Ekonomi
Rudy J. Pesik, Pakar Kopi dari Dewan Kopi Indonesia. (Ist)

JAKARTA- Untuk membangkitkan perkebunan kopi milik rakyat, Pemerintah Indonesia harus serius mengatur pelelangan kopi dilakukan di Indonesia, sebelum masuk pelelangan di luar negeri. Karena keuntungannya akan lebih tinggi disamping kopi Indonesia menjadi brand dunia. Tidak seperti saat ini, lelang dilakukan di luar negeri dan ekpor dilakukan berupa biji kopi. Sehingga produksi perkebunan kopi tidak ada perubahan sejak jaman kolonial Belanda dan tidak membangkitkan ekonomi rakyat. Hal ini disampaikan Rudy J. Pesik dari Dewan Kopi Indonesia kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (24/4)

“Kenapa harus lelang kopi di luar ngeri. Lelang seharusnya dilakukan di Indonesia dulu. Kalau sudah di Indonesia mau dilelang lagi di luar negeri boleh aja. Tapi nomor satu orang kalau mau beli kopi Indonesia datang ke Indoneia,” ujarnya.

Lelang kopi memang pernah dilakukan di Indonesia sebanyak tiga kali tetapi tidak profesional dan tidak jujur karena lelangnya sudah diatur.

“Pernah ada lelang kopi di pameran di Kemayoran, Jakarta tapi tidak khusus. Seharusnya mau saya masuk dalam jadwal utama. Perlu ditentukan setiap bulan apa ada jadwal lelang kopi. Umumkan, sehingga pedagang kopi dari pasar Internasional sudah tahu kapan ada lelang. Kita tinggal buka pendaftaran dan persiapan lelang,” jelasnya.

Dalam lelang menurut Rudy, dilakukan dalam bahasa Indonesia, sehingga petani kita mengerti proses lelang tersebut. Untuk orang asing siapkan penterjemah agar ada kebutuhan untuk mempekerjakan orang lain sebagai penterjemah profesional dalam berbagai bahasa.

“Kenapa lelang harus pakai bahasa Inggris oleh bule? Padahal petani kita gak ngerti bahasa Inggris. Tukan lelang kita banyak yang bisa dipekerjakan. Lelang harus dilakukan secara profesional dan jujur,” ujarnya.

Pemilik ratusan gerai ‘Kopi Kamu’ di seluruh dunia ini menegaskan agar Indonesia berhenti mengekspor biji kopi ke luar negeri, karena keuntungannya sedikit.

“Ekspornya juga salah. Kita tidak boleh kirim biji mentah. Harus kita roast (sangrai-red) dan packaging (pengemasan-red) di Indonesia. Kita perkenalkan merek Indonesia seperti ‘Kopi Kamu’, atau ‘Starbucks dan lainnya. Ini akan menyerap banyak tenaga kerja di dalam negeri. Menjadi industri rakyat baru,” jelas Rudy yang pernah memimpin kerjasama ekonomi Internasional 6 negara Asean dimasa Pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Dimasa pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono dirinya juga pernah memimpin kerjasama ekonomi 28 negara Asia-Pasifik.

Rudy Pesik meyakini ratusan ragam kopi asli Indonesia adalah yang terbaik diseluruh dunia. Karena 96 gunung berapi di Indonesia memberikan berkah tanah vulkanik yang subur. Seperdelapan Indonesia dilewati garis Katulistiwa sehingga iklimnya bersahabat dengan 17.506 pulau.

“Disini gak ada salju dan musim panas. Luar biasa anugrah Tuhan. Banyak tanaman lindung untuk pohon kopi, jadi rasanya macam macam. Ada rasa pala, rasa cengkeh dan rasa aneka buah-buahan. Lain dengan Brasil atau Vietnam berupa satu daratan, Dia gak punya ragam seperti kita,-- kopi Aceh aja beda kopi Gayo berbeda dengan kopi Toba, beda dengan Lampung, Toraja, Mandailing, Jawab Barat, Jawa Timur, kopi Papua. Setiap daerah ada kopi khas masing-masing dengan cita rasa yang berbeda. Negeri kita hebat dan ajaib. Tuhan maha baik buat rakyat Indonesia,” ujarnya.

Hanya saja menurutnya pemerintah masih kurang perhatian pada petani kopi yang tersebar diseluruh kepulauan Indonesia. Padahal petani kopi sudah ada ratusan tahun sejak jaman kolonial Belanda sampai hari ini.

“Kita tidak mendidik dan tidak mempersiapkan mereka untuk bersaing. Padahal sekarang sudah ada spesies baru, tehnologi baru dan berbagai ragam cara untuk mempromosikan kopi Indonesia di dalam maupun di luar negeri,” ujarnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh