Miss Ombree disebuah pusat perbelanjaan. (Ist)

JAKARTA- Perkenalkan namaku Kastini, sedangkan nama populerku adalah Miss Ombree. Hobiku mewarnai rambut panjangku, merah, kuning, hijau,-- hingga warna pelangi pernah menghiasai rambutku. Mungkin karena hobi saya yang suka bergonta ganti warna rambut tersebut, jadilah panggilanku Miss Ombree melekat pada diriku.

Tepatnya pada tanggal 22 Januari kemarin usiaku genap 35 tahun. Saya berasal dari daerah Gunung Kidul, Yogyakarta,-- suatu daerah yang terkenal dengan kekeringan dan tidak adanya air. Air bisa jadi barang yang mahal dan langka di kampung bila musim kemarau tiba.

Nama ibuku Sadinem dan bapakku Suparso. Mereka bekerja sebagai petani. Walaupun usia meraka sudah lanjut tapi jiwa berkerja kerasnya belumlah berkurang. Bayangkan saja diusia kini, mereka masih pergi ke sawah setiap hari dari pagi-pagi buta sampai terkadang waktu magrib tiba  mereka baru kembali ke rumah, dengan jarak tempuh yang lumayan jauh dari rumah.

Panasnya terik matahari, dan dinginnya hujan tak dirasakan ibu dan bapakku. Pernah ku bilang ke mereka untuk tidak terlalu ngoyo pergi ke sawahnya. Tapi ya tetap saja ngoyonya. Sepertinya sifat itu menurun ke anak-anaknya. Adikku yang laki-laki bekerja sebagi tukang bangunan. Tentu pekerjaan yang berat bukan? Sedangkan adik perempuanku berdagang kecil-kecilan di daerah Cikarang. Sedangkan aku sendiri merantau di ibu kota, bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga.

Yah, sebagai anak pertama aku tidak boleh mengeluh dan menyerah dengan keadaan. Apalagi statusku sebagai single parent dengan anak satu berusia 6,5 tahun. Sebentar lagi ia masuk sekolah dasar. Tentunya perlu biaya yang tidak sedikit. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mencari nafkah sebagai tulang punggung keluarga itu kewajiban yang sedari dulu aku jalani semenjak lulus SMP. Karena putus sekolah aku harus merantau ke Jakarta. Dengan berbekal ijasah SMP dan tanpa keahlian apapun aku nekat ikut bude di Jakarta. Dalam benak kala itu bagimana aku bisa menghasilkan uang untuk melanjutkan sekolah lagi. Jujur saja, dulu aku termasuk anak yang pintar. Di sekolah, selalu masuk peringkat 2 besar. Makanya malu dan marah ketika harus putus sekolah karena himpitan ekonomi.

Tapi cita-citaku merantau bekerja dan melanjutkan kembali sekolah tidaklah mudah.  Ternyata mimpi bekerja dan menabung tidaklah gampang. Waktu itu aku bekerja dengan majikan lokal dengan gaji yang tidak layak dan beban pekerjaan berat. Setiap hari menerima makian dan tekanan,-- menjadi kenyataan yang harus ku hadapi.

Itu dulu ya..! Karena saat ini aku bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga di kawasan elit Cipete, dengan majikan expatriat berasal dari negara Amerika Serikat. Sekeluarga mereka berlima, sangat welcome padaku. Mereka sangat mengerti keadaanku sebagai single parent yang meninggalkan anak di kampung untuk bekerja.

Mereka memberikan aku hak-hak sebagai pekerja, seperti gaji sesuai UMR, libur mingguan dan libur tahunan. Sehingga aku bisa mengunakan cuti buat menengok anakku di kampung. Terkadang majikan membelikan mainan dan alat-alat sekolah buat Ezza anakku. Sungguh majikan yang baik. Tapi sayang, sebentar lagi, tepatnya bulan Juni nanti majikanku sudah habis kontrak di Indonesia dan harus kembali ke negaranya. Pastikan aku sangat bersedih. Tapi, life must go on. Semoga saja nanti ketemu majikan yang baik lagi seperti mereka lagi. Amien !

Majikanku juga mendukung kegiatan-kegiatanku dalam organisasi. Aku ceritakan banyak tentang persoalan Pekerja Rumah Tangga kepada mereka. Tentang situasi Pekerja Rumah Tangga yang sangat tidak layak di Indonesia. Tentang banyak kekerasan yang menimpa Pekerja Rumah Tangga. Tentang diskriminasi terhadap Pekerja Rumah Tangga. Makanya aku bilang ke mereka bahwa Pekerja Rumah Tangga itu penting untuk bersatu, berorganisasi dan berserikat sehingga menjadi kuat.

Jujur saja, dulu aku malu mengakui pekerjaan sebagai Pekerja Rumah Tangga. Tapi sekarang setelah berorganisasi, aku bangga menjadi Pekerja Rumah Tangga. Bangga banget malahan! Hidup Pekerja Rumah Tangga..!  (Miss Ombree)