Maruly Hendra Utama, Dosen Universitas Lampung (Unila), dipenjara Rutan Way Hui, Bandar Lampung (Ist)

JAKARTA- Maruly Hendra Utama, Dosen Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung mengadukan Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.S., Rektor Unila; Dr. Syarif Makhya M.Si., Dekan Fisip Unila dan Drs. Dadang Karya Bakti, M.Si. Wakil Dekan III Fisip Unila atas dugaan pelanggaran kode etik pegawaian  ke Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi) di Jakarta, Kamis (9/11).

Bertindak selaku penasehat hukumnya, Indra Firsada, S.H., M.H., Yelly Basuki, S.H., M.Si., Hendri Adriansyah, S.H., M.H., dan Azwir Ade Putra, dri YLBHI 98 mendatangi kantor Kementerian Ristekdikti di Jakarta.

Indra Firsada menjelaskan sebelumnya, Dosen Maruly sudah mengadukan Dr. Syarif Makhya M.Si., Dekan Fisip Unila ke Kemenristekdikti, pada 19 Oktober 2016.  Laporan Polisi Nomor STTPL/373/III/2017/Lpg/SPKT juga dilakukan pada 27 Maret 2017 yang dilakukan di Polda Lampung. Sebelumnya juga dilakukan Polisi Nomor LP/B-216/II/2017/LPG/SPKT tertanggal 27 Februari 2017 di Polda Lampung.

Kronologis

Indra Firsada menjelaskan, pada 19 Oktober 2016, Maruly Hendra Utama melalui surat melaporkan Dadang Karya Bakti yang saat itu menjadi anggota Senat FISIP Unila kepada Dekan FISIP Unila yaitu Dr. Syarief Makhya atas pemerasan yang pernah dilakukan oleh Dadang Karya Bakti kepada Maruly Hendra Utama akibat terpilihnya Dadang Karya Bakti yang dilakukan oleh senat FISIP Unila sebagai Wadek III. Kemudian Dekan merespon surat tersebut, dan melalui Ketua Jurusan Sosiologi memanggil MHU melalui surat pada tanggal 25 Oktober 2016

Tanggal 26 Oktober 2017, MHU menghadap Dekan dan menceritakan langsung atas pemerasan yang dilakukan Dadang.

“Dekan menjawab tidak mengetahui peristiwa itu dan menyarankan MHU melapor ke Bawaslu sembari berkata jika wewenang mencopot Dadang sebagai anggota senat ada pada Ketua Jurusan Administrasi Bisnis,” ujar Indra.

Kemudian Maruly Hendra Utama menindaklanjutinya dengan membuat surat kepada Kajur Administrasi Bisnis tertanggal 28 Oktober 2016 yang ditembuskan kepada seluruh anggota senat Universitas dan Fakultas di lingkungan Unila

“Beberapa hari kemudian, Kajur Administrasi Bisnis bertemu MHU dan mengatakan bahwa dia tidak punya wewenang dan surat dari MHU itu membuat mumet,” jelasnya.

Karena di Fakultas Maruly Hendra Utama merasa diabaikan atas laporannya, maka kemudian Maruly Hendra Utama menghadap Rektor Unila dan menceritakan permasalahan tersebut. Rektor berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut.

“Janji Rektor ini dimuat juga di media tanggal 14 November 2016. Pada media yang sama Dekan FISIP mengatakan tidak memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti laporan Maruly Hendra Utama tersebut,” ujarnya.

Namun ternyata laporan dari Maruly Hendra Utama tidak ditanggapi dan ditindaklanjuti, sebab pada tanggal 17 Januari 2017 Dadang Karya Bakti resmi dilantik menjadi Wadek III FISIP Unila

“Kemudian Maruly merasa kecewa dan marah karena memiliki pimpinan yang justru melindungi pelaku pemerasan. Maruly kemudian merasa tidak ada lagi tempat melapor di Unila, lalu menuliskan rasa kekecewaannya pada akun facebook miliknya yaitu ‘Maruly Tea’ yang menyebut bahwa Wadek III FISIP Unila yaitu dadang karya bakti sebagai ‘bandit’ kemudian Dekan FISIP Unila disebut “senyum bandit” dan Rektor UNILA sebagai ‘bandit tua’,” jelas Indra.

Lalu pada tanggal 1 Februari 2017 Maruly Hendra Utama mendapat surat panggilan yang ditandatangani Dekan FISIP untuk menghadap tanggal 6 Februari 2017. Dan  pada tanggal 6 Februari 2017 Maruly Hendra Utama dimintai keterangan nya terkait postingan nya pada akun Facebook Maruly Tea tersebut.

“Namun dalam pemeriksaan tersebut sama sekali tidak menyinggung soal laporan Maruly Hendra Utama atas pemerasan yang dilakukan oleh Dadang Karya Bakti,” jelasnya.

Kemudian pada tanggal 27 Februari 2017,  Maruly Hendra Utama dilaporkan oleh Dr. Syarief Makhya (Dekan FISIP Universitas Lampung) atas postingan status facebook nya yang menyebutkan bahwa Dr. Syarief Makhya selaku Dekan FISIP Unila adalah “senyum bandit”

Pada tanggal 29 Maret 2017 Maruly Hendra Utama dipanggil oleh Ditreskrimsus Polda Lampung untuk dimintai keterangan atas pelaporan Undang-Undang ITE dan pencemaran nama baik Dekan FISIP Unila. Setelah itu, 14 Juni 2017, Maruly Hendra Utama ditetapkan sebagai Tersangka oleh Ditreskrimsus Polda Lampung atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik.

“Pak Maruly menerima panggilan atas pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan Tinggi Lampung. Kemudian diarahkan oleh penyidik polresta Bandar Lampung untuk menyampaikan surat permohonan untuk tidak ditahan pada Kejaksaan Tinggi Lampung. Namun saat di Kejaksaan Tinggi, pak dosen langsung ditahan pada Senin (16/10) dan sampai sekarang dipenjara Rutan Way Hui, Bandar Lampung,” demikian Indra Firsada kepada Bergelora.com. di Jakarta. (Web Warouw)