Siti Yasinta, Pekerja Rumah Tangga dari Malaysia sampai Sudan. (Ist)

JAKARTA- Tidak semua perempuan bisa mudah menyekolahkan anaknya. Seperti yang saya alami sendiri saat ini. Nama saya Siti Yasinta. Saya berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Saya tamatan SMA tahun 1988 tapi kemudian ikut kursus Bahasa Inggris di  Bali tahun 1989. Saya sempat bekerja menjadi Konsultan Gempa Bumi di Flores tahun 1993-1995.

Saya menikah pada tahun 1997 dan berhenti bekerja karena harus ikut suami ke Lombok. Selama di Lombok saya berperan sebagai ibu rumah tangga,-- hanya mengurus suami dan anak. Waktu demi waktu saya lalui hidup saya total sebagai ibu rumah tangga yang bahagia.

Malang tak dapat ditolak, pada tahun 2007 suami saya meninggal dunia karena sakit. Saat itu anak saya masih kecil dan masih banyak butuh biaya pendidikan. Selain tentu untuk kelangsungan hidup kami berdua. Untuk itu saya memutuskan harus mencari pekerjaan, sementara anak saya titipkan kepada orang tua suami di Lombok.  

Saya beranikan diri mengambil pekerjaan ke luar negeri. Pada tahun 2008, saya berangkat ke Khartoum, Sudan menjadi Pekerja Rumah Tangga. Dalam kontrak yang saya tandatangani, disebutkan saya akan bekerja  sebagai pengasuh bayi. Tetapi kenyataanya, saya mengerjakan segala hal,-- dari beres-beres sampai memasak,--pokoknya serabutan.

Namun semua saya jalani dengan sabar. Karena tekat dan tujuan utama saya adalah agar anak saya bisa sekolah. Supaya jangan sampai bernasib seperti saya.  Akhirnya selesai juga kontrak pertama saya selama 2 tahun dan kembali ke tanah air.

Tapi setelah sebulan di kampung, majikan menelpon untuk segera kembali lagi.  Karena anaknya yang saya asuh selalu menangis dan mencari saya. Sebenarnya berat untuk meninggalkan anak kembali. Tapi karena saya harus bisa menyekolahkan anak, saya lalu meminta ijin anak saya dan akhirnya berangkat lagi ke Sudan.

Sebenarnya, kerja di negeri orang tidak menyenangkan. Bayangkan saja,--majikan tidak mengijinkan saya untuk memegang hape. Majikan paling takut kalau saya memegang hape. Jadi kalau mau menelpon anak, harus menunggu majikan sedang dalam kondisi bagus perasaannya, sehingga bisa pinjam hape untuk bisa menelpon anak dan keluarga di kampung.

Pada tahun 2012 akhirnya saya pulang kampung. Saya sudah bertekad untuk tidak lagi bekerja jauh dari anak. Karena ia pasti membutuhkan kehadiran saya. Saya mencoba mencari pekerjaan kesana kemari. Saya beranikan diri juga melamar kembali di perusahaan tempat saya bekerja sewaktu masih gadis.  Tapi tidak diterima, karena usia sudah di atas 30-an.

Akhirnya dengan berat hati saya harus kembali bekerja di luar negeri agar bisa melanjutkan sekolah. Kali ini saya bekerja ke Kuching, Malaysia Timur, sebagai pengasuh anak dari tahun 2013 sampai 2015.

Saat itu saya mengambil tawaran bekerja sebagai nanny pengasuh. Namun ternyata hanya 3 Bulan. Setelah itu saya dipekerjakan sebagai cleaning services harian yang di bayar 100 RM (Ringgit Malaysia) atau sebesar Rp 300,000 per hari. Tapi upah tersebut diambil oleh majikan. Bayangkan dalam sebulan seharusnya saya bisa mengumpulkan uang sampai 2.600 RM atau sebesar Rp 7,800,000. Tapi saya hanya  dibayar  650 RM atau sebesar Rp 1,950,000,-- tidak sesuai kontrak kerja semula.

Memang ada beberapa orang Malaysia yang bersikap zholim mencari keuntungan dari TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Mereka memanfaatkan kelemahan para pencari kerja di sana. Inilah salah satu pengalaman saya yang terburuk selama menjadi Pekerja Rumah Tangga. Tapi akhirnya saya bisa kembali lagi ke Jakarta tahun 2018 dan mendapatkan pekerjaan bekerja sebagai nanny,--pengasuh anak orang berkebangsaan Spanyol sampai saat ini.

Jalan hidup setiap orang memang berbeda-beda. Semoga sedikit pengalaman saya sebagai ibu, mengingatkan bahwa demi anak, yang dicintai, kemanapun akan kami rela bekerja. (Siti Yasinta)