Distribusi bantuan paket nutrisi bagi ibu hamil di Ruang Ramah Perempuan (RRP) Huntara YKM Desa Wombo Induk Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (21/6) lalu. (Ist)

PALU- Pandemi Corona belum sepenuh dapat teratasi karena memang belum di temukanya anti virusnya. Situasi ini menjadi perhatian semua pihak baik pemerintah ataupun berbagai lembaga sosial lainnya.

Beberapa daerah Kabupaten dan  kota  di Sulawesi Tengah September 2018 yang lalu dilanda bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi yang dahsyat. Banyak warga yang harus kehilangan tempat tinggal. Hingga hari ini masih banyak yang mau tidak mau masih bertahan tiggal di Hunian sementara (Huntara). Memasuki 2 tahun kondisi Huntara  sudah mulai reot dan rusak. Berbagai serta fasilitas sudah tidak layak pakai.

Dalam kondisi di atas warga di Huntara harus  berhadapan dengan wabah Corona. Padahal mereka baru saja coba memulihkan ekonomi keluarganya, meskipun harus menjadi buruh lepas. Mereka yang memiliki lahan pertanianpun masih kesulitan mengolahnya karena irigasi pengairan bagi sebagian besar petani di Kabupaten Sigi hingga saat ini belum selesai pembangunannya.

Ibu Ce'e, tunanetra asal Desa Wombo Induk Kecamatan Tanah Ntovea Kabupaten Donggala. (Ist)

Hidup dalam situasi wabah Corona dengan berbagai kebijakan pembatasan sosial mau tidak mau harus dijalani. Bergelora.com mengikuti kegiatan sosial pendistribusikan bantuan paket nutrisi bagi kelompok rentan lansia dan ibu hHamil yang dilaksanakan oleh Yayasan Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala selama 3 hari di lokasi sasaran yang berbeda.

Yayasan Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKP-ST) merupakan organisasi perempuan yang konsern dalam pendampingan berbagai kasus tindak  kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kerjasama dilakukan dengan Lembaga internasional UNFPA melalui Yayasan Kerti Praja Denpasar berupa pendampingan warga melalui Ruang Ramah Perempuan (RRP) di 6 titik kamp pengungsian. Ini bagian dari pencegahan dan penanganan berbagai bentuk tindak kekerasan berbasis gender.

Ditengah wabah Corona ini KPKPST menyalurkan bantuan non tunai dalam bentuk paket nutrisi dengan sasaran penerima manfaat kelompok lanjut usia dan ibu hamil.

Bapak Lagendo asal Desa Loli Pesua Kabupaten Donggala. (Ist)

Kepada Bergelora.com Ketua Yayasan KPKPST, Soraya Sultan menjelaskan, orang tua lanjut usia dan ibu hamil adalah kelompok yang sangat rentan terjangkit virus Corona karena staminanya lebih lemah. Untuk itu KPKPST fokus melayani mereka.

"Orang tua sangat rawan terjangkit virus Corona apalagi yang memang sudah mengidap penyakit. Demikian juga ibu hamil. Belum lagi mereka yang masih tinggal di Hunian Sementara (HUNTARA) karena kondisi tempat tinggalnya yang serba kekurangan fasilitas. Meskipun mereka tidak beraktifitas diluar rumah tetapi bisa saja anak dan anggota keluarga yang lain tetap harus keluar rumah mencari nafkah," jelas Soraya.

Selain itu KPKPST juga menyalurkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas medis di puskesmas-puskesmas yang ada Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala juga kepada relawan posko pengaduan KPKPST.

Sementara itu Rawansyah saat ditemui ketika sedang melakukan distribusi paket di Desa Bulubete dan Desa Walatana Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi menjelaskan bahwa penerima manfaat dalam program Humanitarian Recovery And Reconstruction ini hanya dapat menjangkau 200 orang terdiri dari 123 orang Lansia dan 77 orang ibu hamil.

KPKPST menyalurkannya paket Nutrisi di 6 titik Ruang Ramah Perempuan (RRP) dengan menjangkauan 10 Desa/Kelurahan yang ada di Kota Palu yakni Huntara Gawali Kelurahan Duyu, untuk Kabupaten Sigi yakni Desa Walatana dan Desa Bulubete Kecamatan Dolo Selatan, Desa Mpanau dan Desa Lolu Kecamatan Biromaru.

Yayasan Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKP-ST) saat mendistribusikan bantuan di Donggala. (Ist)

Untuk Kabupaten Donggala sasaran program menjangkau Desa Loli Pesua Kecamatan Banawa, Desa Wombo Induk dan Wombo Mpanau Kecamatan Tanah Ntovea, Desa Balentuma dan Desa Sipi di Kecamatan Sirenja.

"Mungkin kami tidak dapat menjangkau semuanya namun dengan keterbatasan kami paling tidak ada sebagian lansia dan ibu hamil yang terbantukan dalam kondisi serba kekurangan saat ini," jelasnya.

Dalam paket Bantuan nutrisi yang di salurkan berupa beras 10 kilogram, telur, susu lansia dan susu ibu hamil, vitamin serta masker.

"Bantuan non tunai ini sudah mulai di distribusikan sejak bulan april kemarin dan akan tetap di salurkan hingga bulan agustus 2020" jelasnya lagi.

Lansia dari Desa Bulubete, ibu Nori mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan paket nutrisi dari KPKPST.

"Alhamdulillah dengan bantuan ini kami sangat terbantukan apalagi saya sudah tua dan sudah susah untuk ke kebun," ucapnya nanar.

Ungkapan senada disampaikan lansia ibu Ami asal Desa Wombo Kecamatan Tanah Ntovea yang menderita sakit strok setelah terjadi bencana dan sempat tinggal di tenda pengungsian ini menyampaikan rasa syukurnya.

"Terimakasih banyak nak, baru kali ini dapat bantuan susu dan vitamin. Setelah dua bulan sebelumnya saya minum susu dan vitamin ini. Saya merasa ada perubahan dari kondisi saya saat ini, Alhamdulillah saya merasa badanku tidak terlalu sakit lagi," ujarnya.

Seorang lansia dari Desa Loli Pesua Kecamatan Banawa mengungkapkan rasa syukurnya sambil menangis mencurahkan susahnya bertahan hidup bersama cucu laki-laki yang sudah dewasa tapi tidak punya pekerjaan. Lansia ini tetap mencari nafkah dengan berbagai macam pekerjaan meskipun dengan sudah berusia 76 tahun.

"Untuk bisa beli beras terkadang harus mencuci pakaian orang dengan upah secukupnya. Kalau tidak ada yang panggil cuci baju saya pergi ke hutan di belakang rumah cari kayu bakar dan saya jual. Hanya itu yang bisa saya kerjakan yang penting halal," kisahnya pada bergelora.com.

"Makanya saya sangat bersyukur dengan bantuan ini. Saya bisa punya beras saja sudah lebih dari cukup," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Kegiatan sosial di wabah ini dilaksanakan oleh Yayasan KPKPST  setiap hari Jum'at dengan membagikan makanan nasi bungkus dan masker kepada ina-ina pedagang kecil dan tukang becak di Pasar Inpres dan Pasar Tua ataupun di seluruh hunian sementara para pungungsi bencana alam.

Pentingnya Desa Siaga

Hajalia selaku koordinator Program KPKPST saat ditemui menjelaskan bahwa aktivitas sosial saling berbagi dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja untuk dapat meringankan bagi mereka yang membutuhkan di tengah situasi seperti ini.

"Siapapun bisa melakukan kegiatan sosial saling berbagi. Yang paling penting adalah bagaimana agar kedepan pemerintah kita bisa kembali menggalakkan program Desa Siaga. Karena Desa Siaga ini menjadi penting ketika menghadapi bencana alam dan bencana penyakit," jelasnya.

Dalam keadaan saat ini masyarakat dalam desa siaga bisa bergotong royong saling membantu memastikan kesehatan setiap warga desa. Kalau ada yang sakit, ada yang bertugas mengantar ke fasilitas kesehatan terdekat.

Selain memastikan kesehatan, masyarakat dalam Desa Siaga akan memastikan setiap orang bisa mendapatkan cukup makan. Bila ada yang kesulitan makan, maka warga dalam Desa Siaga akan mencari jalan keluar bersama.

Desa siaga juga bisa memobilisasi masyarakat untuk membangun kerjasama baik pertanian, peternakan, industri kecil dan lainnya. Sehingga desa bisa mandiri memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Cara mendirikan desa siaga adalah adakan pertemuan rutin warga dan memilih pengurus Desa Siaga. Dalam setiap pertemuan dibahas berbagai persoalan dan jalan keluarnya,” ujarnya.

Desa-desa siaga biasanya menurutnya, sudah melakukan berbagai pelatihan jika terjadi bencana alam maupun penyakit. Kesiap siagaan bencana akan mengurangi jumlah korban bencana seperti yang sudah dialami oleh masyarakat di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong.

Ia melanjutkan, dengan Desa Siaga masyarakat akan bersama-sama bangkit dari dampak bencana alam dan bencana wabah Corona. (Lia Somba)