Yuni Sri Rahayu, seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT), menghadapi pemotongan upah di saat wabah Corona dengan berjualan dan mengantarkan makanan ke pelanggan. (Ist)

JAKARTA- Bergerak dalam situasi pandemik Corona ini tidak mudah. Saat banyak orang diam di rumah karena pandemik saya justru wara-wiri kesana dan kesini hanya untuk mencari uang demi menyambung hidup.

Saya salah satu pekerja rumah tangga yang terkena dampak Covid19, bekerja dengan paruh waktu di dua apartemen berbeda dan keduanya menjadi tidak jelas dengan upah dan pekerjaan.

Pada pekerjaan di area apartemen Cilandak,--saya dirumahkan bulan April 2020. Saya tetap diupah sebulan penuh tanpa potongan, walaupun dari pertengahan April saya sudah dirumahkan dengan besaran upah Rp 2.100.000. 

Yang jadi pikiran saya saat ini,--apakah majikan ekspat saya ini akan memberikan upah bulan Mei ini sama dengan bulan April kemarin? Inilah yang menjadi problema saya, karena sebenarnya kehidupan saya dan anak saya tergantung dari pendapatan upah yang setiap bulan saya terima.

Satu tempat pekerjaan lagi di kawasan Pondok Indah yang melakukan PHK pada diri saya.  Karena untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19, maka pihak manajemen gedung Apartemen menetapkan ketentuan bahwa PRT yang dengan kondisi pulang-pergi sementara dirumahkan. Atau mereka bisa bekerja dengan ketentuan jika majikan membuat surat pernyataan ke pihak manajement untuk memperkerjakan PRT nya dengan waktu dan jam yang mau dikurangi.

Akhirnya majikan bisa mempekerjakan saya dengan peraturan yang baru di saat PSBB ini.  Namun, ini menjadi masalah baru lagi untuk saya. Dengan perubahan jam kerja dan hari kerja yang dikurangi seperti biasa tidak akan mempengaruhi upah yang saya dapat,---ternyata saya salah besar.

Sekarang Yuni Sri Rahayu juga mengembangkan berjualan berbagai macam jenis tas yang bisa dilihat di aplikasi jualan online di https://s.lazada.co.id/s.0CJBG  dan https://shopee.co.id/barenoslimbags?smtt=0.0.9  dan beberapa media sosial. (Ist)

Saya senang saat itu ternyata pak bos butuh tenaga saya jadi dia menemui pihak manajemen untuk mengatur jadwal kerja saya. Jika setiap majikan dari unit dan tower yang ada tidak melakukan pemberitahuan tentang pekerjanya maka PRT yang pulang pergi tidak diperbolehkan masuk. Dengan keadaan inipun banyak PRT yang dirumahkan oleh majikannya tanpa diupah dan belum jelas kapan bekerja.

Saat itu saya berpikir masih bersyukur karena majikan masih butuh saya.Karena saat itu majikan perempuan saya sudah pergi ke negaranya untuk melahirkan di sana dan mengajak satu anak perempuan mereka yang berumur 10 tahun ikut  ke Korea. Karena di Jakarta pun sekolahnya di liburkan sampai batas yang belum di tentukan kapan masuk.

Tapi saya kecewa disaat majikan perempuan berbicara lewat whatsapp bahwa dengan pengurangan jam dan hari kerja maka upah saya akan dikurangi. Saat itu saya merasa sedih dan bingung bagaimana untuk memenuhi kebutuhan saya dan ke 4 anak saya ini.

Biasanya, saya bekerja setiap hari dari Senin sampai Jumat dengan 5 jam kerja saya akan mendapatkan upah setiap bulan Rp 2.300.000 upah dan uang parkir.  Saat pandemi ini akan menerima upah hanya Rp 1.500.000 karena jam kerja menjadi 4 jam kerja dan hari kerja menjadi seminggu 3 kali saja.

Majikan menjelaskan bahwa saya diupah per kedatangan Rp 100.000. Jadi dalam sebulan 15 kali datang dalam sebulan dan ditambah 100.000 untuk parkir.

Yuni Sri Rahayu, seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT), sedang mengantarkan pesanan pada pelanggan. Usaha ini berhasil dirintisnya saat menghadapi pemotongan upah di saat wabah Corona dengan berjualan dan mengantarkan makanan ke pelanggan. (Ist)

Disatu sisi saya tidak terima, tapi disisi lain lagi saya harus terima kenyataan,-- terima dengan ini semua atau saya akan kehilangan pekerjaan. Yang saya tahu mencari pekerjaan dalam situasi pandemi ini sangat susah. Sudah banyak kawan PRT yang di PHK karena pandemi Corona.

Akhirnya dengan berat hati harus terima kenyataan upah saya di potong karena Corona. Mungkin disisi lain saya harus bersyukur walaupun dikurangi upah, saya tidak kehilangan pekerjaan dan bisa menjadi pemasukan saya walaupun tidak sesuai keinginan.

Berjualan Online

Karena dengan 2 pekerjaan saya yang tidak jelas maka mendorong saya untuk banting stir dengan berdagang online. Hanya ini yang saya bisa,---belajar untuk online di media sosial dan whatsapp dengan sedikit kemampuan yang saya miliki.

Akhirnya, dari tempat tinggal saya di Jalan Haji Tolib, Cipete Utara, saya mencoba berjualan makanan ringan dan frozen food yang saat ini semua orang butuh untuk makan. Pokoknya campur-campur tergantung minat pembeli.

Dikarenakan terbentur modal dan tempat penyimpanan maka saya menjual hanya bagi pembeli yang pesan makanan tersebut. Jadi dari hasil penjualan  akan  saya belikan kembali pesanan pembeli lainnya dan keuntungan memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa untuk uang jajan anak saya.

Saya harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil saya karena saya single parent,-- harus mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan.

Saat ini saya tidak hanya berjualan makanan frozen food seperti nugget, sosis, kentang goreng, dan kripik bawang yang mungkin minatnya banyak karena disituasi menjelang lebaran biasanya banyak yang butuh kue kering. Sekarang Saya  juga mengembangkan berjualan berbagai macam jenis dagang seperti tas-tas lokal di lewat aplikasi jualan online dan beberapa media sosial.

Jika ada konsumen yang berminat bisa menghubuni saya lewat telpon atau Whatsapp ke nomor saya di nomor saya 0812-13777995 atau 0858-94781647. Berbagai tas menarik yang dijual bisa dilihat pada akun: https://s.lazada.co.id/s.0CJBG dan https://shopee.co.id/barenoslimbags?smtt=0.0.9

Saya bersyukur walau untung sedikit dagangan saya ini banyak kawan yang minat. Hanya dengan upload status di whatsapp dan facebook banyak pembeli memesan, barang saya antar ke tempat pembeli.

Saya sangat bersyukur kawan-kawan saya mau membeli dagangan saya dengan begitu bisa membantu perekonomian saya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Inilah suport dari kawan-kawan saya dalam membantu perekonomian di saat pandemik.

Karena dengan  upah Rp1.500.000 saya harus berpikir untuk membayar rumah kontrakan yang harusnya saya bayarkan sejuta per bulan dan setoran motor  kisaran satu jutaan. Namun saat pandemi ini saya kurangi untuk membayar kontrakan dan setoran motor saya bisa berkurang.

Kebutuhan sehari yang mendesak inilah  mendorong saya untuk semangat berjualan online. Dalam hati saya hanya berharap situasi pandemik Corona ini cepat selesai dan semua normal saya bisa mencari pekerjaan lagi. Saat ini juga saya berharap semoga saya selalu di beri kesehatan supaya saya bisa melakukan aktifitas di luar rumah demi anak anak saya. Situasi pandemi ini membuat ruang gerak kita dibatasi, tapi membuat kita lebih cerdas agar bisa survive. Yang penting tetap semangat dan jaga kesehatan sambil mencari rupiah demi hidup yang mahal. (Yuni Sri Rahayu)