Ilustrasi pasien Covid 19 sedang dirawat di rumah sakit. (Ist)

JAKARTA- Informasi penanganan Covid-19 terkait alur dan prosedurnya ternyata belum dipahami oleh semua orang, terutama aku. Ketika aku curiga Wilson suamiku kena Covid, aku sempat tanya sana-sini terkait prosedur penanganannya. Aku telpon 119 untuk menanyakan apakah ada mekanisme untuk swab gratis dan apa yang harus dilakukan kalau ada keluarga kena Covid? Informasi itu ternyata tidak dimiliki. Operator hanya bilang, "Maaf bu kami belum dapat informasi tersebut".

Saya dapat nomer Ketua Satgas Covid Depok dari seorang teman. Saya WA, tapi tidak ada respon. Ternyata birokrasi untuk mencari info penanganan Covid tidaklah mudah.

Jumat, 2 Oktober 2020, Wilson sudah makin parah. Badannya lemes, meriang, batuk dan sudah mulai sesak napas. Saya bawa ke klinik pagi. Namun karena sampai sore tak kunjung membaik akhirnya aku bawa ke RS Mitra Keluarga Depok.

Pukul 15.00, Wilson masuk IGD. Cek darah, rongent paru, cek surasi oksigen dalam darah dan pemeriksaan lainnya. Hasil pemeriksaan leukosit dia rendah banget (lupa berapa), diabetes dia 302 dan darah tinggi. Juga ditemukan infeksi di paru (kecurigaan Covid) saat itu belum dilakukan swab. Namun hasil rapid test sudah positif covid 19.

Atas hasil pemeriksaan tersebut, Wilson diminta untuk isolasi di ruang isolasi Cempaka 302 Rumah Sakit Mitra keluarga. Tidak boleh ditunggu dan dijenguk selama isolasi. Dan saya langsung pulang ke rumah.

Pagi saya langsung WA pak RT untuk melaporkan kondisi Wilson. Di RT kami sudah terbentuk Satgas covid dan lumbung logistik untuk warga yang melakukan isolasi mandiri.

RT langsung minta kami isolasi mandiri secara ketat. Tidaj boleh keluar rumah. Semua kebutuhan makanan, kebersihan dan obat ditanggung oleh RT. Jadwal suplay makanan kami selama 14 hari langsung beredar di group RT. Semua langsung secara sukarela menuliskan namanya untuk membantu dari stok makanan tiap hari, buah, cemilan, kebutuhan kebersihan dan lainnya.

Siang itu juga, 3 Oktober saya dihubungi oleh Kepala Puskesmas Cipayung untuk menanyakan kondisi saya dan menawarkan swab gratis. Saya menceritakan keluhan saya seperti batuk, tenggorokan panas, napas panas, demam, badan lemas dan meriang. Bunga anak saya juga mengalami hal yang sama.  Kepala Puskesmaspun menyiapkan obat yang diantar oleh Satgas Covid RT ke rumah.

Kepala puskesmas juga memberi surat rujukan bagi saya dan Bunga untuk rontgent paru dan cek darah. Tapi karena saya merasa belum membutuhkan rontgent, surat rujukan tersebut saya abaikan sampai sekarang.

Sore hari 3 Oktober, rumah kami didatangi oleh Damkar untuk melakukan penyemrotan. Seluruh rumah disemprot disinfektan. Tetangga kanan kiri dan jalan ikutan disemprot. Semua bekerja cepat untuk penanganan Covid ini.

Minggu, 4 oktober pukul 8.30, atas bantuan kawan,  aku dan Bunga melakukan swab di rumah. Petugas swab dari RSPP datang ke rumah. Tanggal 5 Oktober hasil swab keluar, Saya dan Bunga dinyatakan positif Covid.

Saya langsung lapor dan membuat kronologi ke kepala puskes Cipayung. Saya melaporkan orang-orang yang pernah berkontak dengan saya. Saya juga  minta teman- teman kantor yang berkontak dengan saya untuk lapor ke puskesmas setempat dan membawa hasil swab saya. Atas laporan ini teman-teman kantor mendapatkan swab gratis di puskesmas. Hasil swab teman-teman kantor ada yang satu keluarga dinyatakan positif. Ada yang satu keluarga dinyatakan negatif dan ada yang hanya temanku saja yang positif tapi keluarganya negatif. Keluarga temanku yang dinyatakan positif kemudian dijemput Satgas Covid untuk segera isolasi di rumah sakit.

Jadi apa yang bisa kita lakukan bila keluarga kita kena covid? Jawabannya adalah segera hubungi RT tempat kita tinggal. Merekalah kemudian yang akan mengurus semua kebutuhanmu. Solidaritas itu ada dan akan berlipat ganda! (Nor Hiqmah)