Menkes RI 2004-2009, Siti Fadilah Supari. (Ist)

JAKARTA- Beberapa negara menuduh Indonesia tidak mampu mendeteksi virus Corona, karena sampai saat ini belum ada kasus pasien virus Corona di Indonesia. Tuduhan ini tidak benar karena tidak ada dasarnya. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Kesehatan 2004-2009, Siti Fadilah Supari di Jakarta, Selasa (11/2).

“Tuduhan itu tidak benar. Saya yakin Indonesia mampu mendeteksi virus Corona. Karena Indonesia memiliki banyak ahli yang mampu. Jadi kita gak perlu takut. Kalau dinyatakan belum ada yang karena memang belum ada temuan kasus virus Corona di Indonesia,” ujarnya ketika ditemui Bergelora.com di Rutan Pondok Bambu.

Siti Fadilah mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan dan beberapa ahli virus saat ini pasti sedang bekerja keras memastikan tidak ada pasien virus Corona. Karena ini adalah persoalan keselamatan seluruh rakyat Indonesia.

“Ada Prof. Sangkot Marzuki, ada Prof. David Mulyono dan Prof. Nidom dan ada banyak lagi ahli yang berpengalaman dibidang virologi dan microbiologi,” tegasnya.

Ia mengatakan bahwa laboratorium Indonesia juga cukup berpengalaman selama ini dibidang penyakit menular, sehingga untuk memastikan virus Corona, tidak terlalu sulit.

“Laboratorium di Indonesia lengkap. Ada Laboratorium Eijkman, ada laboratorium Balitbangkes, ada laboratorium Universitas Airlangga. Ada labotaorium Universitas Indonesia. Lewat uji klinis dan dengan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) virus Corona sudah akan terdeteksi” ujarnya.

Siti Fadilah menceritakan saat menghadapi Flu Burung (H5N1) yang lebih mematikan, para ahli dan laboratorium Indonesia bisa mendeteksi dan mengatasi wabah yang sempat merebak di Indonesia.

“Flu burung saja yang lebih mematikan bisa dulu kita hadapi, apalagi virus Corona. Jadi yakinlah, bahwa memang belum ada virus Corona di Indonesia. Menkes Terawan pasti bisa memimpin kita menghadapi ancaman virus Corona,” tegasnya.

Menurut Siti Fadilah, pemerintah dan masyarakat tidak perlu panik dengan tuduhan tersebut.

“Karena orang Indonesia sendiri memiliki daya tahan tubuh lebih kuat. Ini sudah dibuktikan waktu menghadapi Flu Burung H5N1,” tegasnya.


Tentang kekuatiran WHO, Siti Fadilah menegaskan agar pemerintah RI tidak perlu takut dengan tuduhan tersebut.

“Pemerintah dan rakyat Indonesia gak perlu takut dengan kekuatiran WHO yang tidak berdasar tersebut. Masak karena tidak melapor, mereka bisa menyimpulkan kita tidak mampu. Yang bener aja,” ujarnya.

Sudah saatnya menurut Siti Fadilah, pemerintah Indonesia menyatakan mencabut semua travel ban terhadap China dan kemanapun karena sudah bisa menghitung kerugian sendiri sebesar Rp 11 Triliun per minggunya.

“Pimpinan WHO sendiri sudah merevisi pernyataannya bahwa Global Health Emergency itu bukan berarti pembatasan travelling. Jadi gak perlu takut untuk bepergian,” tegasnya

Kekuatiran WHO

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan Indonesia harus melakukan persiapan lebih matang lagi demi menghadapi risiko penyebaran virus Corona. Mereka khawatir Indonesia tidak bisa mendeteksi virus tersebut, padahal negara-negara tetangga sudah melaporkan beberapa orang terjangkit.

Badan kesehatan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu juga khawatir bahwa sampai saat ini belum ada kasus virus Corona yang terdeteksi di Indonesia, sementara sampai saat ini total jumlah kasus epidemik itu telah mencapai lebih dari 40 ribu di seluruh dunia, terutama China.

"Indonesia tengah melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan penyebaran virus Corona. WHO dan Kementerian Kesehatan RI juga terus berkoordinasi. Pemerintah RI juga mulai menyebarkan informasi terkait virus ini kepada publik dalam beberapa hari terakhir," kata perwakilan WHO untuk Indonesia, Dokter Navaratnasamy Paranietharan di Jakarta.

Paranietharan mengungkapkan kekhawatirannya lantaran Indonesia belum melaporkan satu pun kasus virus Corona di negara berpenduduk 270 juta orang ini. Padahal, negara tetangga seperti Singapura, Filipina, Malaysia, Australia, Vietnam, dan Kamboja sudah mengonfirmasi sejumlah kasus virus Corona yang terjadi di negara mereka.

"Kami [WHO] khawatir karena Indonesia belum melaporkan satu kasus virus Corona yang terkonfirmasi," kata Paranietharan.

Kekhawatiran WHO itu muncul setelah laporan media Australia mengungkap bahwa Indonesia disebut belum memiliki alat pendeteksi virus Corona nCoV terbaru.

Dikutip The Sydney Morning Herald pada Jumat pekan lalu, koran berbasis di Australia itu dan The Age mengungkapkan bahwa Indonesia belum menerima alat tes khusus yang diperlukan untuk mendeteksi kasus positif virus Corona dengan cepat.

Pemerintah Indonesia disebut hanya mengandalkan alat tes pan-Corona virus yang secara positif bisa mengidentifikasi semua jenis virus dari keluarga Corona, termasuk flu biasa, SARS, dan MERS pada seseorang.

Dengan alat itu, petugas medis memerlukan waktu hingga lima hari untuk mengurutkan gen demi bisa memastikan apakah seseorang benar-benar positif virus Corona nCoV atau tidak.

Selain itu, kekhawatiran juga muncul setelah seorang warga Australia yang tinggal di Bali, Matthew Hale, khawatir dirinya terpapar virus Corona. Hale mengkritik penanganan dan perawatan termasuk uji lab yang ia terima dari rumah sakit di Bali.

Sejak itu, kekhawatiran atas kemungkinan kasus virus Corona yang tidak terdeteksi di Indonesia semakin tinggi.

Seorang ahli virus dari Universitas Queensland, Profesor Ian MacKay mengatakan jika kasus virus Corona tidak ditemukan maka ada risiko infeksi lebih lanjut atau kemunculan wabah baru. MacKay berharap bahwa orang-orang akan cepat melaporkan jika mereka sakit kepada dokter dan rumah sakit meski itu nampak belum terlalu serius.

Menurutnya, para ilmuwan tidak begitu percaya bahwa penyakit ini menular melalui udara.

"Jadi tidak terlalu mudah untuk mengatakan bahwa Anda harus bertatap muka langsung dengan seseorang demi menularkan virus ini," kata MacKay seperti dilansir The Guardian. (Web Warouw)