Banjir di Kendari, Sulawesi Tenggara (Ist)

KENDARI –  Para petani padi sawah di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, menderita kerugian sebesar kurang lebih Rp12,6 miliar akibat banjir yang menyebabkan gagal panen.

Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Provinsi Sultra, Suryati Raeba yang dihubungi di Kendari, Minggu (18/6), menjelaskan, kerugian para petani padi sawah tersebut bersumber dari tanaman padi sawah seluas 800 hektar lebih yang gagal panen atau puso setelah banjir melanda wilayah itu dalam satu bulan tersebut.

“Nilai kerugian yang diderita para petani itu dihitung dari produksi padi sawah seluas 800 hektar yang bila tidak gagal panen dapat mencapai rata-rata 4,5 ton sampai lima ton per hektar,” jelas Suryati.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, dengan harga gabah gering giling sebesar Rp3.500 per kilogram dan produksi padi rata-rata sebesar 4,5 ton jelas Suryati, maka para petani mengalami kerugian sebesar Rp15,7 juta per hektar sawah atau seluruhnya, seluas 800 hektar senilai Rp12,6 miliar.

Menurut Suryati, sejumlah sawah para petani di beberapa kabupaten di Sultra saat ini masih banyak yang belum panen. Jika hujan masih terus melanda beberapa daerah itu, maka sawah yang akan mengalami puso masih memungkinkan bertambah.

“Kami harapkan curah hujan bisa segera meredah, sehingga sawah para petani yang saat ini belum bisa dipanen dapat terselamatkan dari rendaman banjir,” katanya.

Diungkapkan Suryati, sawah paling banyak terendah banjir tersebar di wilayah Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan. Kedua wilayah kabupaten tersebut merupakan sentra produksi beras di Sultra.

“Kurang lebih 60 persen dari total produksi beras Sultra sebesar kurang lebih 700.000 ton, disumbang dari dua kabupaten itu, sedangkan beberapa kabupaten lain seperti Bombana, Kolaka dan Kola Timur, hanya menyumbang 40 persen produksi beras Sultra” jelas Suryati.

Suryati mengungkapkan Sultra saat ini telah menyumbang pada ketersediaan stok pangan nasional sebesar hampir 100.000 ton beras per tahun. Sementara luas areal perswahaan yang ada saat ini sudah mencapai 133.000 hektar lebih.

“Kalau luas areal tanam padi sawah itu tidak mengalami gangguan atau berproduksi normal, maka produksi besar Sultra sudah bisa mencapai 730.000 ton per tahun,” jelas Suryati. (Agus Sana’a)