Siswa SMAN 5 Palu sedang membuat alat pelindung diri untuk petugas kesehatan. (Ist)
PALU– Sejak sepekan ini, aktifitas di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Palu tidak terliat seperti biasanya. SMK ini secara khusus menerima pesanan Pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) untuk Rumah Sakit Umum (RSU) Undata Palu.
 
SMK Negeri 5 Palu ini mendapat orderan memproduksi 200 APD yang akan digunakan tenaga medis yang akan menangani pasien corona di RSU Undata Palu.
 
“Pembuatan APD tersebut kami bekerjasama dengan RSUD Undata Palu untuk kebutuhan para petugas medis di rumah sakit tersebut,” kata Ketua Unit Produksi SMKN 5 Palu, Raja Patta, Senin  (23/3)
 
Waktu yang diberikan dari pihak rumah sakit untuk membuat APD ini selama dua minggu. Minggu pertama sudah diproduksi sebanyak 100 APD dan sudah diserahkan kepada pihak rumah sakit untuk digunakan.
 
Dan 100 APD lagi rencananya minggu ini akan segera selesai diproduksi untuk diserahkan ke pihak rumah sakit.
 
Dalam produksi APD ini melibatkan 7 orang terdiri dari guru serta satu orang alumni SMK Negeri 5 Palu.
 
Bahan yang digunakan untuk membuat APD tersebut yaitu dari kain Spunbond yang biasa gunakan untuk membuat tas.
 
Menurut Raja, bahan tersebut digunakan sesuai rekomendasi standar APD dari pihak RSUD Undata Palu. Demikian kata Raja Petta, untuk model APD yang dibuat juga sesuai standar APD, berupa topi hingga masker.
 
“Bahan baku kami dapatkan dari di Kota Palu. Dan hingga saat ini sudah bahan tersebut sudah mulai berkurang,”katanya.
 
Para dokter, perawat sampai cleaning service yang bertugas di rumah sakit saat ini menyabung nyawa berada di garda terdepan, menyelamatkan pasien Corona rakyat Indonesia. Dengan keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) mereka tetap berjuang sendiri menjalankan tugas sebagai penyelamat rakyat dan bangsa ini.
 
Inisiatif masyarakat membuat masker, handsanitizer, sampai APD justru haru disupport bukan malah ditangkap dan dipidana. Seperti yang dilakukan pelajar di SMAN 5 di Palu.
 
"Mestinya pemerintah manfaatkan penjahit atau perusahaan untuk membuat masker jahit dibagi ke masyarakat. Masker yang di jahit bisa dicuci ulang. Gak ada alasan tidak sesuai standar kesehatan, ini keadaab darurat, koq menuntut standar penyelamatan diri," demikian Lia Somba, dari Serikat Tani Nasional (STN) di Palu.
 
Lia yakin ada banyak perusahaan kain, pembuat baju yang bisa di manfaatkan dan dibiayai oleh pemerintah. Ada banyak usaha UMKM  yang punya usaha menjahit. Di Palu penjahit baju sekarang beralih menjahit masker kain. 
 
"Teman saya alumni STM yang memang keluarganya punya usaha menjahit turun temurun sekarang buat masker dan mendapat
orderan masker kain ribuan lembar sampai daerah di luar kota Palu ribuan lembar. Yang memesan dari berbagai organisasi yang akan dibagikan gratis kepada masyarakat ataupun dari pedagang eceran," jelasnya. 
 
Temannya membuat masker kain dengan membandrol harga Rp 10.000/ 3 lembar dan niatnya memang untuk membantu orang yang membutuhkan. 
 
"Hal ini harusnya bisa bekerjasama dengan pemerintah daerah sekaligus dapat membantu usaha masyarakat dan kerja di rumah dengan tetap bisa mengahasilkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mengikuti himbauan pemerintah "dirumah saja" sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona," ujarnya. (Web Warouw)
 
 
 
 
 
 
.