Perempuan mengais padi sisa di sawah orang. (Ist)

JAKARTA- Lebaran kali ini memang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Corona yang mulai memuncak sejak Februari sampai pertengahan Maret 2020 membawa dampak yang kurang baik bagi rakyat dan pekerja Indonesia termasuk Pekerja Rumah Tangga (PRT). Apa lagi saat ada pemberlakuan Work From Home (WFH) pada 16 Maret 2020 untuk memutus penyebaran covid-19.

Para pekerja, khususnya pekerja rumah tangga (PRT) yang dirumahkan dan di PHK tidak bisa pasrah dan berdiam diri melainkan melakukan terobosan lain yang bisa menghasilkan uang. Diantaranya berjualan pakaian, makanan snack lebaran, kue kering dan basah, sayuran, lauk dan lainnya. Penjualan dilakukan baik secara online maupun dibawa keliling ke rumah-rumah tetangga.

Modal terakhir para PRT hanya uang tabungan hasil kerja dibulan-bulan sebelumnya. Seperti yang disampaikan Lia di Tangerang Selatan kepada tungku menyala. Mau mudik tidak punya biaya, minta bantuan ke keluarga yang di kampung kondisinya sama.

Cara lain adalah mengumpulkan sisa padi di sawah agar tidak membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari. Meski hasilnya tidak banyak, tapi setidaknya bisa menyambung kebutuhan hidup. Inipun belum memikirkan bagaimana untuk memenuhi kebutuhan lain seperti sewa rumah, biaya sekolah anak-anak termasuk beli paket untuk mengikuti pelajaran sekolah,  bayar pajak motor dan lainnya.

Yang jelas hidup dibawah kondisi diatas bukan berarti menyurutkan semangat para PRT. Justru saatnya untuk melakukan kebaikan membangun solidaritas kepada teman yang lain. Sejak awal penetapan situasi darurat, di setiap organisasi, solidaritas PRT semakin kuat dikalangan semua organisasi yang tergabung di Jaringan Advokasi Nasional Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) yang ada di Jabodetabek, Semarang, Makasar, Medan, DI Yogyakarta. Semua organisasi PRT,  bersama membantu anggotanya yang terkena dampak Corona dengan cara membagi  sembako, masker, hand sanitaizer, makanan cepat saji dan lain-lain. Bantuan itu berasal dari lembaga pemerintah, non pemerintah, organ-organ lain maupun perseorangan yang memiliki kepedulian terhadap PRT. 

PHK PRT

Tidak semua pekerja bisa melakukan pekerjaannya di rumah sendiri. Salah satunya PRT. Tetap saja  keluar mendatangi  rumah majikan. Dengan berbagai resiko. Tidak hanya resiko kesehatan dirinya tapi juga pekerjaan. Karenanya kemudian dengan berbagai alasan majikan memberhentikan sementara dengan tanpa ada kepastian kapan dipekerjakan lagi. Kebanyakan PHK pada PRT dilakukan tanpa pesangon.

Siti Amelia (22 tahun) asal Cirebon,  bekerja di Pamulang, Tangerang Selatan sejak sebulan yang lalu sudah dirumahkan karena  si bos sudah tidak bisa membayar gaji lagi. Usaha rumah makan di Pamulang lagi sepi pembeli dan akhirnya ditutup.

Tidak jauh beda dengan yang di Sidoarjo. Menurut Ririn Sulastri (49 tahun) puluhan PRT dirumahkan majikan masing-masing karena sang majikan sudah tidak bekerja lagi alias diPHK dari perusahaannya. Usaha kos-kosan sepi.  Begitu pula yang di Medan dan Yogyakarta.

Sejatinya majikan takut tertular virus dari PRT nya. Karena menurut para majikan, PRT yang tidak menginap di rumah majikan akan membawa virus dari luar karena sering berpapasan dengan banyak orang di jalan.

Kondisi ini terus berlanjut hingga memasuki bulan puasa, bahkan sampai menjelang lebaran  tiba. Selain dampak PRT diPHK, ada yang THRnya dibayar dua kali. Yang Separuh gaji dibayar sebelum lebaran yang separuhnya lagi dibayar sesudah lebaran. Jadi terbilang dihutang.  Majikan merasa keberatan jika dibayar satu bulan gaji sekaligus.

Beberapa kawan PRT mendapatkan bingkisan berupa Minyak goreng 1/2 liter, sirup 1 botol, dibelikan baju dan lainnya.  Yang harganya kalau dihitung tidak sesuai dengan jumlah upah yang diterima perbulan.  Selama ini penghasilan dan simpanan PRT sangat kecil, belum tentu punya simpanan atau tabungan untuk mencukupi saat dirumahkan yang belum ketahuan sampai kapannya.

Hal yang membuat sesak di dada ketika Presiden Joko Widodo menyampaikan keputusannya pada Selasa, 21 April 2020 bahwa untuk mudik  semua dilarang. Lebaran di  rumah saja. Bagi PRT yang merantau ke kota meninggalkan keluarga ini sangat menyedihkan. Karena selama ini sudah tidak  setiap waktu bisa ketemu melihat keluarga di kampung. Harapan satu-satunya adalah di hari raya lebaran seperti saat ini, juga pupus. Anak yang masih kecil di kampung tentu belum faham mengapa ibunya tidak pulang saat lebaran.

Saat ini dalam setiap doa ibu yang menjadi PRT meminta agar kondisi bisa segera membaik. Supaya bisa bekerja lagi untuk bisa memenuhi kebutuhan tanpa ada rasa gundah gulana. (Jumiyem)