Ekonomi
Panen kopi di Gunung Muria. (Ist)

KUDUS- Musim gugur di London, Nopember 2018. Pengusaha muda berwajah Asia, dengan trench coat warna krem membalut tubuhnya, mengunjungi kedai kopi di Dean Street, London. “Hi, Samiah, how was your day?” sambut sang barista.

“Aku selalu ingin menikmati daun-daun yang gugur itu, dan mengusir dinginku dengan segelas kopimu,” jawab gadis yang selalu mengirim kopi dari Muria ke kedai-kedai kopi di Eropah, itu tersenyum.

Uap mengepul dari mesin espresso La Marzocco Linea PB 2 Group dan grinder Mythos One. Sejenak pandangannya beralih dari daun-daun yang berserakan di taman itu ke barisan kopi yang berjejer di belakang barista. Ada kopi Muria di antara toples-toples roasting itu.

Seketika ingatannya terseret ke masa lalu, di kebun kopi milik keluarganya di pegunungan Muria. Saat kecil ia selalu diajak memetik biji kopi yang merah meranum. Samiah kecil didorong ayahnya untuk mandiri dan berkarya, menjual kopi kemasan bikinan keluarganya ke kedai-kedai kopi di Kudus. Dengan bangga ayahnya menceritakan, biji kopinya selalu dikirim oleh tengkulak ke Ratu Wilhelmina di Belanda. Sisanya diramu sendiri dalam kemasan sederhana.

“Suatu saat kamu harus bisa menjual kopi Muria ke luar negeri, Nak,” kata Ayahnya.

“Cut! Cut!” tiba-tiba sutradara muda dari Omah Dongeng Marwah (ODM) menghentikan adegan itu. Beberapa scene harus diulang. Ada yang salah?

Di kedai “Kopi Tong” di Jalan Ramelan Kudus, dua bulan lalu, empat adegan film public service announcement (PSA), diproduksi di situ. Jalanan dan kedai disulap seperti London di malam hari. Ekspatriat satu keluarga didatangkan dari Jepara untuk memberi nuansa Eropah.

“Ini film pendek bertema nasionalisme kopi,” kata Tsaqiva Kinasih, sutradara film berusia 15 tahun.

“Ide ceritanya murni dari anak-anak. Kami-kami ini,” kata Orion, Director of Photography (DoP) untuk tiga film yang sedang mereka garap.

“Gimana caranya agar film ini bisa diputar di Garuda, ya? Coba garap yang bagus. Idenya keren. Tugas kami mempromosikan,” kata Nani Suwaryani, Ph.D, Kasubdit Pendidikan Anak dan Remaja, Ditjen PAUD dan Dikmas Kemendikbud, pemberi program itu.

Dua bulan di akhir musim kemarau. Biji-biji kopi mulai memerah. Dahan-dahan bergelayut rebah, memanggil sang pemilik untuk memetik. Tiba-tiba Kudus ramai membicarakan kopi. Ir H. Muhammad Tamzil, Bupati yang baru dilantik September lalu, perlu menggelar talkshow “Kopi Muria Menuju Dunia”, awal Nopember lalu, menandai bangkitnya kopi Muria.

Dahulu, di bawah sistem kultivasi (kultur stelsel), saat VOC dipimpin Johannes Van Den Bosch pada 1830-an, Muria menjadi salah satu dari 10 gunung yang ditetapkan sebagai sentral perkebunan kopi di Hindia Belanda. Di sinilah kopi ditanam, dan diekspor kemudian.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus mendata, budidaya kopi Muria dikembangkan di Desa Colo, Japan, Rahtawu, dan Ternadi, dengan luas lahan sekitar 550 hektar. Terdiri dari 440 hektar kopi robusta dan 110 hektar arabika. Lahan kopi dikelola oleh 600-an petani secara tradisional.

Sejarah berputar. Kini jalan-jalan utama di Kudus tidak lagi seperti kota mati selepas jam 21 malam. Berjejer kedai-kedai kopi dari kelas biasa sampai kota. Ada Kopi Tong, Green Cafe, Omah Coffee, Sidji Coffee, dan kedai-kedai kelas kaki lima. Bahkan kopi “Njetak” yang “greng!” rasanya sudah lama menjadi penyeduh malam di sepanjang jalan di Kudus Kulon.

Di hadapan puluhan petani kopi dari desa-desa di Muria, dalam acara talksow bersama bupati itu, Edy Supratno, Ketua PKBM ODM, mendongeng tentang sejarah kopi.

Tertulis dahulu pada abad ke-15 di Etiopia, seorang penggembala kambing bernama Khaldi, terbangun tiba-tiba karena suara berisik dari dalam kandangnya. Ia kaget melihat kambingnya berjingkrak-jingkrak di tengah malam buta. Berlagak polisi, ia menyelidik penyebab perilaku aneh kambing kesayangannya. Tak ditemukan.

Esoknya, kambing itu diputar kembali ke jalur yang dilewati kemarin. Kambing berhenti di barisan pohon dengan buah berwarna hijau dan merah, dan memakan buah-buah itu. Ia tak pernah melihat itu sebelumnya. Ia mencoba memakan sebiji warna merah, lalu nyengir dan meludah, serasa pahit, segetir kehidupannya.

Tapi, rasa pahit di ujung lidahnya berubah manis seketika. “Kehidupanku akan berubah,” pikirnya. Khaldi berjingkrak-jingrak kegirangan. Di sampingnya, kambingnya sudah lebih dulu melompat-lompat. Dua makhluk kegilaan.

Kalau kambing bisa, berarti manusia juga bisa, pikir Khaldi. Dan Aucuba, teman Khaldi yang terpelajar itu, penidur yang tersohor di kampungnya, adalah “korban” pertama. “Kau apakan aku Khaldi? Kenapa kantukku hilang seketika?” tanya Aucuba, seperti menyesal.

Lewat Aucuba, “biji jingkak” itu diperdagangkan ke padang Arabia, terkenal sekali di sini, lalu hijrah ke Eropah dan Amerika. Kita jadi mengerti mengapa Arab yang tak memiliki pohon endemik kopi, tetapi dunia menyebut namanya sebagai varietas yang terkanal: Arabika.

Di kursi belakang, para petani kopi yang sejak awal serius mendengarkan dongeng, tiba-tiba pecah tawanya setelah sang pendongeng bergelar doktor sejarah itu menyimpulkan, ternyata penemu biji kopi yang terkenal di dunia adalah seekor kambing. “Kita benar-benar kalah sama kambing,” kata Edy Supratno, disambut gelak tawa.

Tapi, jangan salah. Siapa tahu di antara anak-anak petani itu, seperti ide film nasionalisme kopi yang digagas anak-anak ODM, akan muncul kelak para pebisnis kopi dari gunung Muria. Membelah angkasa membawa biji-biji kopi ke Amerika dan Eropah.

Seorang perempuan, tentu bukan sodaranya Khaldi, mampir ke London seperti dalam adegan film itu, dan mengharumkan nama gunung ini seharum Gunung Muriah di Palestina.

Bapak/Ibu, demikian cerita saya hari ini tentang kopi. Maaf jika tulisannya panjaaaang banget, ya. Tabik! (Hassan Aoni)

Add comment

Security code
Refresh