Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Profesor Chaerul Anwar Nidom . (Ist)

JAKARTA- Saat ini ada 166 kandidiat vaksin di dunia yang masih dalam pengambangan klinis atau pra-kilinis, 8 diantaranya di Indonesia. Para virology di Profesor Nidom Fondation menemukan sebanyak 40 virus asal Indonesia dan sejumlah negara di Asia tenggara dan Wuhan memiliki motif ADE (Antibody-dependent enhancement) yang akan meningkatkan keganasan virus setelah vaksinasi. Hal ini disampaikan oleh Hal ini diungkap Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Profesor Chaerul Anwar Nidom ketika dihubungi di Surabaya kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (17/10).

“Sebetulnya, segeralah dilakukan uji tambahan pada serum relawan yang sudah disuntik vaksin Covid-19. Pada tubuh mereka seharusnya sudah terkandung antibodi dari vaksin. Kalau belum ada antibodinya berarti (ada-red) masalah,” ujarnya.

Kemudian Nidom menjelaskan, agar antibodi serum-serum para relawan tersebut diuji dengan virus Covid yang ditemukan di Indonesia.

“Karena virus yang ditemukan di Indonesia sudah mengalami perbedaan dengan virus Wuhan. Dari pengujian tersebut bisa dilihat ada efek terhadap ADE atau tidak. Pengujiannya sangat sangat simple, tapi sepertinya sulit dilakukan oleh tim. Saya tidak tahu alasannya. Hanya ada bantahan yang bersifat  opini bukan riset,” katanya.

Tetap Waspada

Sebelumnya sebagai Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Profesor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom, mengatakan bahwa masyarakat diharap tetap waspada tanpa harus membenci situasi yang ada.

Menurutnya virus SARS-CoV-2 atau yang tenar dengan nama Covid-19 ini juga merupakan makhluk hidup yang juga memiliki naluri untuk bertahan hidup. Sehingga, agar dapat melakukan replikasi atau memperbanyak diri biasanya virus membutuhkan inang.

“Sebenarnya virus itu tidak membinasakan manusia, tetapi tubuh manusia yang lemah sehingga saat dihinggapi virus akhirnya sakit dan menjadi korban. Seandainya manusia kuat, dia akan bertahan menghadapi apapun seiring dengan semua hal yang ada di dunia ini. Jadi itu adalah keseimbangan antara virus, manusia, dan lingkungan,” jelasnya, Jumat (16/10).

Nidom sudah meneliti virus bertahun-tahun lamanya dan menganggap Covid-19 ini merupakan virus yang cerdik dan unik. Menurutnya, Covid-19 bukanlah virus yang dapat membunuh langsung, tetapi memiliki keterampilan menular ke manusia dengan cepat.

Salah satu penyebab manusia meninggal, lanjutnya, karena faktor imunitas dari manusia itu sendiri. Biasanya manusia memiliki penyakit bawaan seperti kadar gula tinggi, kolesterol, hingga penyakit lain. Sehingga ketika Covid-19 menempel, membuat manusia itu semakin lemah.

“Ada tatanan konsep dalam alam ini. Saling memberi, dan meminta. Sama dengan virus Covid ini hanya ingin menempel dan melakukan ini (replikasi), ya yang harus kita lakukan adalah menutup lubang-lubang yang akan dimasuki virus kita tutup. Untuk itu kunci menghadapi Covid adalah masker, bukan vaksin,” ungkapnya.

Menurutnya, kalau masker yang bersertifikasi itu terbukti dapat menutup virus masuk. Sehingga, virus itu akan mengudara dan menjadi tidak aktif lagi.

“Virus ini menular dari percikan droplet yang terlontar di udara. Ini kan mekanik, jadi ditutup saja dengan masker yang berstandar. Jadi orang yang memiliki virus tidak melontarkan virusnya karena tertahan masker, dan orang yang menggunakan masker kalau ada virus di udara juga tidak akan terhirup. Sudah selesai di situ saja penularan virus ini,” tukasnya.

"Ini yang perlu kami sampaikan kepada pihak-pihak yang sedang upayakan vaksin, tolong diamati hal-hal yang terkait perubahan-perubahan virus ini," tuturnya dalam wawancara dengan CNNIndonesia TV, Rabu (16/9). (Web Warouw)