Ilustrasi Susu Kental Manis yang hanya mengandung gula (Ist)

JAKARTA- Untuk mengatasi perdebatan soal Susu Kental Manis (SKM), selain melakukan penertiban secara transparan, pemerintahan Jokowi perlu segera membangun BUMN yang bertugas menyediakan Susu Formula Generik. Hal ini ditegaskan oleh Ahli Gizi, dr. Wijaya Lukito, Ph.D, Sp.GK kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (12/1).

“Daripada menyalahkan susu yang bergizi yang disebut susu industri. Lebih baik pemerintah, untuk masyarakat tidak mampu harus segera buat susu formula generik dengan komposisi protein seimbang. Bukan gulanya banyak. Ada hitungannya,” tegasnya.

Ia menyesalkan pasca reformasi, malah BUMN Sari Husada dijual oleh pemerintah. Padahal BUMN tersebut sangat penting bagi pertumbuhan bangsa.

“Dulu ada Sari Husada tapi sudah dijual. Siapa itu yang menjual kan kita semua tahu. Itukan sebetulnya BUMN susu. Susu generik adalah industri strategis, kalau pemerintahn mau perbaiki gizi bangsa ini,” ujarnya.

Saat ini yang dibutuhkan oleh keluarga dan anak-anak Indonesia adalah susu generik dengan higienis dan berprotein agar bisa berkembang menjadi rakyat yang cerdas dan kuat.

“Dari pada ribut,-- Segera buat susu formula generik yang murah dan bisa diakses semua orang untuk menekan jumlah stunting (orang pendek). Pertumbuhan pemanjangan tulang tergantung kalsium dan fosfor dalam susu. Itu yang gak ada di SKM,” katanya

Ia menjelaskan bahwa Susu Formula Generik mengambil bahan dari susu sapi yang ada dipeternakan dalam negeri.

“Bahannya dari susu sapi. Seperti Nesley bikin dari susu murni beneran. Kan ada koperasinya. Lihat koperasi yang dikembangkan Nesley di Pasuruan,” ujarnya.

Pemerintah harus mencontontoh Nesley  dengan mengembangkan Susu Formula Generik.

“Swasta bisa, kenapa Pemerintah tidak bisa. Kalau lihat di desa-desa di Pasuruan rakyatnya makmur banget. Anak-anak peternak dan petani susu pendidikannya tinggi-tinggi. Jadi Nesley juga menyediakan program micro-ekonominya tidak hanya koperasi tok. Semua difasilitasi.

Menurutnya pemerintah jangan tutup mata, industri swasta memang pintar-pintar, tapi bukan berarti pemerintah tidak mampu untuk sama bahkan lebih pintar

“Jangan tutup mata, orang industri swasta pinter-pinter. Bukan berarti pemerintah tidak bisa buat yang serupa. Saya yakin kalau presidennya masih Jokowi, pasti kita bisa. Jokowi bisa hanbur ribuan triliun untuk infrastruktur. Masak untuk bikin BUMN Susu Formula Generik gak bisa. Paling cuma beberapa puluh triliun untuk BUMN Susu Formula Generik. Dari pada uang di Kemenkes dihabisisn gak karuan semua dan programnya gak ada yang jalan. Bocor kemana kita gak tahu. Ini kacau semua gak ada program kesehatan yang jalan,” katanya.

Penertiban Secara Transparan

Untuk itu menurutnya sudah waktunya pemerintah transparan menertibkan produksi SKM agar masyarakat bisa sehat.

“Dibelakang layar semuanya itu adalah perang industri. Perang antara industri produsen susu dengan gizi yang lengkap berhadapan dengan industri susu kental manis berisi sirop,” demikian ujarnya.

Ternyata pembuatannya sengaja memang hanya menggunakan gula tanpa harus memenuhi susu murni yang mengandung vitamin mineral.

“Kalau mau tahu memang SKM itu kadar gula terlalu tinggi. Kedua elemen susunya sedikit. Susu dalam arti  proteinnya. Tapi gulanya menonjol. Pembuatannya tidak lengkap gizinya misalnya kadar vitamin mineralnya tidak lengkap,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa Indonesia selalu ikuti Codec dari lembaga makanan internasional yang memasukkan SKM sebagai susu, walaupun sudah tahu bahwa itu bukan berasal dari susu murni.

“Masalahnya SKM dibawah Codec, walaupun dengan kandungan gizinya sedikit, tetap dimasukkan katagori susu. Kalau dilihat SKM itu mirip seperti sirup hanya pemanis dengan flavor susu,” tegasnya lagi.

Menurutnya, akibat kandungan kandungan susu yang tidak seimbang dan kandungan gula terlalu tinggi dan gizinya tidak ada maka SKM tidak cocok untuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang.

“Tapi karena murah sehingga memberikan pandangan something is better than nothing. Tapi sebenarnya itu pengelabuan yang berbahaya,” ujarnya.

Namun ia menjelaskan adalah tidak mungkin melarang produksi SKM, tapi ia menegaskan agar SKM tidak lagi dipakai untuk anak-anak tumbuh kembang.

“Menurut saya, kita tidak bisa melarang produksi SKM, karena SKM memberikan pilihan pada masyarakat, mau pakai pemanis apa. Tetapi jangan dipakai untuk anak yang sedang tumbuh kembang,” tegasnya.

Untuk itu negara dan pemerintah lewat BPOM (Badan Pengawas Obat Dan Makan) harus menertibkan katagorisasi dan reklame penggunaan SKM untuk anak.

“Agar tidak dipakai untuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang berarti BPOM harus mengawasi reklame jangan pakai anak anak,” ujarnya.

Pemerintah dan BPOM menurutnya harus berani atas nama kedaulatan negara membuat katagori susu berbeda dari Codec.

“Jangan masukin dalam SKM dalam katagori susu tapi masukin dalam katagori sirup. Sirup dengan rasa susu seperti rasa coconut atau leci selama ini. Pasti ada yang gak suka. Apa boleh buat Kita gak bisa menyenangkan semua seseorang,” katanya. (Web Warouw)

 

Segera...! Dr. Wijaya Lukito: Bangun BUMN Susu Formula Generik

JAKARTA- Untuk mengatasi perdebatan soal Susu Kental Manis (SKM), selain melakukan penertiban secara transparan, pemerintahan Jokowi perlu segera membangun BUMN yang bertugas menyediakan Susu Formula Generik. Hal ini ditegaskan oleh Ahli Gizi, dr. Wijaya Lukito, Ph.D, Sp.GK kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (12/1).

“Daripada menyalahkan susu yang bergizi yang disebut susu industri. Lebih baik pemerintah, untuk masyarakat tidak mampu harus segera buat susu formula generik dengan komposisi protein seimbang. Bukan gulanya banyak. Ada hitungannya,” tegasnya.

Ia menyesalkan pasca reformasi, malah BUMN Sari Husada dijual oleh pemerintah. Padahal BUMN tersebut sangat penting bagi pertumbuhan bangsa.

“Dulu ada Sari Husada tapi sudah dijual. Siapa itu yang menjual kan kita semua tahu. Itukan sebetulnya BUMN susu. Susu generik adalah industri strategis, kalau pemerintahn mau perbaiki gizi bangsa ini,” ujarnya.

Saat ini yang dibutuhkan oleh keluarga dan anak-anak Indonesia adalah susu generik dengan higienis dan berprotein agar bisa berkembang menjadi rakyat yang cerdas dan kuat.

“Dari pada ribut,-- Segera buat susu formula generik yang murah dan bisa diakses semua orang untuk menekan jumlah stunting (orang pendek). Pertumbuhan pemanjangan tulang tergantung kalsium dan fosfor dalam susu. Itu yang gak ada di SKM,” katanya

Ia menjelaskan bahwa Susu Formula Generik mengambil bahan dari susu sapi yang ada dipeternakan dalam negeri.

“Bahannya dari susu sapi. Seperti Nesley bikin dari susu murni beneran. Kan ada koperasinya. Lihat koperasi yang dikembangkan Nesley di Pasuruan,” ujarnya.

Pemerintah harus mencontontoh Nesley  dengan mengembangkan Susu Formula Generik.

“Swasta bisa, kenapa Pemerintah tidak bisa. Kalau lihat di desa-desa di Pasuruan rakyatnya makmur banget. Anak-anak peternak dan petani susu pendidikannya tinggi-tinggi. Jadi Nesley juga menyediakan program micro-ekonominya tidak hanya koperasi tok. Semua difasilitasi.

Menurutnya pemerintah jangan tutup mata, industri swasta memang pintar-pintar, tapi bukan berarti pemerintah tidak mampu untuk sama bahkan lebih pintar

“Jangan tutup mata, orang industri swasta pinter-pinter. Bukan berarti pemerintah tidak bisa buat yang serupa. Saya yakin kalau presidennya masih Jokowi, pasti kita bisa. Jokowi bisa hanbur ribuan triliun untuk infrastruktur. Masak untuk bikin BUMN Susu Formula Generik gak bisa. Paling cuma beberapa puluh triliun untuk BUMN Susu Formula Generik. Dari pada uang di Kemenkes dihabisisn gak karuan semua dan programnya gak ada yang jalan. Bocor kemana kita gak tahu. Ini kacau semua gak ada program kesehatan yang jalan,” katanya.

Penertiban Secara Transparan

Untuk itu menurutnya sudah waktunya pemerintah transparan menertibkan produksi SKM agar masyarakat bisa sehat.

“Dibelakang layar semuanya itu adalah perang industri. Perang antara industri produsen susu dengan gizi yang lengkap berhadapan dengan industri susu kental manis berisi sirop,” demikian ujarnya.

Ternyata pembuatannya sengaja memang hanya menggunakan gula tanpa harus memenuhi susu murni yang mengandung vitamin mineral.

“Kalau mau tahu memang SKM itu kadar gula terlalu tinggi. Kedua elemen susunya sedikit. Susu dalam arti  proteinnya. Tapi gulanya menonjol. Pembuatannya tidak lengkap gizinya misalnya kadar vitamin mineralnya tidak lengkap,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa Indonesia selalu ikuti Codec dari lembaga makanan internasional yang memasukkan SKM sebagai susu, walaupun sudah tahu bahwa itu bukan berasal dari susu murni.

“Masalahnya SKM dibawah Codec, walaupun dengan kandungan gizinya sedikit, tetap dimasukkan katagori susu. Kalau dilihat SKM itu mirip seperti sirup hanya pemanis dengan flavor susu,” tegasnya lagi.

Menurutnya, akibat kandungan kandungan susu yang tidak seimbang dan kandungan gula terlalu tinggi dan gizinya tidak ada maka SKM tidak cocok untuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang.

“Tapi karena murah sehingga memberikan pandangan something is better than nothing. Tapi sebenarnya itu pengelabuan yang berbahaya,” ujarnya.

Namun ia menjelaskan adalah tidak mungkin melarang produksi SKM, tapi ia menegaskan agar SKM tidak lagi dipakai untuk anak-anak tumbuh kembang.

“Menurut saya, kita tidak bisa melarang produksi SKM, karena SKM memberikan pilihan pada masyarakat, mau pakai pemanis apa. Tetapi jangan dipakai untuk anak yang sedang tumbuh kembang,” tegasnya.

Untuk itu negara dan pemerintah lewat BPOM (Badan Pengawas Obat Dan Makan) harus menertibkan katagorisasi dan reklame penggunaan SKM untuk anak.

“Agar tidak dipakai untuk anak-anak yang sedang tumbuh kembang berarti BPOM harus mengawasi reklame jangan pakai anak anak,” ujarnya.

Pemerintah dan BPOM menurutnya harus berani atas nama kedaulatan negara membuat katagori susu berbeda dari Codec.

“Jangan masukin dalam SKM dalam katagori susu tapi masukin dalam katagori sirup. Sirup dengan rasa susu seperti rasa coconut atau leci selama ini. Pasti ada yang gak suka. Apa boleh buat Kita gak bisa menyenangkan semua seseorang,” katanya. (Web Warouw)