Ilustrasi gizi buruk (Ist)

JAKARTA – Terbongkarnya kasus stunting (anak pendek-red) mencapai 59.838 jiwa dan gizi buruk menunjukkan kelemahan pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dan Provinsi Lampung dalam menangani kesehatan dan kesejahteraan rakyat di Lampung Tengah. Data BPS 2015 menunjukkan jumlah penduduk Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung sebanyak 1.239.096 jiwa.

“Kalau lebih dari 1/10.000 (123 jiwa-red) dari jumlah penduduk maka itu sudah epidemi atau wabah. Kasus itu sudah Kondisi Luar Biasa (KLB). Bandingkan dengan jumlah penduduk Lampung Tengah,” demikian ahli bencana, DR Rustam Pakaya kepada pers ketika dihubungi di Jakarta, Minggu (11/2).

Untuk itu, menurut mantan Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Departemen Kesehatan RI ini, Kementerian Kesehatan dan dinas-dinas di daerah terkait wajib segera melakukan respon cepat seperti selalu diperintahkan oleh Presiden RI, Joko Widodo dalam penanganan gizi buruk.

“Tidak ada kata terlambat dalam mengatasi gizi buruk. Ini adalah perintah Undang-Undang Dasar 1945 untuk mensejahterahkan rakyat dan melindungi rakyat,” demikian ujarnya mengutip perintah Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Sebelumnya diberitakan, dibawah kepemimpinan Bupati Mustafa, kondisi warga di Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) masih banyak yang berada dibawah garis kemiskinan. Hal itu terlihat dari tingginya jumlah warga miskin dan balita penderita stunting di daerah tersebut.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

ari data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), tahun 2016 yang dirilis pada 2017, jumlah penderita stunting di Kabupaten Lamteng mencapai 59.838 jiwa.

Faktor utama yang menyebabkan tingginya jumlah penderita stunting/anak tidak tumbuh dengan normal, atau gizi buruk, ialah ekonomi.

Banyaknya warga daerah tersebut yang memiliki tingkat perekonomian rendah, menyebabkan ketidakmampuan orang tua untuk mencukupi kebutuhan pangan dan kurangnya asupan gizi ibu hamil dan anak balita di keluarganya.

Data Kemenko PMK RI menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 165.67 ribu jiwa.

Lingkaran Setan

Pengamat Ekonomi Universitas Bandar Lampung (UBL), Syahrir Daud mengatakan, ekonomi adalah lingkaran setan. semua permasalahan seperti stunting, gizi buruk, pendidikan rendah, angka kejahatan meningkat, semua dipengaruhi oleh lemahnya ekonomi warga, atau masih banyak penduduk yang hidupnya masih berada dibawah garis kemiskinan.

"Urusan perut rakyat harus dipikirkan, pemerintah harus memikirkan bagaimana bisa suistanabel mengangkat kesejahteraan masyarakat," kata Syahrir, kemarin. (Web Warouw/Salimah)