Astuti Gittins dari Pelita Indonesia Foundation, Gerakan Anak Indonesia Membaca. (Ist)

JAKARTA- Indonesia yang toleran atas kebhinneka menjadi kerinduan setiap orang Indonesia dimana saja. Dulu kebencian, hasutan dan serangan fisik berdasarkan sentimen SARA tidak pernah terdengar dipublik. Bangsa Indonesia dulu pernah hidup penuh toleransi karena menyadari kebhinnekaan bangsa Indonesia justru mempersatukan. Hanya belakangan ini kebencian dan intoleransi yang berkembang ditunggangi kepentingan politik kebencian.

“Saya ingin sekali Indonesia kembali seperti dulu, Indonesia yang bertoleransi tinggi dan menjunjung tinggi adat istiadat dan juga budaya bangsa. Semasa saya kecil nilai-nilai itu terasa sekali, namun sekarang saya lihat sangat jauh berbeda. Orang-orang lebih tidak bertoleransi dan kurang menghargai perbedaan,” demikian Astuti Gittins, seorang penggerak Anak Indonesia Membaca di Shanghai ketika dihubungi Bergelora.com dari Jakarta, Kamis (14/3)

Astuti Gittins awalnya adalah seorang tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia full time di Jakarta. Ia juga aktif menjadi tenaga pengajar relawan. Astuti menggeluti pekerjaan dalam bidang pendidikan ini sejak tahun 2007. Pada awal Desember 2018 dirinya mengikuti suami pindah tugas ke Shanghai, Cina.

“Nah justru karena itulah semakin lemahnya toleransi di Indonesia semakin rendah, dan nilai-nilai Pancasila yang kurangnya diterapkan belakangan ini,-- memanggil saya untuk membuat program ‘Anak Indonesia Membaca’,” jelasnya.

Anak-anak penerima buku kiriman Astuti Gittins dari Pelita Indonesia Foundation, Gerakan Anak Indonesia Membaca. (Ist)

Dengan program ‘Anak Indonesia Membaca’ dirinya berusaha mengkampanyekan pentingnya membaca bagi anak-anak.

“Saya ingin mengajak para orang tua untuk membudidayakan membaca dengan anak-anak mereka. Saya lihat di masyarakat banyak sekali orang tua yang tidak mau repot dan membiarkan anak-anak menghabiskan waktu dengan gadget mereka.

Astuti mendukung pemerintahan Presiden Jokowi yang saat ini sudah semakin mendukung gerakan literasi di Indonesia dengan berbagai cara. Salah satu dukungan pemerintah yang kongkrit adalah dengan adanya program pengiriman buku gratis pada tanggal 17 setiap bulannya.

“Harapan saya semoga program pengiriman buku gratis dari kami ini akan terus berlangsung dan lebih banyak masyarakat yang ikut berbagi buku dengan anak-anak di seluruh Indonesia. Semakin banyak anak-anak yang membaca maka semakin cerdas bangsa Indonesia,” katanya.

Astuti juga saat ini sedang menyelesaikan menulis beberapa buku bacaan anak-anak dan novel dan merencanakan untuk menerbitkannya.

“Sekarang masih bingung cara publikasinya. Menurut saya buku-buku yang dijual di toko buku konvensional kurang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan saya menulis buku dengan tujuan untuk mendorong minat baca anak-anak Indonesia. Kalau harga buku mahal bagaimana bisa menumbuhkan minat baca mereka. Jadi saya masih memikirkan caranya supaya buku yang saya tulis ini harganya bisa terjangkau oleh masyarakat luas,” paparnya. (Web Warouw)