Konferensi pers Gubernur Riau, Syamsuar. (Ist)

PEKANBARU - Gubernur Riau, Syamsuar, mengatakan Pelabuhan Dumai akan menjadi lokasi kedatangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang dari Malaysia karena negeri jiran tersebut memberlakukan kebijakan penutupan atau “lockdown” akibat pandemi COVID-19.

“Jumlahnya saya belum tahu pasti, tapi kapasitas satu kapal di Dumai antara 200-300 (orang) satu hari. Tapi ini akan tiap hari karena sekarang kewalahan di Karimun, disana sampai ribuan. Ini kita saatnya bantu saudara-saudara kita,” kata Syamsuar di Pekanbaru, Rabu (25/3).

Ia mengatakan mendapat telepon dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada Selasa malam (24/3) yang memerintahkan agar Riau mempersiapkan Pelabuhan Dumai untuk kedatangan pekerja migran Indonesia dari Malaysia. Dengan begitu, kepulangan ribuan TKI tidak lagi menumpuk di Pelabuhan Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Pemulangan pekerja migran Indonesia melalui Pelabuhan Dumai diharapkan bisa secepatnya, karena itu Gubernur Riau akan terus berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri dan berkoordinasi dengan Wali Kota Dumai.

“Kapan waktunya? Inilah nanti perlu kita sampaikan ke wali kota apakah besok bisa. Kalau bisa, maka mulai besok,” ujarnya.

Ia mengatakan sudah menggelar rapat dengan Forkominda Riau, instansi dan dinas terkait untuk melakukan persiapan dari segi pemeriksaan kesehatan dan pengamanan sebab Malaysia termasuk negara pandemi COVID-19 dan tercatat sudah lebih dari 1.600 orang yang positif terinfeksi virus corona.

Strategi pemantauan kesehatan setiap WNI yang baru turun dari kapal di Pelabuhan Dumai adalah cek suhu badannya, dan wajib mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (HAC) oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) bersama dinas kesehatan.

“Apabila ada yang kedapatan suhunya melebihi 38 derajat, maka mereka wajib dikarantina,” katanya.

Sedangkan bagi WNI lainnya yang suhu badannya normal, maka bisa kembali ke daerah masing-masing dengan bus yang dikawal oleh aparat kepolisian.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliana Nazir, menambahkan setiap WNI yang datang dari Malaysia secara otomatis masuk dalam kategori ODP (Orang Dalam Pemantauan). Mereka diminta untuk tidak berkeliaran dan mengisolasi diri selama minimal 14 hari karena bisa saja berpotensi membawa ataupun tertular virus corona dari Malaysia.

“Mereka diimbau untuk mengisolasi diri,” demikian Mimi Yuliana Nazir.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tjetjep Yudianan mengatakan seluruh warga negara Indonesia yang baru pulang dari Malaysia dan tiba di Kepri, harus melalui masa karantina 14 hari.

"Tetap diobservasi selama 14 hari," kata dia, di Batam, Selasa (25/3).

Sebanyak 81 orang WNI, deportasi dari Johor Bahru, Malaysia tiba di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Selasa.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Batam, Achmad Farchanny menyatakan prosedur pemeriksaan kesehatan seluruh WNI yang tiba dari Malaysia, tetap mengikuti aturan yang berlaku.

"Kalau prosedur di Batam Centre sama saja dengan kedatangan siapa pun dari negara atau daerah terjangkit. Yang terpenting, sampai di Tanjungpinang pemantauan harus ketat," kata dia.

Setibanya di Batam, seluruh WNI itu langsung menuju Pelabuhan Punggur Batam, melanjutkan perjalanan ke Kota Tanjungpinang, menumpang kapal cepat.

Dikarantina Di Malaysia

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sementara itu, dari Tanjungpinang dilaporkan, Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Kepulauan Riau melakukan penyemprotan cairan disinfektan di area Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) TKI Tanjungpinang.

Beberapa petugas satgas yang dilengkapi alat pelindung diri tampak menyisir satu per satu sudut gedung. Mereka menggendong tangki cairan dan mulai melakukan penyemprotan.

Pihaknya menjamin kegiatan akan terus dilakukan hingga semua wilayah di Kepri steril dan bebas dari virus.

"Kepada satgas, relawan, dan masyarakat kami sampaikan terima kasih atas bantuannya, dan mohon dukungannya agar kegiatan ini dapat terus berjalan hingga badai virus ini berlalu,” ucap dia.

Dia mengimbau masyarakat tetap tenang namun tidak mengurangi kewaspadaan, serta teliti dalam memilah berita.

Sebab, katanya, informasi yang marak sekarang tidak boleh dipercaya sepenuhnya, apalagi sampai berbelanja kebutuhan pokok dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu.

“Sampai hari ini pemerintah terus berusaha agar daerah kita kembali pulih seperti semula. Tidak perlu lakukan panic buying dengan menumpuk persediaan bahan pokok karena untuk saat ini karena ketersediaan sembako sangat cukup," tegasnya.

Positif Corona, 22 WNI Dirawat di Singapura

Sebelumnya dilaporkan Sebanyak 22 orang warga negara Indonesia dirawat di sejumlah rumah sakit di Singapura karena dinyatakan positif COVID-19, demikian KBRI Singapura dalam siaran persnya, Selasa (25/3).

Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan 4 WNI positif COVID-19 di Singapura hingga Senin (23/3), dengan begitu total 24 WNI yang positif terpapar virus corona.

"Dari 24 WNI tersebut, satu orang telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan dari rumah sakit, satu orang meninggal dunia, dan 22 orang masih dirawat di rumah sakit," sebut KBRI dalam rilis.

Ia mengatakan, dari 22 orang yang dirawat di rumah sakit, 20 orang di antaranya dalam kondisi stabil dan dua orang lainnya dalam perawatan intensif.

Sebanyak empat kasus baru WNI positif virus corona yaitu kasus 466, 470, 476, dan 479. Tiga dari empat WNI itu memiliki perjalanan ke Indonesia.

Kasus 466 WNI lelaki berstatus permanent resident Singapura berusia 55 tahun yang memiliki riwayat perjalanan ke Indonesia dan saat ini dirawat di NCID.

Kasus 470 WNI perempuan berstatus permanent resident Singapura berusia 24 tahun yang memiliki riwayat perjalanan ke Indonesia dan saat ini dirawat di NCID.

Kasus 476 WNI lelaki pemegang Singapore Work Pass berusia 68 tahun yang memiliki riwayat perjalanan ke Indonesia dan saat ini dirawat di NCID.

Dan kasus 479 WNI perempuan pemegang Singapore Work Pass berusia 35 tahun yang saat ini dirawat di NUH.

KBRI menyatakan akan terus melakukan pemantauan secara dekat dan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berwenang terkait penanganan WNI.

KBRI Singapura juga mengingatkan kepada seluruh WNI yang berada dan berencana berkunjung ke negara setempat, status DORSCON Oranye masih berlaku di Singapura, sehingga perlu kewaspadaan tinggi.

Sementara itu, Pemerintah Singapura mengkonfirmasi 54 kasus baru positif COVID-19, menjadi total 509 kasus.

Pemerintah negara setempat juga mencatat delapan pasien yang dinyatakan sembuh dan dipulangkan, sehingga total 152 orang yang dinyatakan puluh.

Dari 355 pasien positif yang masih dirawat, mayoritas berada dalam kondisi stabil, dan 15 pasien yang berada di ICU. (Patar Sianipar)