Anak-anak Sekolah Citra Alama Ciganjur yang tergabung di Generasi Muda Pendukung Toleransi dan Anti Kekerasan (GEMPITA) untuk wilayah Depok dan sekitarnya (Ist).

DEPOK- Pelajar Kota Depok mendeklasikan dungan terhadap toleransi dalam Bhinneka Tunggal Ika dan menolak kekerasan. Mereka tergabung dalam Generasi Muda Pendukung Toleransi dan Anti Kekerasan (GEMPITA) untuk wilayah Depok dan sekitaranya.

Nantinya program ini akan ada di beberapa sekolah di Depok dan sekitarnya. Sekolah Citra Alama Ciganjur menjadi pionir untuk program ini. Program GEMPITA berupaya meningkatan wawasan, pengetahuan dan kapasitas lingkungan sekolah seperti kepala sekolah, guru, dan murid serta menyiapkan lingkungan sekolah yang menghargai tolerasi dan anti kekerasan.

“Program ini berangkat dari keprihatinan terjadinya praktek-praktek intoleransi dan kekerasan seperti yang selama ini ada di Kota Depok dan sekitarnya seperti konflik tawuran pelajar dan bullying, juga merebaknya ujaran kebencian dan intoleransi di masyarakat,“ demikian Direktur Eksekutif PIRAC, Nor Hiqmah kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (12/3).

Menurutnya, kekerasan, bullying, perkelahian/tawuran antar pelajar nampaknya sulit untuk diredam. Apalagi dengan kondisi saat ini, dimana ujaran kebencian banyak mewarnai sosial media yang kemudian berimbas pada prilaku pelajar sehari-hari.

“Hampir semua kota besar termasuk Jakarta, Depok dan sekitarnya pasti pernah merasakan kejadian tawuran antar pelajar. Pemicu tawuran/perkelahian pelajar ini juga bermacam-macam. Awalnya hanya senggolan, saling ejek, berbeda pendapat yang kemudian memicu perdebatan dan lain-lain. Korban dari tawuran inipun sudah banyak berjatuhan bahkan ada yang meninggal dunia,” jelasnya.

Hal yang sering banyak muncul dari penyebab tawuran ini menurutnya adalah perbedaan pendapat dan cara pandang pelajar SMU/SMK. Perbedaan ini sering memunculkan konflik hingga kekerasan.

“Mengikisnya nilai toleransi dan munculnya wacana ujaran kebencian di sosial media membuat pelajar SMU seringkali “terprovokasi” untuk melakukan kekerasan (bullying/tawuran) dan kekerasan lainnya baik itu penyebaran informasi hoax atau ujaran kebencian,” katanya.

Merespon kondisi ini, PIRAC salah satu LSM di Kota Depok mengagas sebuah program GEMPITA (Generasi Muda Pendukung Toleransi dan Anti kekerasan). Program ini bertujuan menciptakan generasi muda pendukung toleransi dan anti kekerasan melalui pembentukan tim relawan sekolah dan seleksi duta Gempita serta kampanye tentang tolak ujaran kebencian, anti kekerasan dan mengajarkan nilai-nilai anti kekerasan di sekolah.

Anti Hoax

Program yang didedikasikan untuk terwujudnya generasi muda toleran dan anti kekerasan di Kota Depok dan sekitarnya ini memiliki berbagai aktifitas seperti pemilihan duta gempita, pembentukan relawan gempita, edukasi penggunaan media sosial secara sehat dan menggagas gerakan siswa anti hoax.

Pada tanggal 12 Maret 2018, Sekolah Citra Alam Ciganjur mendeklarasikan sebagai sekolah GEMPITA (Generasi Muda Pendukung Toleransi dan Anti Kekerasan). Pada event tersebut, siswa juga diberikan media untuk mengekspresikan kesan, persepsi, dan pendapat mereka tentang toleransi, keberagaman, berita hoax, kondisi kekerasan dan persekusi di lingkungan mereka. Siswa menggambarkan dan menuliskan pendapat dan komitmennya pada spanduk putih yang terbentang di lapangan.

Acara deklarasi sekolah GEMPITA ini diikuti oleh siswa-siswa SMA dan SMP Sekolah Alam Ciganjur Jakarta Selatan. Menurut Ari Okta Kepala Sekolah SMA Citra Alam Sekolah Citra Alama merasa bertanggungjawab untuk membentuk generasi muda yang toleran dan anti kekerasan.

“Kondisi anak-anak muda yang sering menadapatkan berita hoax di sosial media. Karena itu perlu menyikapi kondisi ini dengan program yang dapat menangkis dan melawan ujaran kebencian dan hoax di sosial media,” tegasnya. (Roy Pangharapan)