Titi Haryati bersama kawan-kawan berfoto dengan Abi Rabian, dosen PIH dan PTHI. (Ist)

JAKARTA- Hingga saat ini masih ada sekelompok masyarakat memandang para Pekerja Rumah Tangga (PRT) sebagai pembantu, asisten bahkan babu. Pandangan warisan jaman kolonial ini yang menghambat kemajuan peradaban suatu bangsa. Seorang Pekerja Rumah Tangga menuliskan pengalamannya kepada Bergelora.com. Saya Titi Haryati berusia 31 tahun asal dari Banten. Saya anak kedua dari 3 bersaudara dan nama orang tua ayah Sakim, ibu Astiah pekerjaan mereka sebagai petani. Saya mempunyai seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang di beri nama Rahmat Oktaviano dan sekarang dia duduk disekolah dasar .

Saya bekerja di Jakarta sebagai PRT (pekerja rumah tangga). Tapi sebelum saya bekerja sebagai PRT, saya bekerja di salah satu restoran Chinese food, kemudian di sebuah perusahaan perikanan exspor-impor, di bagian proses dan packing di daerah Muara Angke.

Setelah saya tidak bekerja lagi saya menikah dan mempunyai anak. Setelah punya anak saya  bercerai. Karena saya harus menghidupi anak dan keluarga saya akhirnya kembali bekerja dan memilih jadi Pekerja Rumah Tangga dan saya hanya lulusan SLTP dan dari keluarga kekurangan.

Titi Haryati bersama anggota Sapulidi dalam kegiatan mengampanyekan 20 unsur kerja layak PRT di Kampung Wisata Pantai Indah Kapuk (Ist)

Pada tahun 2012 saya bekerja sebagai PRT pada majikan lokal (Indonesia). Dan selama saya bekerja di situ saya mendapatkan sebagian hak-hak saya seperti libur dan dapat pulang 3 bulan/1 Minggu. Tapi di dalam dunia kerja pasti ada enak dan nggaknya. Terutama sebagai Pekerja Rumah Tangga, karena masih banyak orang yang memandang Pekerja Rumah Tangga dengan sebelah mata dalam tanda kutip memandang tidak sekolah/berpendidikan.

Saya merasa bangga jadi PRT karena membuat saya banyak belajar dari segi keterampilan,masak,berbicara,dan melatih diri dan jadi orang yang lebih sabar. Karena pekerjaan PRT bukan menguras tenaga saja tapi keseluruhan jiwa dan raga kita baik dari segi pikiran,tenaga dan emosi.

Dari bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga saya bisa membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di kampung, membiayai pendidikan adik sampai tamat SMA, dan anak sekolah . Dan sekarang saya bisa membiayai kuliah sendiri di salah satu Universitas Swasta di Tangerang dan mengambil jurusan PENDIDIKAN. Saya mengambil jurusan pendidikan karena ingin merubah pandangan sebagian besar orang di Indonesia  yang memandang sebelah mata  terhadap PRT (pekerja rumah tangga) dengan memandang  tidak berpendidikan tinggi.

Saya menjalani kuliah setiap hari Sabtu. Kenapa cuma hari Sabtu karena saya mengambil kelas karyawan. Karena Senin-Jumat saya bekerja sebagai PRT. Saya menjalani kuliah dan kerja dengan senang. Disaat kuliah saya mendapat ilmu-ilmu yang belum pernah saya dapatkan/dipelajari, karena saya hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat lanjutan (SMP). Untuk masuk universitas saya mengambil pendidikan sederajat/paket c. Di saat kuliah saya mendapat ilmu-ilmu baru misal tentang hukum, hak dan kewajiban sebagai warga negara dan lainnya, dari orang-orang yang sudah teruji.

Saat saya di dalam kampus sering sekali saya jadi bahan objek olokan, karena saya pekerja rumah tangga (PRT). Contoh kalau ada sampah dalam kelas teman-teman selalu menyuruh saya untuk membersihkan sampah tersebut dengan menyebut saya ahlinya dalam bersih-bersih. Karena menurut  sebagian dari mereka pekerja rumah tangga bukanlah pekerjaan yang layak.

Walaupun saya pekerja rumah tangga saya mendapat nilai yang lumayan membanggakan dengan IPK diatas 3 dan sekarang saya semester 3. Saya mengatur antara kerjaan dan belajar dengan baik. Karena saya mendapat dukungan pula dari majikan untuk menjalani kuliah,dari waktu dan lainnya.

Saya berkeinginan kuat mau kuliah karena berorganisasi/bergabung dengan SPRT SAPULIDI pada awal 2018. Setelah berorganisasi dan sayapun mengikuti sekolah wawasan yang di adakan SPRT SAPULIDI dan pembicaranya adalah ibu Lita Anggraeni dari situ saya tau begitu banyak kasus Pekerja Rumah Tangga yang tidak dapat hak dan keadilan misalnya tidak mendapat upah layak, kekerasan secara pisik/psikis, pelecehan sexual dan sebagainya. Pandangan orang terhadap Pekerja Rumah Tangga memang sering merendahkan.

Saya dan teman-teman pekerja rumah tangga lainnya sangat berterimakasih pada ibu Lita Anggraeni dan teman-temannya yang mau merangkul dan peduli terhadap pekerja rumah tangga. Saya bisa menjadikan pekerja rumah tangga yang cerdas dan berwawasan dengan adanya sekolah wawasan, pendidikan sederajat, les komputer dan sebagainya. Pekerja Rumah Tangga  jaman now adalah PRT yang cerdas.

Kami, Pekerja Rumah Tangga bukanlah pembantu, bukanlah asisten, apalagi babu. Kami pekerja dan butuh perlindungan dari pemerintah sah kan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Karena kami dalam bekerja mengunakan pikiran, tenaga dan bertanggung jawab terhadap majikan. Kami juga punya tanggung jawap kepada keluarga di kampung. Sama halnya dengan seluruh kaum pekerja Indonesia lainnya. (Titi Haryati)