Ilustrasi gizi buruk di salah satu provinsi di Indonesia (Ist)

BANDAR LAMPUNG-  Temuan 59.838 anak pendek (stunting) di Lampung Tengah adalah kasus malnutrisi atau kurang gizi kronis. Untuk itu Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi Lampung dan Kabupaten Lampung Tengah harus segera intervensi dengan cara perbaikan gizi pada setiap kasus stunting dan mencari yang akut untuk segera ditolong. Demikian dr. Wijaya Lukito, Ph.D, Sp.GK, ahli gizi dan mantan Staff Ahli Menteri Kesehatan RI di Jakarta, Senin (12/2).

“Stunting jangan dibiarkan. Ini sudah telah. Itu puncak gunung es. Pemerintah Perlu Segera Intervensi. Segera cari penderita yang akut dari jumlah tersebut.  

Menurutnya, kalau stunting tidak segera ditangani maka akan jadi akut seperti di Asmat, Papua. Penderita gizi buruk (marasmus) dan kekurangan protein (Kwashiorkor) harus segera diselamatkan.

“Kalau terlambat berbahaya. Nanti penyakit infeksi seperti campak datang semua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam ilmu kesehatan dan kedokteran dikenal puncak gunung es. Kalau ada stunting dipermukaan berarti didasarnya pasti ada yang kroni landasannya.

“Itu ada perhitungannya. Kemenkes dan dinkes sudah tahu.  Ada presentasenya. Kalau stunting ditemukan sampai 50 ribu anak disatu wilayah, bisa-bisa yang gizi buruk akut ada 100. Ada perbandingannya,” ujarnya.

Kalau pemerintah tidak paham hal ini menurutnya, jangan dipilih jadi pejabat pemerintah karena akan merugikan rakyatnya.

“Ngapain digaji pakai uang rakyat tapi gak bisa atasi stunting dan gizi buruk. Kalau tidak mampu ya mundur saja atau diganti saja jangan jadi pejabat, jangan terima uang tanpa kerja.

Menurutnya pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten tidak eprlu marah dengan temuan stunting. Justru pemerintah harus membuktikan bisa bekerja mengatasi stunting dan gizi buruk.

“Ngapain pemerintah marah  kalau memang sudah  ada temuan. Kalau media gak blow up pasti mereka (pemerintah-red) tenang-tenang saja. Berapapun gizi buruk yang mati pasti tidak perduli,” katanya.

Wijaya Lukito mengingatkan, untuk mengatasi stunting dan gizi buruk jangan hanya bikin program pengadaan saja. Itu gampang bocor dan gak sampai ke lapangan.

“Segera berdayakan bidan, ahli gizi, dokter dan relawan kesehatan di Lampung Tengah untuk menemukan gizi buruk di wilayah temuan stunting itu,” katanya.

Karena Kemiskinan

Kepada Bergelora.com dilaporkan data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), tahun 2016 yang dirilis pada 2017, jumlah penderita stunting di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 59.838 jiwa.

Faktor utama adalah kemiskinan yang menyebabkan tingginya jumlah penderita stunting/anak tidak tumbuh dengan normal, atau gizi buruk.

Banyaknya warga daerah tersebut yang memiliki tingkat perekonomian rendah, menyebabkan ketidakmampuan orang tua untuk mencukupi kebutuhan pangan dan kurangnya asupan gizi ibu hamil dan anak balita di keluarganya.

Sementara itu, data Kemenko PMK RI menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lampung Tengah mencapai 165.67 ribu jiwa. (Salimah/Web Warouw*)