Anggota DPR-RI, Eva Kusuma Sundari (Ist)

JAKARTA- Sore itu, Minggu (5/11), anggota DPR-RI, Eva Kusuma Sundari mendarat di Badara Halim Perdanakusuma. Ia tak menyangka mendapatkan pengalaman mengesankan dalam taksi yang ditumpanginya.

“Aku pilih taxi Express, yang nyopir semi bisu, tapi tidak tuli. Ngomong gak jelas blash (tuna wicara) tapi melalui bahasa isyarat kita bisa saling paham,” jelasnya kepada Bergelora.com.

Bebebapa perusahaan swasta memang sudah mulai pekerjakan para disabilitas seperti yang diatur dan diwajibkan oleh pemerintah belakangan ini. Karena bagaimanapun para disabilitas memiliki hak untuk bersosialisasi dan bekerja.

“(Supir) tanya yang dugaanku, tetangan alamat. Kujawab dekat Gelael. Dia mengangguk-angguk,” jelas Eva.

Bisa dibayangkan kelelahannya Eva lenyap. Ia justru berusaha bercakap-cakap dengan supir itu. Walau samar tapi Eva berusaha memahami setiap penyampaian supir itu.

“Mulus, sampai TIS (Tebet Indah Square) kubayar. Aku begitu lega, Express tidak diskriminatif.  semoga resmi policy kantor, bukan oplosan,” ujarnya kader PDI Perjuangan ini.

Menurutnya, sudah waktunya Pemerintah memberikan penghargaan pada setiap perusahaan yang mematuhi peraturan agar tidak ada diskriminasi pada para disabilitas. Dengan demikian akan memacu perusahaan yang masih belum melaksanakan rekrutmen kerja pada para disabilitas.

“Menaker Hanif harus kasih award. Supaya encouraged lembaga lain. Untuk itu, aku akan more than happy untut mendampingi cak hanif,” tegasnya.

Eva menjelaskan bahwa peraturan mengharuskan setiap lembaga pemerintah dan perusahaan swasta wajib mempekerjakan kaum disabilitas.

“Di kita (Indonesia) sudah ada undang-undangnya, (wajib) satu persen dari seluruh pekerja. Cuma implementasinya belum optimal. Sementara di Afrika Selatan saja 10%. Dan secara tertib dipatuhi,” jelasnya.

Meningkatkan Ketrampilan

Sebelumnya Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menegaskan para disabilitas berhak mendapat pekerjaan.

“Karena teman-teman difabel juga berhak mendapatkan akses untuk meningkatkan ketrampilan serta mendapatkan pekerjaan yang baik,” kata Menaker ketika berbincang santai dengan Suwarji dan Supono Duta, dua penyandang difabel (tuna daksa). Obrolan santai sambil menikmati hidangan angkringan itu berlangsung di Rumah Bloger Indonesia (RBI), kawasan Jajar, Solo, Jawa Tengah, Selasa malam, 7 November 2017. RBI adalah tempat ngumpul para blogger dan difebel. Pada malam hari, mereka membuka kedai angkringan dan musik akustik.

Malam itu, dengan mengenakan sarung biru dipadu kemeja putih dan bersandal jepit, Menteri Hanif sengaja mampir ke RBI untuk berbincang dengan para difabel. Khususnya terkait akses pelatihan ketrampilan bagi pada difabel, serta perluasan kesempatan kerja bagi mereka. Dengan mendapatkan masukan langsung dari para difabel, kebijakan penyediaan akses pelatihan ketrampilan dan kesempatan kerja, sesuai dengan yang dibutuhkan.

“Kami punya potensi. Kami juga bekerja. Kami berharap pemerintah memberikan akses pelatihan ketrampilan kerja, ” kata Suwarji yang setiap hari bekerja di sebuah tailor jas.

Kepada Menaker, ia juga berharap, selain pelatihan skill, pemerintah juga diharapkan memberikan akses permodalan dan bantuan alat kerja. Alasannya, dengan keterbatasan fisiknya, banyak penyandang cacat yang  lebih nyaman bekerja secara mandiri.

Tentang jenis pelatihan apa yang paling dibutuhkan para difabel di Solo? Suwarji menyebut pelatihan menjahit, IT atau programmer.  Atas masukan tersebut, Menaker menyatakan akan menjadikannya sebagai masukan penting dalam pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK).

Di tengah perbincangan, hadir Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara bergabung menikmati angkringan dan musik akustik.

Lain halnya masukan dari Aprilian Bima, mahasiswa Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo yang juga penderita tuna rungu. Dia dan beberapa rekannya ingin mendapatkan pelatihan ketrampilan membuka kafe.  Atas keinginan tersebut, Menaker menawarkan pelatihan barista kepada para penyandang tuna rungu. “Kemnaker punya program pelatihan barista, dan pelatihan ketrampilan lain untuk memperluas kesempatan kerja,” jelas Menaker.

Melalui bantuan penterjemah bahasa isyarat, Bima mengaku girang dengan tawaran tersebut. “Iya kami mau mengikuti pelatihan menjadi barista,” kata Bima dengan bahasa isyarat.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, keinginan tersebut sejalan dengan rencana Bima yang juga sebagai Ketua Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rung Indonesia (Gerkatin) Solo yang sedang getol mensosialisasikan Bahasa Isyarat Indonesia (Basindo) kepada masyarakat sebagai bahasa komunikasi. Di kafe itu, mereka akan mensosialisasikan Basindo. Di pengujung perbincangan, Menteri Hanif menyempatkan belajar bahasa isyarat kepada Bima, lalu foto bersama. (Web Warouw/Prijo Wasono)