Ekonomi
Menkeu Sri Mulyani menyampaikan keterangan pers, di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, Senin (9/7) sore. (Ist)

JAKARTA- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengemukakan, bahwa defisit berjalan pada pelaksanaan semester I Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2018 hanya sebesar Rp110 triliun, atau terendah dalam 4 (empat) tahun terakhir. Lebih kecil dibandingkan tahun 2017 lalu yang posisinya Rp175 triliun.

“Ini sekali lagi menggambarkan bahwa pemerintah terus berusaha membuat APBN kita menjadi sehat, menjadi kredibel, dan terutama dikaitkan dengan banyak sekali pendapat mengenai masalah utang dan pengelolaan utang,” kata Sri Mulyani kepada wartawan usai Rapat Terbatas, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (9/7) sore.

Menkeu menjelaskan, hasil semester I ini mengkonfirmasikan sekali lagi bahwa pemerintah sangat berhati-hati dan sangat prudent di dalam menjaga APBN tahun 2018.

Dengan postur APBN kita yang relatif terjaga, lanjut Menkeu, telah diputuskan oleh Presiden, pada tahun 2018 ini pemerintah akan tetap menjaga APBN dengan defisit lebih rendah dari yang direncanakan.

“Tadinya 2018 adalah direncanakan 2,19% dari PDB, namun dari sisi outlook sekarang ini kami memperkirakan APBN 2018 akan defisitnya menjadi hanya 2,12 atau 2,12% dari PDB atau dalam hal ini Rp314 triliun, lebih kecil dari yang tadinya diperkirakan Rp325 triliun,” terang Sri Mulyani.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, karena postur APBN cukup baik dan tidak mengalami deviasi yang besar dari sisi jumlah penerimaan negara dan jumlah belanja negara dan defisitnya lebih kecil dari direncanakan, maka menurut Menkeu, Presiden menyampaikan bahwa untuk APBN 2018 ini yang tidak melakukan APBN perubahan.

“Laporan ini nanti akan kami sampaikan kepada dewan untuk dibahas pada minggu depan dengan Dewan Perwakilan Rakyat,” ujar Menkeu.

Dengan APBN yang baik, menurut Menkeu, pemerintah akan menggunakan instrumen fiskal ini untuk tetap menjaga ekonomi terutama saat kondisi perekonomian sedang dihadapkan pada tekanan yang berasal dari global.

“Tadi pagi dan sudah disampaikan oleh Menteri Perindustrian tadi bahwa kita terus melakukan berbagai upaya, melihat sektor ekonomi kita mana-mana yang perlu untuk mendapatkan dukungan, baik dalam bentuk insentif maupun dari sisi dukungan yang bisa kita berikan, agar mereka tetap bisa menggunakan kesempatan saat ini di dalam meningkatkan ekspor, mengelola impor agar tidak meningkatkan tekanan terhadap external balance kita,” ungkap Menkeu seraya menambahkan, bersama-sama dengan otoritas moneter maupun OJK untuk terus menjaga agar dalam menghadapi gejolak global ini kita tetap bisa menjaga ekonomi secara stabil dan berkelanjutan. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment

Security code
Refresh