Ekonomi
Pengilangan minyak di Balikpapan berkembang dalam berbagai kerjasama dengan pihak asing sejak masa Orde Baru..(Ist)

JAKARTA- Anggota Komisi VII DPR RI Kardaya Warnika mengingatkan PT. Pertamina (Persero) agar lebih mencermati setiap kerja sama dengan pihak asing terkait pembangunan kilang minyak. Ia khawatir, akan banyak asumsi yang meleset jauh dari perkiraan. Apalagi menurut Kardaya, sejak awal Indonesia berdiri, Pertamina tidak pernah membangun kilang minyak dengan biaya sendiri.

“Yang ada pemerintah meminjam dana kepada pihak luar, kemudian dana tersebut dipinjamkan kepada Pertamina untuk membangun kilang minyak,” kata Kardaya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII dengan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto dan Plt Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (23/5).

Politisi Partai Gerindra itu meminta agar pemerintah interaktif kepada masyarakat tentang harga minyak dunia saat ini yang sudah mencapai 80 dolar AS/ barel. Pemerintah harus menyiapkan rencana strategis guna menyikapi harga minyak yang kemungkinan akan terus naik.

“Jangan sampai saat harga 90-100 dolar AS/ barel, pemerintah baru tergopoh-gopoh menentukan kebijakan, karena yang dirugikan juga masyarakat,” ujarnya.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, terkait kesiapan kebutuhan BBM jelang dan pasca Hari Raya Idul Fitri, Kardaya mengapresiasi langkah Pertamina yang meluncurkan program Ramadan Idul Fitri 2018 (RAFI) dengan slogan melayani, membagi dan mengedukasi. Namun ia menyarankan, agar program tersebut menyentuh seluruh penjuru negeri dan tidak hanya fokus di Pulau Jawa dan Bali saja.

“Saat Jawa dan Bali stok BBM aman dan stabil, masyarakat di Indonesia Timur masih banyak yang menjerit, padahal mereka juga masih berada di wilayah NKRI,” pungkas politisi dapil Jawa Barat itu. (Enrico N. Abdielli)

Add comment

Security code
Refresh