Dokter Terawan Agus Putranto

JAKARTA- Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning setuju dengan adanya rencana uji metode Digital Substraction Angiogram (DSA) atau terapi cuci otak yang digunakan oleh Dokter Terawan Agus Putranto untuk pengobatan stroke.

Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu Komisi IX sudah mendesak Kementerian Kesehatan RI membentuk satuan tugas bersama dengan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk melakukan penilaian teknologi kesehatan terhadap metode Digital Substraction Angiogram (DSA) yang menggunakan heparin sebagai metode terapetik.

Ribka mengatakan wacana uji metode ini tergolong terbalik. Pasalnya, jika ada temuan baru yang dilakukan pertama kali adalah uji klinis baru setelahnya adalah operasional atau praktiknya, namun pada kasus dr. Terawan ini justru terbalik.

"Tapi ini kan sudah operasional, sudah praktik baru mau diujikan, untung semua baik-baik saja. Tapi supaya memenuhi persyaratan ya harus uji klinis dulu," ucap Ribka saat dihubungi, Jumat (13/4).

Lebih lanjut, Ribka menyayangkan sikap IDI yang mencabut ijin praktik dr. Terawan, karena menurutnya tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan.

"Kan belum ada kesalahan, yang sekarang dimasalahkan kan DSA nya," kata politisi PDI Perjuangan ini.

Diundang Jerman

Metode Cuci Otak yang ditemukan dokter Terawan Agus Putranto terkenal sampai dunia internasional. Dokter Terawan bahkan memenuhi undangan Rumah Sakit Krankenhaus Nordwest Jerman untuk mengenalkan metode cuci otak ini.

Ia menjalani riset bersama para dokter di Jerman berdasarkan video yang diterima warta kota dari salah satu pasiennya.

Terapi cuci otak dengan Digital Substraction Angiography (DSA) diklaim bisa menghilangkan penyumbatan di otak.

Diketahui penyumbatan pada otak  menjadi penyebab stroke. Namun, metode cuci otak yang dikenalkan Terawan menuai pro dan kontra.

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), AM Hendropriyono, mendukung dokter Terawan Agus Putranto tetap menjalankan praktik melalui metode cuci otak.

"Saya sebagai pasien. Buat saya sebagai pasien yang penting sembuh. Masa bodoh itu teori diakui atau tidak, itu persoalan di sekolah. Yang penting rakyat sembuh. Kalau sampai dilarang praktik saya lari ke dukun, yang tidak diatur prakteknya," tutur Hendropriyono, ditemui di kantor KPU RI, Jumat (13/4).

Menurut dia, orang berkemampuan dapat secara mudah pergi berobat hingga ke luar, namun bagaimana apabila orang tidak mempunyai uang yang jumlahnya mencapai ribuan.

"Dan pemimpin capres-capres juga ada yang pasiennya, cuma tidak mau pada mengaku saja. Saya sih mengaku saja, yang mantan ada yang calon ada. Jadi menurut saya sudahlah yang penting rakyat, kalau rakyat banyak yang stroke pada mati ini ada orang bisa mengobatin apa salahnya diobatin, kalau teori salah itu ya masalah teorinya saja," ujarnya.

Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menjatuhkan sanksi kepada Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad berupa pemecatan sementara. MKEK hanya menyebut ada pelanggaran etik serius, tanpa menyebut lebih jelas pelanggaran yang dimaksud.

Dia menyayangkan rekomendasi tersebut. Menurut dia, pemerintah lebih berhak untuk mengeluarkan rekomendasi daripada lembaga swadaya masyarakat (LSM).

"Hanya pesan saya saat kami berada di titik kritis, yaitu barang siapa duduk di situ dia berkuasa, titik kritisnya rekomendasi praktek dokter, itu hak dan kewajiban pemerintah dalam hal ini Kemenkes. Bukan kewajiban LSM. LSM ini non government kok, yang punya kewenangan mengatur itu government," katanya.

Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie melalui akun Instagram-nya mengatakan, metode "cuci otak" oleh dokter Terawan telah mencegah maupun mengobati puluhan ribu orang dari penyakit stroke.

"Saya sendiri termasuk yang merasakan manfaatnya, juga Pak Tri Sutrisno, SBY, AM Hendropriyono, dan banyak tokoh/pejabat, juga masyarakat luas. Mudah menemukan testimoni orang yang tertolong oleh dr Terawan," tulis Aburizal di akun Instagram-nya @aburizalbakrie.id. Di sisi lain, terapi "cuci otak" dinilai belum melalui uji klinik dan belum terbukti secara ilmiah dapat mencegah atau mengobati stroke.

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mengaku kaget terhadap hukuman Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kepada dokter Terawan Agus Putranto.

Prabowo mengaku dirinya pernah menjalani terapi pengobatan dengan Dokter Terawan.

"Dokter Terawan, saya ini sudah tiga kali diterapi oleh dokter Terawan. Jadi saya merasa prihatin saya kaget," ujar Prabowo di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Kamis (5/4).

Mantan Danjen Kopassus tersebut mengaku telah tiga kali mengikuti terapi dengan pria yang menjabat Kepala RSPAD tersebut.

Prabowo mengatakan berkat jasa Dokter Terawan, dirinya menjadi fit kembali. Bahkan Prabowo mengaku bisa pidato hingga berjam-jam berkat terapi dokter Terawan.

"Saya Prabowo Subianto pernah dibantu oleh Dokter Terawan dan timnya sehingga sekarang fit. Saya bisa lima jam pidato. Tolong pak terawan itu aset bangsa," tegas Prabowo.

Prabowo meminta pihak IDI untuk mempertimbangkan ulang sanksi yang diberikan kepada Dokter Terawan. Baginya, Dokter Terawan merupakan aset bangsa yang seharusnya mendapatkan penghargaan.

"Harusnya kita bangga banyak orang luar negeri datang ke sini. Kita punya sesuatu terobosan di bidang kedokteran, teknologi, yang dirintis oleh seorang putra bangsa. Harusnya kita bangga," pungkas Prabowo.

Bantu Perdana Menteri

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus Putranto merupakan satu dari sekian dokter yang berprestasi.

Menurutnya, Terawan menjadi satu sosok yang dapat mengangkat nama baik rumah sakit, dokter dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan di Indonesia.

"Dokter Terawan merupakan salah satu Champion yang mampu mengangkat nama baik rumah sakit dan dokter di Indonesia," jelasnya melalui keterangan, Jakarta, Kamis (5/4).

Dijelaskan olehnya, Terawan bahkan sempat menyembuhkan salah seorang rekan SBY yang juga sebagai pimpinan suatu negara.

Padahal, pimpinan negara itu, sudah berkunjung ke rumah sakit di negara tetangga, namun, tidak kunjung sehat. Tetapi saat melakukan pengobatan ke dokter Terawan, dia sembuh.

"Alhamdulillah, perdana menteri itu, bisa sembuh," ucap SBY.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunda pelaksanaan putusan Majelis Etik yang menyatakan keanggotaan Kepala RSPAD, dokter Terawan Agus Putranto, di lembaga profesi dokter itu harus dicoret.

Ketua IDI, Ilham Oetama mengaku, penundaan sanksi ini tidak berkaitan dengan tekanan TNI Angkatan Darat, institusi tempat Terawan berdinas, ataupan para tokoh penting yang pernah menjadi pasien Terawan.

Sebelumnya, Sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang digelar enam kali sejak 2015 hingga Januari 2018 memutuskan bahwa Terawan melanggar sejumlah kode etik dalam praktek 'terapi cuci otak' melalui metode digital substraction angiogram.

Menurut Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar IDI, Abdul Razak Thaha, Terawan menggunakan haknya untuk membela diri dan mengajukan bukti-bukti baru, dengan hadir dalam forum pembelaan yang digelar IDI, pada 6 April lalu.

"Kami tidak ingin mengambil resiko atau gegabah. Kami butuh waktu untuk berproses mengambil keputusan yang adil," kata Abdul dalam jumpa pers IDI di Jakarta, Senin (9/4)

Sementara Ilham berkata, IDI sangat independen dapat menerapkan ketentuan internal kepada seluruh dokter di Indonesia yang bernaung di lembaganya."Ada selentingan kami takut dengan TNI AD. Kami tidak takut."

"Kami menghormati TNI AD dan Panglima TNI. Tidak ada perasaan takut dalam menegakkan kebenaran karena kami melindungi kepentingan masyarakat," tuturnya.

"Ini bukan persoalan institusi atau IDI berhadapan TNI AD. Masalah yang akan diselesaikan ini adalah masalah internal IDI dengan anggotanya. Kami tidak sedang berhadapan dengan mayor jenderal TNI, tapi antara pengurus IDI dengan anggotanya," ujarnya.

Ilham membantah pula bahwa langkah mereka terkait testimoni dan pembelaan sejumlah orang penting yang pernah menjadi pasien Terawan, termasuk mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, politikus Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie hingga pakar hukum, Mahfud MD, merasa lebih sehat dan bugar setelah menjalani diterapi oleh Terawan.

Adapun, Kepala Staf TNI AD, Jenderal Mulyono, menyebut tak ada satupun pasien Terawan yang meninggal dunia setelah 'dicuci otak'.

"Dokter Terawan kesalahannya di mana? Kecuali yang diobati mati kabeh. Ini gimana? Yang diobati merasa nyaman, enak, sembuh, berarti ilmunya benar," kata Mulyono, Rabu pekan lalu.

Sementara itu, Terawan lebih sering bungkam terkait kasus etik yang menderanya. Pada jumpa pers di Rumah Sakit Angkatan Darat, Rabu lalu, ia mengaku bingung pada putusan MKEK.

Ketika itu, Terawan juga mengaku belum menerima salinan putusan MKEK. Dua hari setelahnya, ia membela diri di forum yang digelar IDI.

Siapakah Dokter Terawan?

Mayjen TNI Terawan Agus Putranto adalah dokter yang saat ini mengepalai Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

Ia pernah menjadi anggota tim dokter kepresidenan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009.

Lahir di Yogyakarta dan tamat dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, ii lalu mengambil S2 spesialis radiologi di Universitas Airlangga, Surabaya, sebelum melanjutkan S3 di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Tapi di mata publik, ia dikenal dengan terapi 'cuci otak', yang menjadi dasar tesis S3-nya, yang diterbitkan di jurnal ilmiah Bali Medical Journal pada tahun 2016. Terapi tersebut menggunakan obat bernama heparin, yang digunakan untuk membersihkan penyumbatan di pembuluh darah yang menyebabkan stroke.

Beberapa sosok ternama mengaku pernah menjadi pasien dr. Terawan, antara lain mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, tokoh Partai Golkar, Aburizal Bakrie, Kombes Pol Krishna Mukti, dan mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang sampai memuji terapi 'cuci otak' di blog pribadinya.

Namun demikian, terapi ini tetap kontroversial di kalangan sesama dokter karena disebut belum melalui pembuktian secara ilmiah dengan uji klinis pada manusia.

Tetap Praktek

Kepada Bergelora.com dilaporkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang sebelumnya dikabarkan mengeluarkan surat pemecatan kini berubah sikap. IDI sekarang justru memperbolehkan Dokter Terawan buka praktik.

Ketua Umum Pengurus Besar IDI Ilham Oetama Marsis menegaskan dokter Terawan masih diizinkan membuka praktik.

Dokter yang dikenal dengan metode 'cuci otak' itu juga masih diizinkan tim HTA (Health Technology Assessment) melakukan penelitian.

"Kami menganggap masalah ini adalah masalah profesi anggota kami. Tetap dokter Terawan boleh melakukan praktik sebatas kompetensi yang diakui," ujar llham di hadapan anggota DPR saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR. (Web Warouw)