Dari kiri: Adiati, Anny, 3, Fety dan suami. (Ist)

JAKARTA- Nama saya Adiati, usia  50 tahun. Saya berasal dari Tulung Agung, Jawa Timur. Saya anak nomer 5 dari 6 bersaudara dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai pedagang dan bertani mengolah pertanian dan perkebunan. Kedua orang tua saya meninggal sejak saya berusia 14 tahun. 

Saya selanjutnya mengikuti  paman dan bibi saya di Jakarta yang bekerja sebagai PNS. Saya bekerja di rumah mereka sebagai pekerjaan rumah tangga sambil disekolahkan. Karena itu saya tidak menerima gaji dalam pekerjaan saya sebagai pekerja rumah tangga itu.

Sekali-sekali saya menerima perlakuan yang kurang menyenangkan dari bibi saya sendiri ataupun paman dan anak anak nya. Kata-kata kasar dan beban kerja yang begitu berat harus saya telan.

Di rumah mereka itu ada 8 anggota keluarga. Saya harus mencuci semua baju, menyetrika dan memasak dan membersihkan rumah. Sehari dua kali harus mengepel rumah. Masakah  harus semua serba fresh,-- masak baru. Sejak usia 15 tahun itu saya belajar dan terlatih bisa menelan semua kepedihan hidup yang saya alami.

Pagi pada pukul 04.00 saya sudah harus bangun untuk memasak dan menyiapkan sarapan. Setelah itu mencuci baju kemudian mengepel rumah.  Setelah semua rapi, pukul 06.30  saya mandi dan pukul  07.00 saya berangkat sekolah.

Pukul 12.00 siang saya pulang sekolah dan jam 13.00 harus sudah sampai di rumah. Sesampai di rumah saya tidak langsung makan siang tapi harus mengangkat jemuran dulu. Setelah itu ganti baju dan makan siang.

Setelah sholat dzuhur  saya menyetrika baju sampai sebelum sholat  ashar harus sudah selesai rapi. Tugas berikut adalah mulai beres-beres rumah dan mengepel lantai lagi.

Selesai saya mandi sore dan sholat maghrib tiba saya menyiapkan masakan untuk makan malam semua keluarga. Selesai masak dan makan dilanjutkan cuci piring. Baru pukul 10 malam saya bisa istirahat dan tidur. Setiap hari saya bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga dirumah paman agar bisa lanjut sekolah.

Sering saya menangis di kebun belakang rumah. Saya menyembunyikan tangis saya tak ingin ketahui oleh para tetangga bibi saya. Dihadapan para tetangga bibi saya selalu menunjukkan kebaikan telah menyekolahkan saya. Padahal yaah, seperti itu. Belum lagi perlakuan anak-anaknya yang sangat kasar dan galak pada saya.

Namun karena tekat saya keras untuk tetap bisa melanjutkan study, saya tetap bertahan dan selalu semangat . Saya selalu bisa menyembunyikan semua kesedihan saya dari kawan-kawan disekolah dan para tetangga rumah.

Akhirnya saya tamat  dari SMA pada tahun 1988. Saya beranikan diri  pergi dari rumah bibi saya dan mencari pekerjaan lain. Saya ingin bisa lebih mandiri.

Begitu sulitnya saya berusaha mendapatkan pekerjaan. Saya datangi semua perkantoran, toko dan restoran. Namun itu semua belum ada bisa memberikan penghasilan yang cukup untuk membayar kost tempat tinggal.

Lanjut Kuliah

Akhirnya ada seorang kawan yang mengajak saya bekerja sebagai pekerja rumah tangga di keluarga bule untuk menjaga anak. Istilahnya nanny atau baby sitter.

Itulah pertama kali saya bekerja menjadi nanny pada tahun 1989 di keluarga expatriat berwarga negara Kanada. Istrinya orang Tegal, Jawa Tengah.

Saya mengatur jadwal tugas saya. Si bos memberikan tugas pada saya dari jam 6 pagi sampai jm 5 sore. Mereka menggaji saya cukup besar saat itu sebesar Rp 60,000 per bulan. Makan saya sudah dijamin oleh  bos. Saat itu, saya masih ada waktu sore untuk bisa  sekolah lagi.

Saya  melanjutkan  kuliah di STIE Purnama di dekat Blok M, dari jam 7 malam sampai jam 9 malam. Seminggu 3 kali masuk kuliah,-- Senin , Rabu dan Jumat.  Saya salah satu alumni pertama pada tahun 1994.

Disela waktu lain, saya ambil kursus bahasa Inggris seminggu 2 kali di Modern Collage dengan metode bahasa Inggris British pada hari Selasa dan Kamis sore jam 7 sampai jam 9 malam di Jalan Buncit,-- sekarang sudah jadi Toko ‘Total Buah Segar’.

Saya sudah tidak kos lagi, karena menginap di rumah majikan. Waktu itu bos bilang dari pada untuk bayar kos mendingan untuk bayar sekolah. 

Saya kuliah bayar sendiri per semester waktu itu  Rp 300,000. Kursus bahasa Inggris juga bayar sendiri Rpp 60,000 per tiga bulan. Saya kursus dari level elementary. setiap bulan naik level sampai free intermediate dan langsung ke level conversation.

Saya jalani hari-hari saya dengan senang hati bekerja sebagai nanny karena bos saya juga mendukung dan menyemangati saya untuk tetap bisa lanjut kuliah. Ini adalah kesempatan saya untuk bisa bermanfaat atas waktu, selain saya bekerja mendapat kan penghasilan. Saya juga dapat banyak pelajaran yang sangat berharga dalam hidup saya. Saya sangat merasa beruntung saat itu.

Saya jatuh cinta dan menikah dengan seorang pria asal Yogyakarta pada 18 Januari 1995. Dia bekerja sebagai driver di perusahaan Jepang di Jalan Sudirman, di gedung Summit Mas. Pernikahan kami mendapatkan dua orang anak.  Anak pertama saya bernama Anny sudah  berusia 23 tahun,-- saat ini sudah lulus perguruan tinggi di Poltekes Jakarta, belajar tehnik gigi. Sekarang sedang Anny sekolah lagi di PTN dengan jurusan psikologi. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan  mempermudah dalam mencari pekerjaan yang layak katanya. Anak kedua saya bernama Fety berusia 15 tahun dan masih duduk klas 1 SMA.  

Saya masih bekerja sebagai pekerja rumah tangga sampai saat ini. Saya senang bisa membantu  suami mencari nafkah dengan pekerjaan saya itu. Namun tentu saja tidak semua majikan saya memenuhi hak-hak saya.   Karena memang belum ada undang undang khusus yang mengatur perlindungan pada pekerja rumah tangga.

Saya jadi pekerja rumah tangga karena keterbatasan pengalaman saya untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik untuk bisa menjamin kelayakan kehidupan saya dengan keluarga saya. Termasuk membiayai sekolah anak anak saya.

Saya hanya berpikir bagaimanakah saya bisa membiayai masa depan dan pendidikan anak-anak saya. Agar kelak anak-anak saya mempunyai masa depan lebih baik dari pada hidup saya. Saya bersyukur dengan bekerja jadi PRT saya bisa membiayai sekolah anak anak saya. Walau belum sepenuhnya saya mendapat kan hak-hak saya, namut dalam bekerja sebagai pekerja rumah tangga, saya tetap semangat.

Sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh kawan saya untuk bergabung di organisasi Sapu Lidi pada tahun 2017. Organisasi Sapu Lidi bernaung di bawah sebuah federasi yang luas bernama JALA PRT.

Lewat berorganisasi saya menimba banyak ilmu dan pengetahuan terutama tentang perjuangan Pekerja Rumah Tangga. Akhirnya saya bisa berani bernegoisasi dengan majikan.  Sehingga saya bisa mendapatkan hak-hak saya. Jam kerja saya ada aturan dan gaji saya sudah agak layak dibanding sebelum saya bergabung dengan Sapu Lidi.

Organisasi mengajarkan saya untuk memahami 20 Unsur  Kerja Layak yang mencakup hak hari libur, jam kerja sesuai aturan Disnaker, hak cuti, hak THR, hak Jaminan Sosial  lain-lain nya.

Hingga saat ini saya sudah bekerja dibeberapa keluarga expatriat selama lebih kurang 25 tahun. Sudah seharusnya di negeri memiliki undang-undang yang melindungi Pekerja Rumah Tangga. Agar semua Pekerja Rumah Tangga termasuk saya mendapat kelayakan kerja dan upah,--seperti selayaknya kami juga sudah di akui sebagai PEKERJA. Sayangnya sampai saat ini kami, Pekerja Rumah Tangga belum mendapatkan hak-hak kami.

Saya sangat bermohon pemerintah mau mendengarkan keluh kesah kami sebagai Pekerja Rumah Tangga. Karena sesungguhnya kami juga warga negara yang punya hak yang sama dengan warga negara lainnya. Kami juga pekerja,--sama seperti pekerja lainnya. (Adiati)