praktik di industri tersebut telah diterapkan di berbagai negara maju seperti Jerman dan Swiss. (Calvin G. Eben-Haezer)

 

Add comment

Security code
Refresh