Ilustrasi Susu Kental Manis yang hanya mengandung gula (Ist)

JAKARTA- Dekade belakangan ini pengidap diabetes dan kegemukan meningkat termasuk di Indonesia. Hal ini salah satunya bisa disebabkan karena konsumsi Susu Kental Manis yang beredar dimasyarakat tanpa pengawasan pemerintah. Kepada Bergelora.com Ahli Gizi, dr. Wijaya Lukito, Ph.D, Sp.GK di Jakarta, Jumat (12/1) memastikan bahwa SKM yang hanya berisi gula dan rasa susu akan berpotensi diabetes dan obesitas.

“Anak yang dari sejak kecil tepapar secara terus menurus pasti berpotensi diabetes. Tetapi belum ada penelitiannya. Obesitas (kegemukan) memang bisa juga,”

Walau demikian menurutnya gula pada SKM hanya salah satu penyebab meningkatnya pengidap obesitas.

“Jangan salah persepsi bahwa obesitas karena gula dan karbohidrat padahal obesitas itu karena konsumsi lemak berlebihan itu yang tertinggi. Jadi kalau mengkonsumsi gula pada SKM secara terus menerus, sebelum menderita obesitas pasti terkena diabetes duluan dong,” jelasnya.

Penertiban Secara Transparan

Untuk itu menurutnya sudah waktunya pemerintah transparan menertibkan produksi SKM agar masyarakat bisa sehat.

“Dibelakang layar semuanya itu adalah perang industri. Perang antara industri produsen susu dengan gizi yang lengkap berhadapan dengan industri susu kental manis berisi sirop,” demikian ujarnya.

Ternyata pembuatannya sengaja memang hanya menggunakan gula tanpa harus memenuhi susu murni yang mengandung vitamin mineral.

“Kalau mau tahu memang SKM itu kadar gula terlalu tinggi. Kedua elemen susunya sedikit. Susu dalam arti  proteinnya. Tapi gulanya menonjol. Pembuatannya tidak lengkap gizinya misalnya kadar vitamin mineralnya tidak lengkap,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa Indonesia selalu ikuti Codec dari lembaga makanan internasional yang memasukkan SKM sebagai susu, walaupun sudah tahu bahwa itu bukan berasal dari susu murni.

“Masalahnya SKM dibawah Codec, walaupun dengan kandungan gizinya sedikit, tetap dimasukkan katagori susu. Kalau dilihat SKM itu mirip seperti sirup hanya pemanis dengan flavor susu,” tegasnya lagi.

Menurutnya, akibat kandungan kandungan susu yang tidak seimbang dan kandungan gula terlalu tinggi dan gizinya tidak ada maka SKM tidak cocok untuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang.

“Tapi karena murah sehingga memberikan pandangan something is better than nothing. Tapi sebenarnya itu pengelabuan yang berbahaya,” ujarnya.

Namun ia menjelaskan adalah tidak mungkin melarang produksi SKM, tapi ia menegaskan agar SKM tidak lagi dipakai untuk anak-anak tumbuh kembang.

“Menurut saya, kita tidak bisa melarang produksi SKM, karena SKM memberikan pilihan pada masyarakat, mau pakai pemanis apa. Tetapi jangan dipakai untuk anak yang sedang tumbuh kembang,” tegasnya.

Untuk itu negara dan pemerintah lewat BPOM (Badan Pengawas Obat Dan Makan) harus menertibkan katagorisasi dan reklame penggunaan SKM untuk anak.

“Agar tidak dipakai untuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang berarti BPOM harus mengawasi reklame jangan pakai anak anak,” ujarnya.

Pemerintah dan BPOM menurutnya harus berani atas nama kedaulatan negara membuat katagori susu berbeda dari Codec.

“Jangan masukin dalam SKM dalam katagori susu tapi masukin dalam katagori sirup. Sirup dengan rasa susu seperti rasa coconut atau leci selama ini. Pasti ada yang gak suka. Apa boleh buat Kita gak bisa menyenangkan semua seseorang,” katanya. (Web Warouw)